Advertisements

You are here: Home > Opini > Dulu Saya Begitu Memuja dan Mengidolakan Jokowi, Namun Sekarang?

Dulu Saya Begitu Memuja dan Mengidolakan Jokowi, Namun Sekarang?

Janji Jokowi

Janji Jokowi

Saya mempunyai rasa kagum yang mendalam pada sosok Joko Widodo sebelum dia mencalonkan diri jadi Calon Presiden, bahkan dua tahun silam saat beliau terpilih menjadi Gubernur Jakarta saya sempat membuat sebuah tulisan berjudul “Jokowi Jadi Gubernur Jakarta, Setangguh Rubah Padang Pasirkah?” pada tulisan tersebut saya ungkapkan kekhawatiran saya bila ‘orang baik’ seperti Jokowi akan terlihat buruk ketika berada di lingkungan yang ‘salah’, sebuah kejadian yang mengingatkan saya pada jenderal perang era NAZI idola saya Erwin Rommel sang Rubah Padang Pasir, orang  yang baik di tempat dan waktu yang salah hingga membuatnya seakan terlihat buruk.

Sebagai orang yang pernah tinggal dan bekerja di Solo pada era kepemimpinan Jokowi, saya tak asing dengan sepak terjang Jokowi yang terkenal cekatan, bersih serta  jujur dalam memimpin Solo. Berkaca dari hal tersebut, tak heran bila intuisi (bisikan/kata hati) saya kepada beliau selalu baik, bahwa pria kelahiran 21 Juni 1961 ini adalah sosok manusia yang cerdas, lelaki yang bijaksana, dan pemimpin yang jujur. ‘Orang baik’, kesan itu yang tak dapat saya tolak ketika melihat sosok Joko Widodo waktu itu, mungkin saja sekitar tahun 2020-an beliau akan menjadi pemimpin yang baik untuk Negeri ini, pikir saya saat itu.

Namun sekarang apa yang saya lihat dari jokowi menjadi berbeda, tepatnya sejak beliau mencalonkan diri jadi capres di pilpres 2014 nanti, Dengan mencalonkan diri menjadi Presiden pada pilpres tahun ini saya melihat Jokowi telah berbohong, melanggar janji dan menghianati amanah yang diberikan pada dia saat terpilih menjadi Gubernur DKI jakarta. Ada yang bilang bahwa nyapresnya Jokowi adalah keinginan rakyat, saya tak menyangkalnya, ada sebagian masyarakat yang terpesona dan kagum dengan gaya kepemimpinan Jokowi saat menjadi walikota Solo, sayapun termasuk yang kagum dan berharap style kepemimpinan waktu menjadi walikota Solo akan berguna ketika menjadi Presiden Indonesia pada gilirannya nanti, ketika beliau sudah siap dan PRnya di Jakarta sudah dituntaskannya.

 

Janji, iya Janji!!! itulah yang membuat saya kecewa, andai saja dulu beliau tidak berjanji.  Kita tentu tahu bagaimana beliau dulu berjanji untuk mempimpin Jakarta selama 5 tahun penuh, Kita pastinya juga tak lupa ketika Jokowi ditanya awak media soal survei yang menempatkan dirinya di urutan teratas daftar capres selalu menanggapinya dengan dingin dan berkata, “ngga mikir survei capres mau konsentrasi mengurus masalah rusun, monorel, MRT dan banjir jakarta,” kalimat barusan menjadi runtuh pada Jumat, 14 Maret 2014 silam ketika Megawati Soekarnoputri membacakan pemberian mandat pencapresan Joko Widodo.

Saya yang bukan warga jakarta sedikit banyak bisa merasakan kekecewaan warga jakarta yang dulu memilihnya menjadi Gubernur, pastinya saat mereka memilih pria lugu dari kota Solo untuk memimpin Jakarta dengan harapan yang besar, jika diibaratkan warga jakarta yang dulu memilihnya adalah seorang wanita lajang yang sedang mengadakan sayembara mencari suami, kemudian Jokowi ikut sayembara tersebut dan memenangkan hati sang wanita dengan janji setianya. Jokowi akhirnya menikahi wanita ini, pria yang di mata wanita ini adalah seorang yang lugu dan baik hati berjanji akan menjadi imamnya dan tidak berpindah ke lain hati.

Baru seumur jagung kemesraan sang wanita (warga jakarta) dengan sang pria lugu (Jokowi) tiba-tiba sang pria sudah bersiap-siap untuk meninggalkan si wanita, mengingkari janji setia yang pernah diucapkannya, hati wanita mana yang tak terluka. Pria lugu yang sangat diharapkan menjadi imam keluarga malah akan pergi begitu saja, meninggalkan permasalahan keluarga yang belum terselesaikan. Andai saja dulu sang wanita tahu bahwa pria lugu ini akan mengingkari janji setianya, masihkan si wanita memilihnya menjadi imam/pemimpin keluarganya?

Dalam pendangan saya yang awam ini, syarat menjadi pemimpin yang baik itu sederhana, yaitu jujur, menepati janji dan memegang amanah (kepercayaan), ketiga aspek tersebut sudah tidak saya temukan lagi ada pada sosok beliau, Ir. H. Joko Widodo, setidaknya sampai tulisan ini saya tulis seperti itu yang saya dapati. Berbeda sekali dengan Jokowi 3-4 tahun lalu, Sepanjang yang saya ingat, waktu menjabat sebagai walikota Solo Jokowi sangat dicintai warganya dan menjadi kebanggaan buat mereka mempunyai pemimpin yang bersih, tegas dan jujur seperti beliau dulu, mungkin beliau telah berubah.

Benar, setiap orang akan berubah, ada yang baik jadi buruk, ada yang buruk jadi baik, ada yang baik jadi makin baik, ada yang buruk jadi makin buruk. Saya jadi bertanya-tanya, apakah benar Jokowi telah berubah? apakah malah sebenarnya beliau tidak berubah dari dulu? artinya memang Jokowi kadang sedikit nakal dalam hal kejujuran sejak dari dulu, sejak di Solo? hati orang siapa yang tahu, satu hal yang pasti saya lihat dari jokowi saat masih di Solo adalah bahwa rakyat Solo begitu mencintai dan bangga akan dirinya, sayapun saat itu sebagai warga pendatang di solo ikut bangga.

Kejujuran, terlepas dari pahala dan dosa atau surga dan neraka adalah sebuah keindahah, keindahan tersebut telah dinafikan Jokowi, ‘mau tak mau’ saya sebagai pemuja keindahan yang bernama kejujuran harus menghilangkan beliau, Jokowi dari daftar idola dan panutan saya. Apakah artinya saat ini saya jadi benci terhadap Joko Widodo, jujur sejujur-jurnya ngga ada secuilpun rasa benci pada beliau, tak cinta bukan berarti benci dan juga sebaliknya tak benci bukan berarti cinta, ada tempat nyaman di antara kedua rasa benci dan cinta.

Terus apa tujuan saya menulis ini? apakah ingin menjatuhkan Jokowi? ngga lah! saya hanya ingin mengeluarkan uneg-uneg saya saja, hal yang biasa ketika saya mengidolakan atau menaruh respek pada seseorang lalu pada kemudian hari saya tak mengidolakan orang tersebut lagi. Hari ini 30 April 2014, saya masih meyakini bahwa Jokowi belum pantas untuk menjadi Presiden, apakah keyakinan saya ini final, tentu saja tidak, di paragraf atas saya sudah tekankan setiap orang bisa berubah, apa yang saya yakini benar sekarang bisa menjadi salah pada kemudian hari, yang pasti bila “Coblosas Presiden” berlangsung hari ini saya pastikan tak akan mencoblos Om Joko :).

Yos Beda – 30/4/2014

Referensi sumber:

http://megapolitan.kompas.com/read/2012/09/20/13522152/Jokowi.Janji.Pimpin.Jakarta.Sampai.Tuntas http://news.detik.com/read/2012/09/20/130640/2027550/10/jokowi-tegaskan-komitmen-5-tahun-pimpin-jakarta http://www.merdeka.com/peristiwa/jokowi-komitmen-jadi-gubernur-dki-5-tahun.html http://jakarta.okezone.com/read/2012/09/03/505/684079/jika-terpilih-jokowi-janji-tuntaskan-masa-jabatan/large http://www.antaranews.com/berita/330724/jokowi-tak-berminat-ikut-pilpres-2014 http://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/12/01/06/lxd9to-jokowi-saya-tidak-pantas-jadi-capres-ketua-rt-saja http://jabodetabek.tvonenews.tv/berita/view/54880/2012/04/01/jokowi_janji_beri_fasilitas_pkl_di_dki.tvOne http://www.antaranews.com/berita/333089/jokowi-janji-konsentrasi-benahi-pasar http://www.tempo.co/read/news/2012/09/23/099431370/Jokowi-Janji-Bangun-Stadion-untuk-Persija http://www.tempo.co/read/news/2012/06/24/229412598/1000-Busway-Janji-Jokowi http://poskotanews.com/2012/09/22/jokowi-janji-bangun-rusun-di-atas-pasar/ http://poskotanews.com/2012/06/29/jokowi-janji-sejahterakan-pengurus-rtrw/ http://www.solopos.com/2012/09/24/taufik-kiemas-jokowi-jangan-umbar-janji-332073 http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/12/09/22/maqtqn-jokowiahok-janji-datangkan-1000-unit-busway-dalam-setahun http://poskotanews.com/2012/09/30/jokowi-jangan-lagi-berhenti-di-tengah-jalan/ http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2012/09/120924_jokowisolo.shtml

Related Items

Advertisements

130 Comments

  1. Virmansyah
    Apr 30, 2014 @ 20:00:09

    Kalau menurut sudut pandang saya pribadi nih Mas Yos, Pak Jokowi itu semacam ada balas budi terhadap “motor” yang telah memboncengkannya.
    Namun dilain sisi, Pak Jokowi juga berpikir benar juga kalau saya jadi presiden nanti justru akan lebih mudah mengatur semuanya apalagi Jakarta.
    Meskipun beliau juga merasa ada “janji” dengan daerah yang dipimpinnya saat ini.
    Kesimpulannya adalah saya juga tidak terlalu fanatik dengan Pak Jokowi maupun yang lainnya. Saya hanya masyarakat biasanya yang hanya bisa mendukung dari bawah dan berdoa siapapun yang nanti memimpin negeri ini, benar-benar orang yang mengerti. Mengerti mana yang benar dan mana yang salah, mana yang harus dilanjutkan mana yang harus diganti.
    Kita tak bisa mencari memimpin yang sempurna. Pemimpin yang sempurna itu HOAX menurut saya. Oleh karena itu dibutuhkannya Menteri-Menteri dan elemen lain untuk mengisi kekurangan itu.
    Kita tunggu saja siapa besok yang akan memimpin negeri ini.

