Advertisements

You are here: Home > Campaign > Bicara Ngalor-ngidul Soal Kebhinnekaan, Kemerdekaan dan Papua

Bicara Ngalor-ngidul Soal Kebhinnekaan, Kemerdekaan dan Papua

Bali - Indonesia

Bali – Indonesia / Dudarev Mikhail / Shutterstock.com

Bhinneka Tunggal Ika, terabadikan dengan gagah kalimat sakti ini dicengkraman cakar Sang Garuda, cukup lama saya mendengar kalimat ini, mungkin sejak saya belum bisa membaca dan menulis, telah lama kata ini mengisi perbendahraan kata di otak saya, saya pun kemudian bertanya, sudahkah saya memaknai “Bhinneka Tunggal Ika” ini sebagaiman mestinya, sebagaimana apa yang diinginkan oleh para bapak pendiri bangsa ketika menjadikan Bhinneka Tunggal Ika  sebagai motto negara kita tercinta, Indonesia.

Besok, bangsa kita merayakan Hari kelahiranya, 17 Agustus 68 tahun lalu Soekarno dan Hatta membacakan naskah proklamasi kemerdekaan bangsa ini, setelah cukup lama bangsa kita menjadi bangsa yang terjajah. Indonesia adalah sebuah bangsa besar yang tercipta dari keberagaman suku, bahasa, agama, ideologi dan budaya. Sebuah hal yang luar biasa ketika para pendahulu kita bisa menyatukan Nusantara yang berbeda-beda ini, 68 tahun telah berlalu dan bangsa kita masih kokoh bersatu, sungguh saya bangga menjadi bagian dari bangsa ini.

Berbicara mengenai kebanggaan menjadi warga sebuah negara, tak bisa lepas dari pertanyaan Bangsa ini milik siapa? bangsa ini adalah milik kita bersama, kita terlahir bersama, tumbuh bersama dan insyaAllah akan menjadi bangsa yang besar bersama-sama. Saudaraku sebangsa dari sabang sampai maluku, ingatkah saat kakek-kakek kita bersama-sama menghadapi agressor yang beringas, mulai dari si kulit putih yang pelit dan si kulit kuning yang kejam. mereka para pejuang bangsa mengesampingkan warna kulit, bahasa, agama, ideologi, budaya untuk berjuang bersama hingga akhirnya kita bisa merdeka.

Mungkin ada yang bertanya, di paragraf atas kenapa saya tulis “Saudaraku sebangsa dari sabang sampai maluku” kenapa ngga sampai Merauke, Papua?, tanpa mengurangi rasa respek saya pada para pejuang Trikora, sesungguhnya setelah merdeka dan terlepas dari penjajah, kita malah seperti menjajah saudara sesama manusia di Papua, padahal yang saya tahu salah satu ciri bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa memanusiakan manusia.  Bukan berarti saya tidak nasionalis ketika berbicara seperti ini, bahkan karena sayangnya saya dengan bangsa ini saya punya pandangan seperti ini.

Sependek yang saya tahu ketika proklamasi dikumandangkan 68 tahun lalu kita bersaudara dari sabang sampai maluku, tak ada Papua di situ. Memang sidang ke-2 BPUPKI 10 Juli 1945 menyatakan bahwa Papua masuk dalam rencana wilayah Indonesia, setelah terjadi perdebatan yang cukup sengit antara Hatta dengan Mohammad Yamin dan Soekarno. Saya sendiri mempunyai pandangan yang sama dengan bung Hatta, bahwa papua bukanlan bagian dari Nusantara, dan benar saja ketika ikrar kelahiran bangsa ini 17 Agustus 1945 Papua memang tidak termasuk dalam wilayah NKRI.

Papuan tribe in traditional clothes

Papuan tribe in traditional clothes / Byelikova Oksana / Shutterstock.com

Bila 20-30 tahun lagi mereka bangsa papua benar-benar bisa merdeka dari Indonesia bukanlah hal yang mengejutkan buat saya, dan kita juga seyogianya tak perlu bersedih, kehilangan sesuatu yang sebelumnya memang bukan milik kita itu suatu hal yang bisa, berbeda cerita bila kita dan mereka memang dilahirkan bersama menjadi sebuah bangsa. Ibarat sebuah manusia, Indonesia seperti merampas yang bukan haknya, hal itu membuat saya kadang sedikit berfikir bahwa bangsa kita kenapa tak kunjung menjadi bangsa yang besar karena masih menahan yang bukan haknya ini.

Saya meyakini tanpa Papua pun Indonesia tetaplah bangsa yang besar, bangsa yang kaya, bangsa yang disegani. Tentu akan sangat bahagia bila kelak kita bisa menyaksikan anak cucu kita bisa tumbuh bersama menjadi pemuda-pemudi kebanggaan bangsa yang cinta kasih, tak suka menindas dan jauh dari sifat merusak. 68 tahun berlalu kita bersama bisa menjaga kebhinnekaan ini, mari kita teruskan perjuangan ini, dan buat bangga para pendahulu kita pendiri bangsa Indonesia.

Referensi:

http://jurnalrepublik.blogspot.com/2007/07/stem-ala-bpupki.html
http://cerminpapua.com/index.php?option=com_content&view=article&id=226:papua-menggugat-aneksasi&catid=13:kaum-tak-bersuara&Itemid=30

Related Items

Advertisements

19 Comments

  1. ndop
    Aug 16, 2013 @ 22:34:10

    Yup. Saya miris tadi liat dramben di alun2 malah nyanyi lagu dangdut bukan lagu kebangsaan.

    Reply

    • Yos Beda
      Aug 18, 2013 @ 20:24:42

      iya mas, makna kemerdekaan dewasa ini lambat laun mulai bergeser dari apa yang dicita-citakan para pejuang dulu :’(

      Reply

    • D Sukmana Adi
      Aug 19, 2013 @ 10:38:38

      miris lagi setelah tirakatan ketika di kampung sebelah malah laginya woyo-woyo joss mas

      Reply

  2. jojoz
    Aug 17, 2013 @ 16:12:30

    wah ajakan mengikhlaskan papua ya. Berat nih.

    Reply

    • Yos Beda
      Aug 18, 2013 @ 20:25:02

      hehehe… iya sob, mengikhlaskan yang bukan hak kita

      Reply

  3. Ijal Fauzi
    Aug 19, 2013 @ 11:41:45

    Saya blm dapet apa yg disampaikan mas di postingan ini :/ intinya, kita harus bisa lepaskan Papua karena sejak awal merdeka mereka itu memang tidak dalam cakupan nusantara, betul ndak ya ? :/

    Tapi diluar itu, saya berharap Indonesia kelak jadi bangsa yang besar, dan saya juga kepengen ikut serta membesarkan negeri sendiri :) aamiin!

    Reply

    • Yos Beda
      Aug 19, 2013 @ 13:37:02

      iya mas, benar seperti yang mas Fauzi bilang, dalam postingan saya penekananya di situ..

      Reply

  4. kangjum
    Aug 19, 2013 @ 13:36:23

    Hmm…sulit.tentukan.pilihan!

    Reply

    • Yos Beda
      Aug 19, 2013 @ 15:44:32

      iya mas, emang pilihan yang sulit bagi sebagian orang :)

      Reply

  5. pututik
    Aug 19, 2013 @ 22:24:50

    tidak terbayang berapa biaya pembangunan yang kita keluarkan untuk papua dan juga habisnya pegunungan mereka oleh freeport

    Reply

  6. pnet
    Aug 20, 2013 @ 13:33:07

    makasih buat tulisannya…

    Reply

  7. Abed Nego
    Aug 21, 2013 @ 11:29:52

    Selagi kalau bisa kita mempertahankan papua yang kita pertahankan sangat disayangkan kalau mereka lepas dari kita.