    Reply

    • Yos Beda
      Apr 30, 2014 @ 20:12:12

      Menarik mas Virman, kalau esensi janjinya adalah membenahi jakarta tentu bukan pilihan yang 100% salah ketika Jokowi jadi nyapress, karena ktika jadi capress kelak boleh jadi membenahi jakarta untuk lebih baik jadi lebih mudah dengan posisi om Joko jadi presiden, namun bila janji yang diucapkan adalah untuk “tidak meninggalkan jabatan/atau berhenti ditengah jalan dari posisi gubernur” langkah nyapresnya dari sudut pandang saya salah, terlepas setelah om joko jadi presiden jakarta jadi lebih baik, janji yang diingkari tidak dapat terlupakan.

      Iya bener Hoax 100% bila ada manusia sempurna, saya sendiri sebagai muslim hanya mengakui sang Nabi adalah manusia paling sempurna. Doa kita untuk Ibu Pertiwi nanti adalah semoga segera diberikan pemimpin yang cerdas, jujur dan Amanah. Aamiin ya.. :)

      Reply

  2. Fajar Maulana
    Apr 30, 2014 @ 20:08:15

    jokowi sudah gila kekuasaan,, apa pun dilakukan nya setelah menjadi gubernur DKI dengan pencitraan nya,, semua karena ada yang ngatur jadi jokowi tinggal “iya-in” aja.. surakarta gak selesai masa jabatan nya sekarang Jakarta juga mau gak mau selesai juga? meninggalkan jakarta dengan permasalahan yg ada,, “JANJI MU MANA JOKOWI”

    Reply

    • Yos Beda
      Apr 30, 2014 @ 20:23:05

      Saya sendiri belum berani mengamini adanya orang-orang yang mengatur di belakang jokowi mas Fajar, tapi kalau dilihat secara menyeluruh dari proses beliau waktu jadi walikota, terus mobil ESEMKA, kemuduian nyagub lalu nyapres, memang seperti ada tim sutradaranya, hehehehe, yang pasti sudah terbukti adalah janji jokowi yang tidak dia tepati, dan semua janji-janji itu terekam/terdokumentasi dengan jelas di era digital seperti sekarang ini.

      Reply

  3. budiono
    Apr 30, 2014 @ 20:53:23

    kabarnya sekarang para blogger lagi marak dapat job review negatif soal jokowi, dari lawan politiknya sih tentunya. buat saya jokowi dijelek-jelekin dengan sejuta fitnah seperti sekarangpun tidak akan menyurutkan minat orang buat memilih dia.

    katakanlah jokowi jelek 100%, tapi lawannya jelek 200%, maka kejelekan jokowi masih lebih sedikit dibanding yang lain

    Reply

    • Yos Beda
      Apr 30, 2014 @ 21:35:48

      Mas budiono berkata:
      “buat saya jokowi dijelek-jelekin dengan sejuta fitnah seperti sekarangpun tidak akan menyurutkan minat orang buat memilih dia.”

      Tanggapan saya:
      ada dua macam kok mas,
      1. Yang jelek-jelekin beneran, dalam arti mencari-cari kesalahan kalaupun tak menemukanya kadang sampai merekayasa kesalahan. yang seperti ini biasanya hanya bermain di ranah asumsi-asumsi dengan sedikit bukti atau bahkan tanpa bukti

      2. Ada juga yang tidak menjelek-jelekan hanya mengungkap fakta yang ada, saya sendiri niat menulis ini untuk mengungkap fakta soal “janji jokowi” saja, yang terdokumentasi rapi di dunia maya baik berupa video atau artikel. jadi ketika ditanya jokowi bohong mana buktinya? itu ada tinggal di buka link-linknya, begitu hehehehe…

      Mas budiono berkata:
      “katakanlah jokowi jelek 100%, tapi lawannya jelek 200%, maka kejelekan jokowi masih lebih sedikit dibanding yang lain”

      Tanggapan saya:
      Kalau yang ini sangat-sangat relatif di mata saya mas, seperti orang ada yang berkata bahwa mencuri itu bisa saja berbeda penafsiranya hanya karena besarnya barang yang dicuri, kalau saya sih mencuri itu baik besar atau kecil namanya tetap mencuri, begitu juga berdusta, baik sebuah dusta yang kecil maupun besar namanya tetap dusta dan merupakan perbuatan tercela, tapi ada juga yang berkata berbohong dikit bolehlah demi kebaikan,

      Dari sinilah ketika saya maksudkan terlalu relatif ketika kita coba menghitung kejelekan si A atau si B dengan prosentase tertentu, hasilnya akan berbeda pada setiap orang, ada sebagaian orang yang begitu memberi toleransi super luas pada para pembohong ada juga yang tidak, saya snediri ketika disuruh memberikan berapa parah tingkat keburukan jokowi dengan dustannya ini? saya akan memberikan nilai tinggi (10 misal) namun saya yakini adak ada juga yang memberikan nilai rendah (5 misal) untuk keburukan jokowi karena berbohong ini.

      Reply

  4. ainiras
    Apr 30, 2014 @ 21:19:07

    yang paling saya sayangkan menurut pribadi saya adalah ketika jokowi membawa esemka ke jakarta dan dengan lantang beliau ingin menaikan potensi buatan dalam negeri bidang apapun..jujur saya salut dan ikut mendukung beliau, namun sayang saat ia terpilih menjadi gubernur dki1 ia memilih jenis transportasi busway buatan cina, bahkan rencana monorail pun didatangkan dari negeri tiongkok itu..lalu apakah semuanya hanya pencitraan saja? kalopun indonesia tidak bisa bikin bus sendiri..mengapa tidak bekerjasama dengan hyno,mercedes dll yang ada di indonesia..walaupun perusahaan itu milik asing, namun perakitan nya adalah tenaga kerja kita sendiri..ini sedikit pendapa dari saya

    Reply

    • Yos Beda
      May 01, 2014 @ 06:02:58

      Sebuah komentar yang menarik kak Aniras, saya malah ngga begitu mempermasalahkan soal mobil ESEMKA yang sudah saya ketahui dari dulu bahwa itu adalah mobil rakitan yan dibeli dari Tiongkok, dan saya tak kecewa berat dengan Jokowi juga akan hal itu, pikir saya saat itu, yah mungkin anak-anak SMK harus melalui proses itu dulu, maksudnya hanya sekedar merakit hingga pada waktunya nanti tak hanya meraktinya saja tapi membuat beberapa komponen-komponennya..

      Reply

    • jan
      May 03, 2014 @ 11:51:33

      ikutan nimbrung. :)
      soal mobil esemka, saya pun merasa itu adalah pencitraan jokowi. sampai-sampai membuat saya yakin, pencitraan sby yang luar biasa besar, masih kalah dibandingkan pencitraan jokowi.

      Reply

  5. ihsan
    May 01, 2014 @ 00:07:23

    Janji sama ambisi mana yang lebih utama dilaksanakan? Jawaban saya adalah janji karena ambisi menyangkut ego dan janji jika disamakan dengan hutang maka harus dipenuhi. Dari sini kekecewaan timbul karena janji sudah diingkari maka jaminan untuk amanah nanti ketika menjabat sebagai presiden probabilitasnya berkurang. Namun demikian jika Jokowi terpilih atau siapapun nantinya, saya kira kita doakan saja semoga amanah. Saya pribadi tidak akan memilih Jokowi

    Reply

    • Yos Beda
      May 01, 2014 @ 06:08:44

      Waah komentar mas Ihsan ini sama dengan yang saya ingin sampaikan di tulisan ini, saya hanya menyoroti soal janji saja kok karena di dalam “janji yang tidak diingkari” tersimpen aspek-aspek pemimpin yang baik seperti kejujuran dan amanah (memegang amanah). Bila Om Joko akhirnya terpilih memang yang bisa kita lakukan adalah berdoa, agar beliau jadi pemimpin yang amanah! :)

      Reply

  6. abednego
    May 01, 2014 @ 00:55:29

    Sekadar catatan saja : Menilai tokoh, siapapun itu memang harus proporsional. Kritik itu penting untuk penyadaran masyarakat sehingga tak hanyut dalam arus uforia. Soal kepopuleran Jokowi, kita tak perlu menyalahkan media. News value Jokowi dimulai karena dia merelokasi PKL tanpa bentrok lantaran Solo itu ‘sumbu pendek’. Sebenarnya banyak pemimpin daerah lain yang lebih dari Jokowi. Namun, mereka memimpin di kota/kabupaten yang tak serawan Solo.

    Reply

    • Yos Beda
      May 01, 2014 @ 06:11:57

      Nah makasih mas Abed sudah mampir, saya sepakat banget dengan pernyataan mas Abed ini:

      “News value Jokowi dimulai karena dia merelokasi PKL tanpa bentrok lantaran Solo itu ‘sumbu pendek’”

      Saya pun termasuk yang kagum pada beliau pada prestasinya soal relokasi PKL itu, terlepas di kemudian hari saya jadi biasa saja melihat Jokowi karena telah ingkar janji… hehehe

      Reply

      • sams
        May 12, 2014 @ 10:39:38

        kalau memang di solo berhasil kok saya tidak dengan ada pernghargaan nasional atau internasional ? bandingkan dengan risma atau heryawan yang gubernur jabar… seabgrek penghargaan nasional dan internasional… tapi tak seheboh jokowi..
        saya maerasa media masa tidak adil saja… coba lihat ketika kemarin jakarta banjir,, adalah TV koran yang memberitakan Jokowi ? bisa dicek dia rsip berita semua koran dan tv mana ada berita tentang jokowi yang baerkaitan dengan banjir jakarta?? kemana jokowi waktu banjir ? disemubunyikan oleh media….. supa tidak kecipratan banjir dan citranya moncer terusss…

        Reply

  7. giewahyudi
    May 01, 2014 @ 04:04:50

    Mas Yos yang baik, jangan mau diperalat untuk black/negative campaign seperti ini. Ini akan menjadi portofolio sampeyan lho. Terima kasih.

    Reply

    • Yos Beda
      May 01, 2014 @ 06:19:34

      Wah, kok mas Gie ber-suudzon kepada saya ya, padahal artikel ini murni uneg-uneg lho.. bahkan sayapun bangga dengan tulisan ini, Ibu saya mungkin juga bangga dengan protofolio tulisan anak laki-lakinya ini, kenapa bangga? karena tidak ada secuilpun kebencian dari tulisan saya di atas bila mas gie mau mencermati.

      Bila mas Gie baca tulisan-tulisan saya sebelum-sebelumnya, saya hampir selalu menggunakan kata ganti “beliau” untuk mengungkapkan rasa hormat kepada orang yang saya hormati, pada panutan, mantan panutan, idola atau mantan idola, bagaimanapun juga mereka ada yang pernah atau masih saya idolakan.

      Seperti yang saya tulis di paragraf terakhir, hal yang biasa ketika saya mengidolakan atau menaruh respek pada seseorang lalu pada kemudian hari saya tak mengidolakan orang tersebut lagi. Apakah saat ini saya benci terhadap Joko Widodo, jujur sejujur-jurnya ngga ada secuilpun rasa benci pada beliau, tak cinta bukan berarti benci dan juga sebaliknya tak benci bukan berarti cinta, ada tempat nyaman di antara kedua rasa benci dan cinta.

      Reply

      • Feri Yunus Madao
        May 01, 2014 @ 19:39:38

        Biar nggak dituduh macam2… kalau bisa mas Yos juga bikin postingan uneg-uneg CAPRES lainnya. Maklum lah mas… tahun ini khan tahun politik, jadi segala uneg2 yang menyangkut salah satu capres atau tokoh politik tertentu, akan selalu dihubung2kan dgn black campaign.

        Reply

        • Yos Beda
          May 01, 2014 @ 20:12:52

          Saya sendiri bingung mas kalau suruh nulis uneg-uneg capres lain juga, secara saya ngga ada ikatan emosional ke yang lain, ngefans aja kagak, beda ma Jokowi yang dulu saya gandrungi.. ntar nulis soal capres lain jadi terkesan tendensius takutnya.. lihat deh ntar..

          Sebagai pembanding saya ada link artikel berjudul “Alasan Mengapa Saya Tidak Memilih Prabowo” yang ditulis oleh blogger bernama Candra Wiguna dari Bali kalau ngga salah, saya ngga kenal sih, hehehe… ini URL linknya ~> http://candrawiguna.com/alasan-mengapa-saya-tidak-memilih-prabowo/

          Untuk yang tulisan tentang capres Aburizal Bakrie saya belum ada referensi mas Feri, tapi ngga perlu referensi tentu kita masih ingat soal boneka yang heboh beberapa waktu lalu :D

          Reply

    • Candra Wiguna
      May 11, 2014 @ 19:12:07

      Jangan takut membahas politik, membahas politik itu perlu, dan jangan takut salah. Selama ini kita gagal memilih pemimpin karena masyarakatnya buta politik, apatis alias masa bodo, takut bicara, takut mengungkapkan pendapat.

      Saya pernah ke Jawa Barat, masyarakat disana gak ngerti politik, tidak tahu bedanya eksekutif dan legislatif, lebih parah, ketika mereka sudah sadar tidak tahu tentang politik, mereka bukannya mencari tahu tapi malah lebih memilih apatis. Akibatnya apa? Ketika ada pemilu (termasuk pemilu tahun ini) yang terpilih bukan kalangan akademisi atau birokrat, tapi artis yang tidak mengerti tentang kepemimpinan, atau lebih parahnya keluarga Ratu Atut yang sudah jelas2 korup, dan Aceng Fikri yang selama ini dianggap tidak bermoral.

      Kita seharusnya senang ketika ada yang menulis seperti ini, sangat saya apresiasi sekalipun berbeda pendapat, ini artinya ada yang peduli pada politik bangsa ini, ada yang ingin agar orang lain juga bisa memilih pemimpin terbaiknya.

      Reply

  8. Basri Abdullah
    May 01, 2014 @ 04:21:23

    Politik memang seperti itu mas, harus tunduk dengan yang membesarkannya, meskipun itu tidak sesuai dengan asanya.

    Reply

    • Yos Beda
      May 01, 2014 @ 06:26:04

      Iya mas, tak saya sangkal memang politik (tokoh politik) kadang harus tunduk pada yang membesarkanya seperti partainya, namun tetap ada kok politikus yang idealis bahkan tak jarang berani melawan perintah atau kebijakan partainya walau jabatan atau kedudukanya adalah taruhannya.

      Reply

  9. arip
    May 01, 2014 @ 11:27:28

    Orang baik yg berada di lokasi dan waktu yg salah. Juga ‘kendaraan’ yg salah.

    Reply

    • Yos Beda
      May 01, 2014 @ 11:36:18

      Hingga membuatnya tak hanya terlihat salah, tapi juga terbiasa berbuat salah..
      semacam “orang akan bisa karena terbiasa”, hehehe

      Reply

  10. endar
    May 01, 2014 @ 11:47:26

    dalam berpolitik mungkin hal seperti itu sudah biasa, jangan kaget mas. politik itu memang kejam..

    Reply

    • Yos Beda
      May 01, 2014 @ 11:49:20

      Mungkin politik itu adalah kakak iparnya ibu tiri ya mas ya, makanya kejam banget, hehehehe

      Reply

  11. dobelden
    May 01, 2014 @ 12:08:31

    menarik… dan lebih menarik lg jk yg diulas tidak hanya capres jokowi, supaya suudzon mas gie bisa mendapat sanggahan yang pas..

    Reply

    • Yos Beda
      May 01, 2014 @ 14:15:25

      Makasih mas Doelden udah mampir, gini mas, kenapa saya menulis Jokowi tentu mas tahu latar belakangnya yang sudah saya paparkan di paragraf pertama, jadi bukan ujug-ujug saya nulis tentang jokowi ya, untuk capres lain bisa jadi kalau sempet saya akan menulisnya juga, walau saya juga bingung bisa ngga dibuat tulisan model curhat kaya tulisan ini, karena dengan capres selain Jokowi saya ngga mempunyai keterikatan emosional semacam ngidol atau semacamnya dulu.. hehe..
      Sebagai pembanding saya ada link artikel berjudul “Alasan Mengapa Saya Tidak Memilih Prabowo” yang ditulis oleh blogger bernama Candra Wiguna dari Bali kalau ngga salah, saya ngga kenal sih, hehehe… ini URL linknya ~> http://candrawiguna.com/alasan-mengapa-saya-tidak-memilih-prabowo/
      Untuk yang tulisan tentang capres Aburizal Bakrie saya belum ada referensi malah, mungkin bisa berbagi kalau mas Dobelden ada bacaan-bacaan soal Aburizal Bakrie

      Reply

  12. Hanif Mahaldi
    May 01, 2014 @ 13:58:27

    janji oh janji, setahu saya, janji harus transparan, artinya tidak ada mutlak dibaliknya keinginan rasa untuk melakukan hal lain di dalam janjinya. Misalnya janji mengembalikan uang pinjaman, ya kembalikan. Tidak berarti malah berjanji yg lain lagi dengan mengatakan janji yg pertama akan terlunasi jika janji kedua diberikan.

    lebih enak bilang, “saya usahakan, tapi gak janji loh” walau akhirnya terpenuhi atau setengah hati mas. hehe.

    Reply

    • Yos Beda
      May 01, 2014 @ 14:41:21

      Bener mas Hanif, bijaknya kita melihat dari esensi atau isi janjinya.

      Bila janji jokowi adalah membenahi jakarta tentu bukan pilihan yang 100% salah ketika Jokowi jadi nyapress, karena ketika jadi capress kelak boleh jadi membenahi jakarta untuk lebih baik jadi lebih mudah dengan posisi om Joko jadi presiden.

      Namun bila janji yang diucapkan adalah untuk “tidak meninggalkan jabatan/atau berhenti di tengah jalan dari posisi gubernur” langkah nyapresnya dari sudut pandang saya salah, terlepas setelah om joko jadi presiden jakarta jadi lebih baik, janji yang diingkari tidak dapat terlupakan.

      Penggalan dari artikel saya di atas:

      “”jika diibaratkan warga jakarta yang dulu memilihnya adalah seorang wanita lajang yang sedang mengadakan sayembara mencari suami, kemudian Jokowi ikut sayembara tersebut dan memenangkan hati sang wanita dengan janji setianya. Jokowi akhirnya menikahi wanita ini, pria yang di mata wanita ini adalah seorang yang lugu dan baik hati berjanji akan menjadi imamnya dan tidak berpindah ke lain hati.

      Baru seumur jagung kemesraan sang wanita (warga jakarta) dengan sang pria lugu (Jokowi) tiba-tiba sang pria sudah bersiap-siap untuk meninggalkan si wanita, mengingkari janji setia yang pernah diucapkannya, hati wanita mana yang tak terluka. Pria lugu yang sangat diharapkan menjadi imam keluarga malah akan pergi begitu saja, meninggalkan permasalahan keluarga yang belum terselesaikan. Andai saja dulu sang wanita tahu bahwa pria lugu ini akan mengingkari janji setianya, masihkan si wanita memilihnya menjadi imam/pemimpin keluarganya?” :)

      Reply

      • Hanif Mahaldi
        May 03, 2014 @ 21:57:45

        hehe, bener2, lucu juga analoginya mas yos. saya juga berpikir, “belum tentu” jika jokowi jadi presiden ya “sempat” membenahi jakarta. Soalnya kota2 dan daerah lain juga “minta” perhatian dirinya untuk dibenahi seperti jakarta dan solo.

        elegi oh elegi, dilema oh dilema, semoga kita tidak buta logika, dan mengedepankan nurani hati. :) semoga jika beliau terpilih pun, janjinya tidak lagi sebatas menutupi janji lainnya. Saya memilih siapapun yg menang bisa amanah. Kita hanya minta amanah. Simple, sederhana, itu saja.

        Reply

  13. ysalma
    May 01, 2014 @ 14:06:40

    Janji adalah hutang yang harus dibayarkan,
    bisa jadi Jokowi memilih alur lain untuk melunasi hutangnya itu,
    masalahnya kendraan yang dipakai Jokowi ini mempunyai persepsi yang sama tidak terhadap Janji yang sudah terlanjur terucap sebelumnya itu :)
    *Siapapun presiden terpilih, harus amanah dan mendahulukan kepentingan rakyat dan bangsa diatas kepentingan golongan.