    Reply

  8. Aksesoris Mobil Jakarta Utara
    Aug 23, 2013 @ 10:59:22

    muantab blognya

    Reply

  9. nonicemplon
    Aug 26, 2013 @ 22:29:50

    absolutely agree with you, bukan karena SDA papua yg dikeruk habis oleh pemerintah, tp karena memang sebenarnya kita yang mencaplok papua, memaksakan mereka utk mnj bagian dr NKRI. Kalau pendapat saya pribadi NKRI bukan harga mati. Indonesia itu terlalu besar untuk pemerintah kita. Terlalu besar karena dari sekian juta penduduk kebanyakan orang yg salah yg duduk di pemerintahan. Yg msh pny idealisme pun sepertinya terkoyak2 berjuang sendiri utk perubahan ke arah yg lbh baik.

    Reply

  10. rumah dijual di surabaya
    Aug 31, 2013 @ 07:49:07

    fotonya keren……..

    Reply

  11. Info Kesehatan
    Sep 01, 2013 @ 08:58:16

    Papua menurut kami bukan sekedar soal ikhlas atau tidak ikhlas merangkul atau melepaskan, namun lebih merupakan perjalanan politik bernegara. Rumit karena terlalu banyak kepentingan didalamnya …
    Yang penting bangun dan majukan masyarakat Papua … jangan cuma mau sumber daya alamnya saja.

    Reply

  12. Doni
    Sep 03, 2013 @ 14:36:01

    biarkan saja lah papua merdeka, Opini dan Faktaku

    Reply

  13. lukman hakim
    Sep 07, 2013 @ 11:04:11

    semangat kebangsaan saat ini memang sudah sangat mengkhawatirkan. setiap orang cenderung lebih mementingkan diri dan koleganya.

    Pendidikan kewarganegaraan dan kebangsaan harus menjadi perhatian kita kembali. Ekspos pendidikan yang satu ini memang dirasa sangat kurang, kalau tidak bisa disebut tidak ada sama sekali.

    Reply

  14. Lizar Arvian
    Jan 02, 2014 @ 15:13:36

    bagus mas tulisannya :)
    IMHO, kalau papua lepas dari Indonesia seharusnya Indonesia tidak usah mempersalahkan. kenapa? coba kita lihat saja kondisi papua sekarang. kekayaan alamnya yang luar biasa melimpah tidak benar-benar bisa dinikmati oleh masyarakat papua itu sendiri. kenapa? bobroknya birokrasi Indonesia berimbas juga ke papua, banyak juga orang2 papua “gendut” yang duduk di bangku pemerintahan. kekayaan alam papua saja seharusnya sudah bisa bikin Indonesia lebih kaya dari amerika. tapi dalam kenyataannya kita cuma kebagian cipratannya aja, dagingnya dinikmati orang asing dan kalangan elit pejabat yang punya kepentingan2 pribadi. kasihan rakyat2 kecilnya yang hidup jauh dari kata wajar. padahal mereka berhak atas kekayaan alam yang luarbiasa melimpah itu.

    walaupun di satu sisi memang benar papua tanpa Indonesia mungkin belum siap untuk berdiri sendiri. toh mereka yang hidup satu pulau saja masih sering perang suku dan budaya korupsi di kalangan elit, budaya mabok2an di kalangan bawah, papua juga mengalami yang namanya krisis moral. bagaimana mau membangun papua menjadi sebuah negara yang maju?

    menurut saya satu2nya solusi adalah sosok pemimpin yang seperti “Ratu Adil”. Pemimpin yang hanya mau mengabdi pada Tuhan sehingga mau mensejahterakan rakyatnya, bukan malah menindas. kalau sudah ada pemimpin seperti itu, bukan hanya papua, Asia bahkan dunia pun bisa kita satukan. pertanyaannya adalah kapankah sang Satria Piningit itu datang? kita tunggu sja, namun saya 1000% yakin bahwa Tuhan akan mengirim “Utusan-Nya” itu. Salam.

    Reply

Leave a Reply

*

Back to Top