    Reply

    • Yos Beda
      May 01, 2014 @ 14:45:47

      Iya mbak, Siapapun presiden terpilih, harus amanah dan mendahulukan kepentingan rakyat dan bangsa di atas kepentingan golongan. Doa kita untuk Ibu Pertiwi nanti adalah semoga segera diberikan pemimpin yang cerdas, jujur dan Amanah. Aamiin ya..:)

      Reply

  14. Gembiz
    May 01, 2014 @ 15:37:39

    Menarik sekali ulasannya bang Yos (y)

    Reply

    • Yos Beda
      May 01, 2014 @ 18:26:12

      Sekedar curhat kok, makasih mas Gembis :)

      Reply

  15. @bangsaid
    May 01, 2014 @ 15:42:20

    Waktu Pilgub saya juga dukung Jokowi. ETapi, pas nyapres ini… entahlah. Sedikit banyak saya punya pemikiran yang sama dengan mas Yos soal beliau

    Reply

    • Yos Beda
      May 01, 2014 @ 18:34:17

      Iya mas, wajar kok saat pilgub dulu banyak yang menaruh harapan besar pada beliau termasuk mas Said, dan akan sangat indah bila Jokowi bisa menyelesaikan masa tugasnya ya, saya yakini juga warga jakarta yang dulu memilihnya akan sangat “memaklumi” bila masalah-masalah utama seperti banjir atau kemacetan belum terselesaikan 100% ketika masa jabatan 5 tahun Jokowi selesai. Sayang, di tengah jalan Gubernur kebanggan warga Jakarta tersebut memutuskan untuk nyapres, yang artinya telah mengingkari janji untuk menuntaskan masa jabatanya :(

      Reply

  16. D Sukmana Adi
    May 01, 2014 @ 16:36:27

    menungso sing di cekel apane mas ? :D :)

    Reply

    • Yos Beda
      May 01, 2014 @ 18:55:52

      Sing dicekel omongane mas, yen jarene bapak-ibukku sih ngono, hehehehe

      Reply

  17. Miftah Afina
    May 01, 2014 @ 17:02:18

    Sudah banyak juga yang kecewa seperti yang mas ceritakan. Mmm… mungkin saya salah satu di dalamnya. Btw, analogi yang bagus, di bagian tengahnya. :)

    Reply

    • Yos Beda
      May 01, 2014 @ 19:05:45

      Iya mas Miftah, para mantan pemujanya seperti saya, kecewa adalah hal yang lumrah untuk menyikapi Jokowi saat ini
      namun yang pasti, jangan sampai jadi rasa benci ya, hehehe

      Reply

  18. jan
    May 01, 2014 @ 17:49:50

    mungkin berbeda pemikiran dengan para jokowi haters, saya justru melihat sebuah perubahan (baik) dalam kepemimpinan singkat jokowi di jakarta. bolehlah para haters maupun lawan politik menganggap jokowi ingkar. tapi, saya rasa mereka yang menyebut jokowi gagal adalah orang-orang berpaham praktis–yang tidak paham akan proses.

    saya bukanlah jokowi lovers. tapi saya tidak menutup mata akan kepemimpinan baik dari wakil rakyat manapun. jikalau di pilpres nanti pak jk mencalonkan diri, saya akan memilih jk daripada jokowi. karena saya jk lover :)

    Reply

    • Yos Beda
      May 01, 2014 @ 19:14:03

      Betul mas Jan, soal arah kebaikan dalam masa kepemimpinan Jokowi di jakarta memang ada kok, banyak warga jakarta yang telah memberikan testimoni positif soal kepemimpinan Jokowi di Jakarta, alangkah indahnya bila kebaikan-kebaikan tersebut Jokowi lanjutkan hingga masa jabatanya habis, dan saya yakin masyarakat jakarta menginginkan hal tersebut juga, ingin dipimpin pak Joko sampai selesai masa jabatanya. sayang seribu sayang Jokowi memilih untuk tidak melanjutkan masa jabatannya dengan mencalonkan (menerima dicalonkan) jadi capres dan lupa pada janjinya terdahulu untuk menyelesaikan masa jabatannya.

      Reply

      • jadug
        May 02, 2014 @ 00:43:55

        nah kalo bukan cuma jakarta yang diurus bagaimana mas ? bukankah itu lebih baik ?

        Reply

        • Yos Beda
          May 02, 2014 @ 08:10:16

          Saya kok ngga nangkap dengan jelas maksud dari pertanyaan mas Jadug ya, maaf, hehehe

          Reply

        • jan
          May 03, 2014 @ 11:29:55

          maksudnya mas jadug itu, kepemimpinan bagus jokowi di jakarta akan bisa dirasakan oleh rakyat di wilayah lain jika jokowi jadi presiden, karena wewenangnya lebih besar. cmiiw.

          Reply

          • Yos Beda
            May 03, 2014 @ 18:13:12

            Ooo itu to maksudnya, seperti komentar saya sebelumnya, soal adanya arah menuju kebaikan dalam 1-2 tahun kepemimpinan jakarta sayapun mengakuinya dari testimoni teman-teman saya yang kebetulan tinggal di jakarta, tapi apakah bisa disebut pemimpin yang baik bila diberi kepercayaan oleh rakyat yang memilihnya untuk menjadi imam/pemimpin selama 5 tahun tapi mengingkarinya, apakah sebagai seorang pemimpin yang seyogianya menjadi panutan bagi rakyat dipimpinya semudah itu bisa “mempermainkan” arti sebuah janji?

            Bila janji jokowi adalah membenahi jakarta tentu bukan pilihan yang 100% salah ketika Jokowi jadi nyapress, karena ketika jadi capress kelak boleh jadi membenahi jakarta untuk lebih baik jadi lebih mudah dengan posisi om Joko jadi presiden.

            Namun bila janji yang diucapkan adalah untuk “tidak meninggalkan jabatan/atau berhenti di tengah jalan dari posisi gubernur” langkah nyapresnya dari sudut pandang saya salah, terlepas setelah om joko jadi presiden jakarta jadi lebih baik, janji yang diingkari tidak dapat terlupakan.

            Saat kampanye pilgub dulu, Jokowi berjanji untuk menyelesaikan masa jabatannya sampai selesai bila terpilih menjadi gubernur Jakarta. Berangkat dari hal tersebut maka saat itu saya sebagai penggemar Jokowi akan sangat yakin, kalaupun di pemilu 2014 partainya mengajukan Jokowi jadi capres, Jokowi akan menolaknya, karena telah diberikan amanah luar biasa oleh para pemilihnya saat pilgub di jakarta dulu, tak mungkin Jokowi setega itu, menyakiti hati warga jakarta yang telah diberinya janji, tak mungkin Jokowi menghianati para warganya yang telah percaya pada kejujuran Jokowi… tapi kenyataanya sekarang?

            Apakah fair ketika kita berhasil merebut (memenangkan) hati seseorang dengan sebuah janji yang kita sendiri tidak yakin bisa menepati. Apakah bila kita tidak memberikan janji kita bisa memangkan hati seseorang tersebut? Bagi orang jawa seperti saya atau beliau pastilah selalu ingat pesan pak’e-mbok’e di rumah yang bilang “menungso kuwi sing di cekel apane, yen ora omongane” begitu mas :)

            Reply

  19. gendruk
    May 01, 2014 @ 19:40:35

    ane udah gak percaya ama yang namanya politik, 100% sama gitu semua.. :3

    walopun ane gak pernah di pimpin pak jakowi, sepertinya beliau pemimpin yang bijak. yah semoga aja pak jakowi gak ketularan atasanya.

    Reply

    • Yos Beda
      May 01, 2014 @ 20:28:06

      Pasti mas Gendruk besok Golput, hehehehehe

      Reply

  20. Zizy Damanik
    May 01, 2014 @ 22:08:39

    Saya bisa mengerti kekecewaanmu.
    Saya, sudah pasti, tidak akan memilih Jokowi. Simpel sih alasannya, ini Jakarta belum beres, belum kelihatan apa-apa, sudah mau ditinggalkan.

    Reply

    • Yos Beda
      May 02, 2014 @ 08:05:13

      Nah, mbak Zee ngerti kekecewaan saya juga :)
      Semoga pilihan untuk tidak memilih Jokowi adalah keputusan yang baik ya mbak,
      Satu lagi, semoga warga jakarta yang dulu memilih Jokowi tidak terperosok dalam kebencian juga,
      Biarlah hanya sebatas kecewa, karena Janji pemimpin yang dipilihnya tidak ditepati :)

      Reply

  21. febrio
    May 02, 2014 @ 00:01:06

    klo mnrt kacamata saya yg msh anak kmrn sore nih yaa… “rasa gk pernah bohong”. kecap yg ada di dlm botol saos pun tetep aja kecap. dan mnrt saya ini jg bkn sekedar mslh janji yg hrs ditepati, tapi lbh kepada kapasitas pak jokowi yg memang terlihat dan diakui org banyak. jangankan jd presiden, jika memang waktunya sudah tiba nanti, mngkn pak jokowi bisa memimpin dan merubah dunia dgn segala kejujuran dan kebaikan hatinya tsb.

    lagian mubazir bgt mnrt saya jika pribadi yg hebat spt beliau cuma dikasih memimpin jakarta saja, sementara mngkn seluruh rakyat indonesia ingin dipimpin oleh pak jokowi.

    segala sesuatu lbh baik dipikirkan yg positifnya saja…

    Reply

    • Yos Beda
      May 02, 2014 @ 08:09:28

      Mas Febrio berkata:
      jika memang waktunya sudah tiba nanti, mngkn pak jokowi bisa memimpin dan merubah dunia dgn segala KEJUJURAN dan kebaikan hatinya tsb.

      Tanggapan saya:
      Apakah mas Febrio sudah membaca intisari dari tulisan saya yang sederhana ini? yang berbicara soal KEJUJURAN? dilanjutkan dengan pertanyaan jujurkah Jokowi?
      Kemudian, apakah mas Febrio sudah melihat dokumentasi janji-janji Jokowi dalam format video yang saya sertakan di postingan ini? bagaimana tanggapan mas?

      Reply

  22. BangKoor
    May 02, 2014 @ 01:21:20

    Hallo kang, balas berkunjung nih. Saya suka theme-nya. “Beda” beneran :-)

    Saya kok sependapat sama mas yos ya. Awalnya saya juga suka, bahkan bisa dibilang kagum dengan sosok Jokowi. Tapi entah kenapa setelah dia mulai digembar-gemborkan jadi capres, kok rasa suka itu tiba-tiba hilang. Kalo aku liat, ada sesuatu dibalik jokowi. Sesuatu yang banyak orang nggak tau. Sesuatu yang punya kekuatan besar. Entah apa itu…

    Reply

    • Yos Beda
      May 02, 2014 @ 08:21:01

      Sama kok mas Koor, rasa kagum saya ke pak Jokowi mulau terkikis ketika beliau mulai nyapres, sebelum itu saya selalu berbaik sangka ke beliau, pemberitaan negatif tentang beliau selalu saya anggap fitnah belaka kala itu, setelah saya mendapati janji-janji jokowi terdahulu soal “menuntaskan masa jabatan” yang terdokumentasi rapi dalam video (tak terdistorsi esensinya) saya jadi makin ragu dengan kejujuran pak Jokowi :(

      Reply

  23. Hendrik
    May 02, 2014 @ 05:33:06

    Saya mah sudah apatis dengan pemimpin jaman sekarang. Pemimpin yang pintar kalau saya nilai malah cenderung pelit dibandingkan pemimpin – pemimpin yang dulu. Tidak jauh – jauh pemimpin saya sendiri seperti itu. Nyesel rasanya dulu memilih beliau kalau tahu kenyataannya seperti ini. Kelihatan pinter dan baik hati saja, tapi sebetulnya sama saja, malah lebih baik pemimpin yang dulu. Apalagi kalau kemarin melihat visi dan misi yang disampaikan oleh Jokowi yang mau menghapus tunjangan guru dan BLT, ampun, dipastikan para guru dan dosen di seluruh negeri ini tidak akan memilih Jokowi dan kalau itu terjadi dipastikan juga mereka akan mogok bekerja, sekalian sekolahnya ditutup saja. ENAK ENDI KARO JAMANKU DISIK … !!!!

    Reply

    • Yos Beda
      May 02, 2014 @ 08:28:34

      Nah satu lagi testimoni dari mantan pemilih beliau saat pilgub dulu, sabar ya mas, jangan sampai terlarut dalam kebencian.. hehehe

      Reply

  24. Naufal
    May 02, 2014 @ 12:49:25

    Politik? maaf mas saya nggak baca tuntas artikel diatas. saya selalu “jeleh” <- (mual) kalo baca / dengerin berita, ulasan politik. :D

    Reply

    • Yos Beda
      May 02, 2014 @ 13:34:29

      Hahahaha… sudah jengah ya mas :)

      Reply

  25. nyapurnama
    May 03, 2014 @ 17:30:54

    Ah, sama.. saya pun awalnya simpati banget sama Jokowi. Dia bisa membuat perubahan di Solo, ya siapa tahu di Jakarta – yang jelas-jelas butuh perubahan – juga bisa… ternyata belum apa-apa udah mau jadi presiden aja..kayak cuma mau memanfaatkan momen dia lagi ngehits-ngehits nya…
    Sekarang jadi ilfil banget.. yah kirain pak Jokowi ini beda, taunya just another anggota parpol.. disuruh ini itu sama parpol iya-iya aja .__.

    Reply

  26. Ope
    May 04, 2014 @ 06:33:30

    haduh politik, rada sensitif kalo ngomongin politik, apalagi tentang capres seperti sekarang ini :3

    Reply

    • Yos Beda
      May 04, 2014 @ 20:57:37

      Iya mas sensitif banget, apalagi kalau sedang melakukan “pembelaan” pada capres idolanya, seakan capres idola* itu tak luput dari kesalahan dan dosa, hehehehe

      *capres idola maksudnya bisa Om Joko, Pakde Bowo atau Pak Ical :D

      Reply

  27. ndop
    May 04, 2014 @ 19:46:46

    Baca komen-komennya, aku cuma bisa berempati.. Yg kuat ya mas Yos.. aku sebenarnya mau nulis akun kaskus yg dulu rekomended sekarang nipu, tapi ya gitu, gak berani haha..

    Mungkin suatu saat..

    Reply

    • Yos Beda
      May 04, 2014 @ 20:58:48

      Walah mbok ditulis aja mas ndop, biar kawan-kawan yang biasa melakukan transaksi online bisa berjaga-jaga kalau ketemu seller yang dimaksud

      Reply

  28. ndop
    May 04, 2014 @ 19:48:53

    Oh gini aja.. Kita berdoa saja supaya Jokowi menepati janjinya.. (otomatis kalah gak kepilih jadi presiden)

    Reply

    • Yos Beda
      May 04, 2014 @ 20:59:41

      Dan kalaupun nanti om Joko terpilih semoga tidak berbohong untuk kedua, ketiga atau keempat kalinya, aku yakin kok setiap orang bisa berubah, hehehe

      Reply

  29. Danni Moring
    May 04, 2014 @ 22:47:00

    Sependapat dengan mas yos :)..sy harap ini bukan dianggap kampanye hitam, tapi hanya sebuah pendapat pribadi tanpa mengurangi rasa hormat kita ke beliau :). Tapi kalaupun ada yang menganggap kampanye hitam, ah sudahlah..toh setiap orang bebas berpendapat ya mas :) hehe

    Reply

    • Yos Beda
      May 06, 2014 @ 08:02:11

      Iya mas Danni, tulisan ini hanya sebatas curahat hati saja kok, dari pemuda yang dulu mengidolakan jokowi dan yakin betul bahwa beliau adalah manusia yang jujur dan amanah :)

      Reply

  30. Melly Feyadin
    May 05, 2014 @ 13:41:03

    Namanya manusia, pasti hatinya ada yg selip mas :D
    yg tadinya ngomong NO tiba2 jadi, aku sih YES :D

    Reply

    • Yos Beda
      May 06, 2014 @ 08:02:27

      kalau aku sih No mbak, hehehe

      Reply

  31. whizisme
    May 05, 2014 @ 16:23:26

    nanti kau pilih siapa yak?…
    wah…rame banget komenya yak

    Reply

    • Yos Beda
      May 06, 2014 @ 08:22:16

      Iya mas, komentarnya rame dan seru banget, hehehe

      Reply

  32. Mechta
    May 05, 2014 @ 18:12:27

    Hm…politik, seringkali membingungkan…(bagi yg awam seperti saya..)

    Reply

    • Yos Beda
      May 06, 2014 @ 08:22:47

      Iya mbak, normal kok bila politik kadang membinggungkan bagi beberapa orang :)

      Reply

  33. ones
    May 06, 2014 @ 02:35:18

    Kenapa mesti kecewa? Toh Pa Jokowi bukan milik anda bro hehe…. Juga bkn hanya milik Solo ataupun Jakarta, Beliau milik bangsa Indonesia. Egois rasanya klo menginginkan beliau ttp memimpin Jkt disaat kursi presiden kosong. Klo kursi presiden ada yg ngduduki ya beliau jg ga akan disuruh rakyat utk menjadi capres. Coba pikir relakah anda jika kursi presiden diduduki oleh orang2 yg ga pantas. Klo saya sih ga rela bro, daripada diduduki sama orang yg ga pantas jd presiden ya mending pa Jokowi aja suruh maju. Jika beliau jd presiden, Jakarta pun msh ada dalam tanggungjawabnya kecuali klo pa Jokowi nyapres buat jd presiden negara tetangga, itu baru beliau menghianati rakyat Indonesia. Cobalah berpikiran luas. Rakyat indonesia membutuhkan pemimpin seperti beliau dan sebenarnya pa Jokowi ditantang utk memberikan kontribusi yg lebih dari yg telah beliau berikan utk solo dan jakarta. Salah besar klo ngomong pa Jokowi tdk ada apa2nya dlm memimpin jkt. Buka mata buka telinga jg buka hati, lihatlah keluar sana ada perubaha ga? Maturnuwun……

    Reply

    • Yos Beda
      May 06, 2014 @ 08:16:01

      Cieee… baca artikel saya dengan terburu-buru ya mas Ones :D , apakah esensi artikel ini hanya tentang jokowi milik siapa, bukan dong! dari tulisan 1000an kata yang saya tulis di atas hanya ada 3 kata yang saya tebalkan, salah satunya adalah soal KEJUJURAN! apakah mas Ones ngga melihat bahwa KEJUJURAN adalah hal wajib yang dimiliki seorang pemimpin, dengan kejujuran pemimpin akan akan berhati-hati dalam berjanji dan akan memegang amanah, dan bila saya balik bertanya “jujurkah Jokowi?” bagaimana tanggapan mas?

      Adanya arah menuju kebaikan dalam 1-2 tahun kepemimpinan jakarta sayapun mengakuinya dari testimoni teman-teman saya yang kebetulan tinggal di jakarta, terlepas berapa andil yang diberikan Jokowi dan berapa andil yang diberikan wakilnya Ahok. Jadi bila 2 tahun Jakarta menuju arah yang lebih baik alangkah bijaknya kita juga tidak melupakan peran sang wakilnya juga, hehehe..

      Coba dong mas, kasih tanggapan mas dengan perspektif anda tentang ucapan-ucapan Jokowi di video yang saya sertakan di tulisan saya ini ( http://www.youtube.com/watch?v=8d5EBCN6l0I )

      Apakah bisa disebut pemimpin yang baik bila diberi kepercayaan oleh rakyat yang memilihnya untuk menjadi imam/pemimpin selama 5 tahun tapi mengingkarinya, apakah sebagai seorang pemimpin yang seyogianya menjadi panutan bagi rakyat dipimpinya semudah itu bisa “mempermainkan” arti sebuah janji?

      Bila janji jokowi adalah membenahi jakarta tentu bukan pilihan yang 100% salah ketika Jokowi jadi nyapress, karena ketika jadi capress kelak boleh jadi membenahi jakarta untuk lebih baik jadi lebih mudah dengan posisi om Joko jadi presiden.

      Namun bila janji yang diucapkan adalah untuk “tidak meninggalkan jabatan/atau berhenti di tengah jalan dari posisi gubernur” langkah nyapresnya dari sudut pandang saya salah, terlepas setelah om joko jadi presiden jakarta jadi lebih baik, janji yang diingkari tidak dapat terlupakan.

      Saat kampanye pilgub dulu, Jokowi berjanji untuk menyelesaikan masa jabatannya sampai selesai bila terpilih menjadi gubernur Jakarta. Berangkat dari hal tersebut maka saat itu saya sebagai penggemar Jokowi akan sangat yakin, kalaupun di pemilu 2014 partainya mengajukan Jokowi jadi capres, Jokowi akan menolaknya, karena telah diberikan amanah luar biasa oleh para pemilihnya saat pilgub di jakarta dulu, tak mungkin Jokowi setega itu, menyakiti hati warga jakarta yang telah diberinya janji, tak mungkin Jokowi menghianati para warganya yang telah percaya pada kejujuran Jokowi… tapi kenyataanya sekarang?

      Apakah fair ketika kita berhasil merebut (memenangkan) hati seseorang dengan sebuah janji yang kita sendiri tidak yakin bisa menepati. Apakah bila kita tidak memberikan janji kita bisa memenangkan hati seseorang tersebut? Bagi orang jawa seperti saya atau beliau pastilah selalu ingat pesan pak’e-mbok’e di rumah yang bilang “menungso kuwi sing di cekel apane, yen ora omongane” begitu mas :)

      Reply

  34. rahadjars
    May 06, 2014 @ 12:11:07

    Menurut saya pak jokowj nyapres nya kecepetan, habis jakarta beres, kemudian nyapres mungkin orang2 bakal lebih mendukung
    Kalo skrg ini jokowi kayaknya banyak yg mendukung, tp gak sedikit yg kecewa sm janji2nya dulu

    Reply

    • Yos Beda
      May 10, 2014 @ 06:30:33

      Saya juga sependapat akan hal itu mas, setidaknya biarlah Jokowi membuktikan apakah beliau adalah pemimpin yang berprestasi yang bisa membawa perubahan yang baik pada jakarta selama 5 tahun.

      Reply

  35. Ijal Fauzi
    May 06, 2014 @ 19:34:23

    Saya pun demikian, sekarang malah ilfeel kalo liatnya di media-media suka berlebihan.

    Reply

    • Yos Beda
      May 10, 2014 @ 06:32:13

      Kalau saya sih belum sampai ilfeel sih mas, cuma jadi biasa aja, kalau dulu sih tiap lihat Jokowi di TV saya selalu antusias :)

      Reply

  36. bimbingan belajar
    May 08, 2014 @ 11:54:03

    saya nyimak ajah ya mas ,hehehe.

    Reply

  37. cumilebay.com
    May 09, 2014 @ 14:04:10

    Ini mah partai nya yg keblinger, bnggung cari kandidat yg kuat dan akhir nya pakjo di korbankan. Btw gw bukan pendkung pakjo tapi mmg begitu kalo diliat.
    Dan siapapun presiden nya, ngak ngaruh juga keleus. Indonesia dah terbiasa jadi negara tanpa pilot hehehe

    Reply

    • Yos Beda
      May 10, 2014 @ 06:34:26

      Daripada melihat Pak Jo sebagai korban kok saya malah lebih melihat warga Jakarta menjadi korban :)

      Reply

  38. dhimas
    May 09, 2014 @ 14:48:31

    Mas yos ini menarik, sya lbih suka menganalisis dri sisi mas yos. Dr tulisanya dan websitenya mas ngga sndri ngebgun ini, terlihat nma yg digunakan bukan nama asli, ditmbah adanya iklan indosat yg memberikan kesan janggal. Dr jawaban setiap pertanyaan, yg menulis memang hnya satu orang, dan orang ini sudah siap menghadapi komentar yg setuju dan tidak setuju dengan artikel mas, hampir semua komentar slalu dibalas, ini membuktikan klo mas ngga sekedar curhat tapi ada tujuan seperti ingin memastikan satu informasi yg “hrus”. Kesimpulan dari mas yos ini adlh masyos terlalu terlihat subjektif jauh dr kta objektif.

    Reply

    • Yos Beda
      May 10, 2014 @ 07:13:09

      Makasih mas Dhimas atas analisa dan kesimpulanya yang menurut saya terlalu prematur:

      Mas Dhimas berkata:
      Dr tulisanya dan websitenya mas ngga sndri ngebgun ini, terlihat nma yg digunakan bukan nama asli, ditmbah adanya iklan indosat yg memberikan kesan janggal.

      Tanggapan saya:
      Mas Dhimas tahu betapa mudahnya ngebangung website dengan engine WordPress?
      Mas Dhimas tahu betapa mudahnya menulis ketika sudah terbiasa membaca?
      Mas Dhimas tahu bahwa blog yang ada iklanya itu normal-normal saja, ngga ada yang salah dengan blog seperti itu?

      Ini web-web saya yang dari segi konten maupun desain saya bangun sendiri, alhamdulillah mas saya diberikan kebisaan di bidang macam-macam:

      Karya-karya blog/tulis saya bisa dilihat di blog
      http://www.yosbeda.com/ , http://www.popmagz.com/ , http://www.techcracky.com/

      Karya-karya musik saya bisa dilihat di sini:
      http://www.youtube.com/yosbeda dan http://www.soundcloud.com/yosbeda

      Karya-karya Fotografi saya bisa dilihat di sini:
      http://www.lazyframe.com/ dan http://www.flickr.com/photos/44890637@N08/

      Karya E-commerce saya bisa dilihat di sini:
      http://www.galobee.com/

      Semoga mas Dhimas tau ya bahwa satu orang itu bisa saja mengerjakan banyak hal sekaligus… yeaaaah \m/

      Kemudian soal nama, benar mas Dhimas, Yos Beda adalah nama alias atau boleh dibilang nama pena saya, Nama asli saya Yossa, dan nama tersebut saya tegaskan bukan untuk menutup-nutupi jati diri atau semacamnya ya, hehehe..

      Mas Dhimas juga berkata:
      Dr jawaban setiap pertanyaan, yg menulis memang hnya satu orang, dan orang ini sudah siap menghadapi komentar yg setuju dan tidak setuju dengan artikel mas, hampir semua komentar slalu dibalas, ini membuktikan klo mas ngga sekedar curhat tapi ada tujuan seperti ingin memastikan satu informasi yg “hrus”.

      Tanggapan saya:
      Ya iyalah mas satu orang, dan itu saya sendiri :) mas Dhimas tau lazimnya seperti apa seorang blogger ketika tulisannya mendapatkan komentar dari kawan bloggernya? apa harus dicuekin gitu? hehehehehe , FYI yang komentar di atas kebanyakan juga kawan-kawan blogger saya kok, baik yang sepakat dengan tulisan saya atu tidak, jadi ya itu semacam ngobrol/bertukar pikiran aja kaya sama teman-teman biasa :D

      Mas Dhimas juga berkata:
      Kesimpulan dari mas yos ini adlh masyos terlalu terlihat subjektif jauh dr kta objektif.

      Tanggapan saya:
      Nah inilah yang saya bilang prematur kesimpulan mas Dhimas, bisa diperlihatkan saya sisi “subjektif-nya” di mana?

      Bagaimana tanggapan mas Dhimas soal “jujur, menepati janji dan memegang amanah” yang saya soroti di tulisan saya di atas?
      Bagaimana tanggapan mas Dhimas soal video kompilasi Janji Jokowi yang saya lampirkan juga di atas?
      Bagaimana tanggapan mas Dhimas soal referensi sumber berita yang saya jadikan rujukan untuk tulisan saya di atas?

      Itu dulu deh, maaf kalau ada salah-salah kata mas Dhimas :)

      Reply

  39. Wahyu Asyari Muntoha
    May 10, 2014 @ 10:19:22

    jadi nambah berapa trefik harian blog ini setelah tulisan jokowi publish yos? #lospokus

    Reply

    • Yos Beda
      May 10, 2014 @ 10:42:53

      Ada kenaikan sih tapi ngga banyak, coba kalau tulisannya pakai judul yang greget semacam “Janji Jokowi” , “Kebohongan Jokowi” atau frase semacam itu, hehehe.. pasti bisa meledak tuh trafik, tapi ngga ah, wong judul dan tulisanya ta coba sesantun dan sehati-hati mungkin saja tetap ada beberapa orang yang mengangggap ini tulisan ngga obyektif dan dibilang pesanan :D
      BTW malah tulisan terbaruku yang tentang tinju yang bikin nambah banyak trafiknya :D , apa aku jadi wartawan olahraga saja ya kalau gitu, hahahaha

      Reply

  40. ibnu ch
    May 11, 2014 @ 04:26:02

    hiii aku mah paling gak sreg dari dulu ,,heee.
    sudah lah aku gak ngerti politik , OOT saja,suarane sampean kereennn,,,,,, habis ndownlodin di yutube.

    Reply

    • Yos Beda
      May 11, 2014 @ 22:54:12

      Maksaih mas sIbnu, udah download Acoustic Cover terbaru saya, jangan lupa like di halaman youtubenya ya, biar saya semakin bersemangat untuk terus berkarya, heheheheh #ngarep

      Reply

  41. sakti
    May 11, 2014 @ 06:11:09

    mantap om, dimana-mana semua uneg-uneg itu pasti subjektif, tapi om yos sudah membungkusnya menjadi objektif dengan mencantumkan sumber referensi berupa halaman berita dan video. semoga rakyat indonesia semakin cerdas mencermati mana capres yang layak memimpin indonesia ke depan, bukan tenggelam harapan palsu dari capres pinokio pembohong ini.

    Reply

    • Yos Beda
      May 11, 2014 @ 22:59:05

      Iya mas Sakti, makasih atas apresiasinya, saya berharap semoga tidak ada yang sengaja atau tidak sengaja tersakiti atas curhatan saya di atas, siapa tahu saya ada salah-salah kata, walau sekedar curhat saya berusaha untuk seobyektif mungkin kok, dengan tidak memenuhi tulisan saya dengan asumsi-asumsi kosong belaka yang jatuhnya jadi fitnah:)

      Reply

  42. indra agus
    May 11, 2014 @ 18:17:31

    Hahahahhaha…. Mas Yos udah nulis dengan gaya bahasa “Solo Style” yang kemayu dan santun aja, tetap dapat feedback yang negative :D
    Gak kebayang kalau Mas Yos nulis dengan “Medan Style”.. :D :D

    Terima kasih buat tulisan yang sangat menarik ini Mas… :)

    Reply

    • Yos Beda
      May 11, 2014 @ 23:12:20

      Hahahaha,, mas Indra bisa aja, iya mas, tulisan-tulisan di blog saya emang khas Solo/Surakarta, alus dan lemah gemulai banget kalau orang bilang, hahahahaha
      Wong dulu saya juga sempat dikomplain teman, gara-gara pernah nulis soal penyiraman air oleh salah satu anggota ormas yang agak keras ( http://www.yosbeda.com/tentang-penyiraman-air-jubir-fpi-munarman-ke-thamrin-tomagola) namun saya tetap aja menulisnya dengan gaya tulisan “Soloensis”, hehehehe, saya jujur ngga ingin menyakiti siapa-siapa lewat tulisan-tulisan saya mas :)

      Reply

  43. Candra Wiguna
    May 11, 2014 @ 19:02:34

    Saya tahu Jokowi melanggar janjinya, walaupun secara semantik dia tidak salah, karena dia hanya berjanji akan membangun Jakarta selama 5 tahun, bukan berjanji akan menjadi gubernur Jakarta selama 5 tahun, sedang yang namanya membangun Jakarta tidak mesti menjadi gubernur, menjadi warga biasa pun tetap bisa, apalagi menjadi presiden.

    Tapi, tidak semua pelanggaran janji itu dianggap salah. Saya punya kakak kelas seorang dokter, punya anak dan dia pernah berjanji akan mengajak anaknya jalan-jalan saat hari libur, tapi ketika ada pasien yang mendadak butuh bantuan apakah salah sang dokter itu melanggar janjinya pada anak?

    Kita punya skala prioritas, Indonesia sedang butuh pemimpin, sedang Prabowo adalah sosok yang berbahaya dan hanya Jokowi yang bisa menjegalnya. Kita tidak seharusnya melewatkan momentum yang bersejarah ini, mengabaikannya hanya karena alasan yang sepele dan muluk-muluk seperti soal janji.

    Siapa sih yang tidak pernah melanggar janji, bahkan Prabowo pernah melanggar sumpah jabatan yang dilakukan di bawah Al Quran, silahkan cari tahu tentang sumpah ABRI dan bandingkan dengan penculikan yang telah dia lakukan. Yang penting adalah apakah pelanggaran janji itu wajar atau tidak, ada manfaatnya atau tidak.

    Anda mengatakan rakyat Jakarta kecewa? Anda salah, rakyat Jakarta tidak kecewa, justru mereka akan kecewa jika Jokowi tidak mencalonkan diri sebagai presiden. Silahkan lihat bagaimana tanggapan warga Jakarta dalam diskusi-diskusi yang dilakukan di media lokal, hampir semua mendukung Jokowi dan bahkan mencela Ridwan Saidi, tokoh betawi hanya karena Babe Ridwan menolak pencapresan Jokowi. Lihat juga bagaimana tanggapan anak-anak hingga para orangtua: http://www.youtube.com/watch?v=O0DaX5-U9MM

    Faktanya dalam pemilu legistalif untuk pemilihan DPR, PDIP menang, suaranya tertinggi bahkan 2 kali lipat suara Gerindra yang ada di posisi kedua, ini artinya bahwa mayoritas rakyat Jakarta ingin Jokowi menjadi presiden, jadi apa yang dilakukan Jokowi hanya menuruti aspirasi dari masyarakat, dan itulah yang terpenting saat ini.

    Reply

    • Yos Beda
      May 11, 2014 @ 22:19:45

      Makasih mas Candra Wiguna telah mampir di tulisan sederhana saya ini dan mau bertukar pikiran lewat kolom komentar, berikut tanggapan saya :)

      Mas Candra Wiguna Berkata:
      “Saya tahu Jokowi melanggar janjinya, walaupun secara semantik dia tidak salah, karena dia hanya berjanji akan membangun Jakarta selama 5 tahun, bukan berjanji akan menjadi gubernur Jakarta selama 5 tahun, sedang yang namanya membangun Jakarta tidak mesti menjadi gubernur, menjadi warga biasa pun tetap bisa, apalagi menjadi presiden.”

      Tanggapan Saya:
      Apakah benar seperti yang mas Candra Wiguna ungkapkan? Mari kita bedah janji Jokowi yang terdokumentasi dalam video yang saya sertakan dalam postingan saya di atas:

      Kata Jokowi: “Katanya saya tidak ingin menyelesaikan 5 tahun, diisukan itu! untuk apa? untuk agar masyarakat ragu, Oleh sebab itu.. pada kesempatan yang baik ini saya sampaikan, bahwa Jokowi dan Basuki komit untuk memperbaiki DKI Jakarta dalam 5 tahun

      Ketika kita hanya melakukan “Quote mining” pada kalimat terakhir ( bahwa Jokowi dan Basuki komit untuk memperbaiki DKI Jakarta dalam 5 tahun) benar, makna kalimat itu jadi berbeda karena hilang konteks. bagaimana bila kalimat itu konteksnya utuh tidak dipotong namun dibaca semuanya? apa arti kata (menyelesaikan 5 tahun) di kalimat pertama tersebut? Menurut hemat saya, kalimat tersebut artinya menyelesaikan jabatan gubernur selama 5 tahun. jadi kesimpulannya… tak perlu saya jelaskan lagi ya, hehehe…

      Mas Candra Wiguna Berkata:
      “Tapi, tidak semua pelanggaran janji itu dianggap salah. Saya punya kakak kelas seorang dokter, punya anak dan dia pernah berjanji akan mengajak anaknya jalan-jalan saat hari libur, tapi ketika ada pasien yang mendadak butuh bantuan apakah salah sang dokter itu melanggar janjinya pada anak?”

      Tanggapan saya:
      Dokter tidak melanggar janjinya ituh mah, sore harinya kan sang dokter jadi jalan-jalan ma anaknya, hehehe.. #justkid

      Menurut hemat saya, pengalaman kakak kelas mas yang secara tidak langsung menjadi analogi tentang janji Jokowi kurang tepat, dari komentar yang saya jawab sebelumnya bisa ditarik silogisme seperti ini:

      Silogisme 1
      Jika Jokowi terpilih jadi gubernur menyelesaikan 5 tahun (mayor)
      Jokowi terpilih jadi gubernur (minor)
      Jokowi menyelesaikan 5 tahun (konklusi)

      Harusnya analogi yang serupa:

      Silogisme 2
      Jika anaknya mengerjakan PR Dokter mengajak Anaknya jalan-jalan (mayor)
      Anaknya mengerjakan PR (minor)
      Dokter mengajak anaknya jalan-jalan (konklusi)

      Lho yos kamu kok sampai silogisme segala, hahaha.., begini mas Chandra, yang mau saya tekankan bahwa janji jokowi itu bersyarat bagi beberapa pemilihnya di jakarta.

      Nah bagi beberapa pemilihnya di jakarta akan muncul silogisme (3) seperti ini (walau tidak semuanya lho ya, saya tidak mau menggeneralisasi :), ini hanya apa yang ada di kepala saya bila saat itu saya ikutan pemilihan gubernur Jakarta )

      Silogisme 3
      Jika Jokowi berjanji menyelesaikan 5 tahun jabatan saya mencoblos Jokowi (mayor)
      Jokowi berjanji menyelesaikan 5 tahun jabatan (minor)
      Saya mencoblos jokowi (konklusi)

      Apakah fair bagi sebagian pemilihnya ketika mendapati om Joko saat ini malah nyapres?

      Mas Candra Wiguna Berkata:
      “Kita punya skala prioritas, Indonesia sedang butuh pemimpin, sedang Prabowo adalah sosok yang berbahaya dan hanya Jokowi yang bisa menjegalnya. Kita tidak seharusnya melewatkan momentum yang bersejarah ini, mengabaikannya hanya karena alasan yang sepele dan muluk-muluk seperti soal janji.”

      Tanggapan saya:
      Benar Prabowo adalah sosok yang berbahaya BILA kasus penculikan yang dituduhkan kepadanya itu benar adanya dan harus mendapatkan hukuman yang setimpal!!!. Benarkah “hanya Jokowi yang bisa menjegalnya!”  lagi lagi menurut hemat saya, itu kurang tepat, masih ada jalan lain, bila memang Prabowo penjahat kemanusiaan kita bisa mengusahakan untuk mengkritisi pencapresan Prabowo hingga pencapresannya gagal, kenapa seorang yang “melekat” predikat penjahat HAM bisa maju menjadi calon Presiden? Apakah dia benar-benar Penjahat HAM? atau hanya orang yang dituduh sebagai Penjahat HAM? Allahu A’lam.

      Saya jujur merasa sedikit sedih ketika mas Candra di atas menyebut janji adalah sebuah hal yang sepele :(, padahal dalam pendangan saya, syarat menjadi pemimpin yang baik itu sederhana, yaitu jujur, menepati janji dan memegang amanah (kepercayaan), ketiga aspek tersebut sudah tidak saya temukan lagi ada pada sosok beliau, Ir. H. Joko Widodo, setidaknya sampai tulisan di atas saya tulis seperti itu yang saya dapati, tapi ngga apa-apa, semua orang punya perspektif sendiri soal kriteria pemimpin.

      Mas Candra Wiguna Berkata:
      “Siapa sih yang tidak pernah melanggar janji, bahkan Prabowo pernah melanggar sumpah jabatan yang dilakukan di bawah Al Quran, silahkan cari tahu tentang sumpah ABRI dan bandingkan dengan penculikan yang telah dia lakukan. Yang penting adalah apakah pelanggaran janji itu wajar atau tidak, ada manfaatnya atau tidak.

      Tanggapan saya:
      Ingkar janji itu wajar atau tidak sangat-sangat relatif bagi setiap orang mas, seperti orang ada yang berkata bahwa mencuri itu bisa saja berbeda penafsiranya hanya karena besarnya barang yang dicuri, dari perspektif saya mencuri itu baik besar atau kecil namanya tetap mencuri, begitu juga berdusta, baik sebuah dusta yang kecil maupun besar namanya tetap dusta dan merupakan perbuatan tercela, tapi ada juga yang berkata berbohong dikit bolehlah demi kebaikan.

      Ada sebagaian orang yang begitu memberi toleransi super luas pada kebohongan, tapi ada juga yang tidak, saya sendiri ketika disuruh memberikan berapa parah tingkat keburukan jokowi dengan ingkar janjinya soal masa jabatan? saya akan memberikan nilai tinggi (10 misal) namun saya yakini ada juga yang memberikan nilai rendah (5 misal) untuk keburukan jokowi karena ingkar janjinya soal masa jabatan? ngga masalah bagi saya :)

      Mas Candra Wiguna Berkata:
      “Anda mengatakan rakyat Jakarta kecewa? Anda salah, rakyat Jakarta tidak kecewa, justru mereka akan kecewa jika Jokowi tidak mencalonkan diri sebagai presiden. Silahkan lihat bagaimana tanggapan warga Jakarta dalam diskusi-diskusi yang dilakukan di media lokal, hampir semua mendukung Jokowi dan bahkan mencela Ridwan Saidi, tokoh betawi hanya karena Babe Ridwan menolak pencapresan Jokowi. Lihat juga bagaimana tanggapan anak-anak hingga para orangtua:http://www.youtube.com/watch?v=O0DaX5-U9MM”

      Tanggapan saya:
      Saya salah ya mas :), ah masa sih mas, mas sepertinya melakukan generalisasi deh, ngga semua warga jakarta menginginkan Jokowi nyapres lho, coba deh lihat salah satu komentar dari pemilih Jokowi dulu yang kebetulan mampir juga di blog ini dan berkomentar, namanya mas hendrik (bila mas mau memverifikasi kevalidan orangnya bisa saya kirimkan emailnya, namun saya bakal minta ijin dulu nanti ma mas hendrik)

      Dalam komentarnya mas Hendrik di postingan ini yang tertanggal komentarnya pada MAY 02, 2014 @ 05:33:06, ada sepenggal kalimatnya seperti ini “Nyesel rasanya dulu memilih beliau kalau tahu kenyataannya seperti ini. “ jadi apakah benar kesimpulanyang mas Candra ambil “Anda salah, rakyat Jakarta tidak kecewa, justru mereka akan kecewa jika Jokowi tidak mencalonkan diri sebagai presiden” ?

      Di atas ada juga kawan blogger saya warga Jakarta, mbak Zizy Damanik namanya, bisa dilihat juga komentarnya seperti apa tentang nyapresnya Jokowi? saya ngga bisa memastikan dulu mbak Zizy termasuk yang memilih Jokowi saat pilgub ngga :)

      Sebenarnya yang menarik adalah pertanyaan berapa pemilih Jokowi dulu yang mengalami kekecewaan seperti yang dialami mas hendrik di atas? sedikit? atau banyak? Allahu A’lam, saya ngga mau berasumsi ah, hehehe

      Mas Candra Wiguna Berkata:
      “Faktanya dalam pemilu legistalif untuk pemilihan DPR, PDIP menang, suaranya tertinggi bahkan 2 kali lipat suara Gerindra yang ada di posisi kedua, ini artinya bahwa mayoritas rakyat Jakarta ingin Jokowi menjadi presiden, jadi apa yang dilakukan Jokowi hanya menuruti aspirasi dari masyarakat, dan itulah yang terpenting saat ini.”

      Tanggapan saya:
      Menurut hemat saya, lagi-lagi mas Chandra terlalu prematur dalam mengambil kesimpulan :)

      1. Mas Candra mengabaikan peran atau andil dari caleg-caleg PDIP yang telah berjuang mencari pemilihnya dengan menggeneralisasi pemilih PDIP di pemilu 2014 adalah “pemilih Jokowi”.
      2. Mas Candra mengabaikan pemilih loyal PDIP dari para Soekarnoeis dan Marhaenis yang jumlahnya tak sedikit (ada yang bilang 14-17% dari total pemilih RI, saya ngga yakin angkanya sih :D ), siapa saja mereka, biasanya para pemilih tua walau ada juga ya muda, seperti nenek saya di rumah, kalau ada pemilu yang dicoblos ya banteng dengan mbak meganya, kata nenek :)
      3. Mas Candra mengabaikan peran dari Bapilu PDIP di pemilu 2014 yaitu mbak Puan Maharani, apakah kinerja mbak Puan dalam usahanya menaikan elektabilitas partai PDIP ngga mas perhitungkan? apakah suara PDIP yang 19an persen itu semua adalah “pemilih Jokowi”?

      Update!!: Ada testimoni terbaru dari kawan facebook saya (secara pribadi saya ngga kenal sih, malah saya dipanggil “om” lagi :D ), namanya mas Al Jufri, beliau warga jakarta, kebetulan juga beliau memilih Jokowi waktu pilgub Jakarta 2012 silam, ini untuk melengkapi pernyataan saya bahwa generalisasi mas Candra soal “rakyat Jakarta tidak kecewa, justru mereka akan kecewa jika Jokowi tidak mencalonkan diri sebagai presiden” itu kurang tepat :)
      null
      TKPnya di sini mas Candra biar makin valid :D : https://www.facebook.com/yosbeda/posts/4184015054600

      Reply

      • Candra Wiguna
        May 12, 2014 @ 01:17:47

        Iya, saya mengerti kok, dari awal saya mengatakan bahwa memang Jokowi ingkar janji karena makna sesunggunya dari kalimat itu memang berjanji menjabat selama 5 tahun. Tapi yang saya maksudkan tadi adalah soal logika semantik, memaknai kalimat secara rinci kata per kata. Coba cari tahu dulu apa itu logika semantik, biar ga salah paham..

        Secara semantik, janji Jokowi itu ya hanya sebatas membangun Jakarta selama 5 tahun, ga lebih. Bagian awal kalimat itu bisa kita katakan sebagai bagian yang ga nyambung, alasan tidka nyambung bisa karena Jokowi tidak pandai menyusun kalimat, bisa jadi karena dari awal dia memang berniat menipu publik.

        Kalimat itu sama seperti:
        “Orang bilang saya itu jelek, orang bilang saya kampungan, mereka mengatakan itu agar para wanita takut mendekati saya, karenanya pada kesempatan kali ini saya ingin mengatakan bahwa hidung saya tidak pesek, kulit saya tidak hitam, gigi saya putih dan rambut saya mengkilap”

        Nah, itu kalimat yang gak nyambung, gak konsisten, belum tentu jelek itu pesek, belum tentu kampungan itu giginya kuning, dsb. Begitu juga dengan kalimat yang diungkapkan Jokowi.

        Ini hanya selingan, pelajaran bagi kita untuk lebih berhati-hati menyusun kalimat, 12 tahun lho belajar Bahasa Indonesia tapi banyak yang masih membuat kalimat dengan model rancu begitu, sama seperti poin 7 pada perjanjian batu tulis yang ada di artikel saya.

        Tapi abaikan, ini bukan poin permasalahan, intinya saya setuju bahwa Jokowi ingkar janji.
        ___________

        Soal perjanjian bersyarat, lagi-lagi soal semantik. Jokowi tidak mengajukan syarat, bahkan tidak menggunakan kata JIKA. Serius, semantik itu penting agar tidak terjadi kesalahpahaman, pun jika dibawa ke pengadilan, yang dilihat pasti kata per kata, karena yang namanya “maksud” dan “niat” tidak bisa dinilai.

        “Ini hanya apa yang ada di kepala saya bila saat itu saya ikutan pemilihan gubernur Jakarta”

        Ya, interpretasi anda terlalu jauh dan di luar konteks kalimat yang diucapkan Jokowi. Saya maklum karena saat itu anda sedang ngefans dengan Jokowi. Tapi lagi, ini adalah pembelajaran bagi kita, mari berbahasa Indonesia yang baik dan benar, kalau ketemu kalimat ngawur seperti yang disampaikan Jokowi segara minta klarifikasi.

        Oke lah, anggap perjanjian itu memang bersyarat dan kita gunakan silogisme anda.

        Pertanyaannya:
        Apakah fair jika Si Anak yang sudah mengerjakan PR namun janjinya dilanggar oleh Sang Ayah? Saya jawab: tentu tidak fair

        Tapi jika pertanyaannya:
        Apakah fair bagi Si Pasien nyawanya diabaikan hanya demi memenuhi janji jalan-jalan pada Sang Anak? Saya jawab: TIDAK

        Ketika kita bicara soal presiden, kita bukan bicara masalah rakyat Jakarta saja, tapi juga tentang nasib seluruh masyarakat Indonesia. Orang-orang di daerah itu mendambakan Jokowi. Mereka ingin pemimpin yang sederhana, merakyat, mau turun ke daerah, tidak punya sejarah buruk terhadap mereka. Apakah fair bagai mereka jika kebutuhan akan pemimpin idaman mereka diabaikan hanya karena memenuhi masyarakat Jakarta yang luas wilayahnya hanya secuil itu? Egois namanya jika orang di Jakarta hanya memikirkan nasib mereka.

        Soal Prabowo, ini sebenarnya ingin saya tulis di artikel saya selanjutnya setelah mendapat lebih banyak bahan, beberapa ingin saya koreksi di tulisan saya sebelumnya, tapi untuk diskusi ini beberapa saya bocorkan saja.

        Quote:
        “Benar Prabowo adalah sosok yang berbahaya BILA kasus penculikan yang dituduhkan kepadanya itu benar adanya

        Memang benar kok, Prabowo mengakuinya, Fadli Zon mengakuinya, Prabowo memang melakukan penculikan pada aktivis.

        Quote:
        “… penculikan yang dituduhkan kepadanya itu benar adanya dan harus mendapatkan hukuman yang setimpal!!!.”
        “bila memang Prabowo penjahat kemanusiaan kita bisa mengusahakan untuk mengkritisi pencapresan Prabowo hingga pencapresannya gagal, …”

        Pemikiran anda terlalu utopis, anda bicara seakan dunia ini sempurna dan teratur. Politikus memenuhi janji, semua penjahat ditangkap polisi, pengemis diberi makan, orang pintar pasti sukses, nabung uang di bank pasti aman, dsb..

        Bangun! Ini bukan saatnya bermimpi, sadarilah bahwa kenyataan itu tidak seindah bayangan anda. Di dunia ini ada banyak penjahat yang menjadi pemimpin dunia, ada Hitler, Stalin, Polpot, Soeharto, jika orang jahat bisa dijegal maka orang-orang itu tidak akan sempat melakukan pembunuhan sebelum bisa memerintahkan sesuatu. Keluarga Ratu Atut, Aceng Fikri, di PDIP anak anak pengemplang BLBI, ada Aulia Pohan yang pernah terlibat korupsi, mereka kini bebas dan sedang bersiap menuju ke Senayan.

        Sistem kita sedang kacau, dan tidak cukup baik untuk mencegah penjahat masuk ke pemerintah, jadi lucu jika anda berharap bahwa Prabowo akan bisa dicegah cukup dengan membawanya ke Mahmakah Militer atau Komnas HAM.

        Lebih dari itu, saya mengatakan Prabowo berbahaya bukan karena masa lalunya, tapi karena ideologi fasis yang dia bawa, Gerindra mengatakan bahwa dia akan membuat jera para penganut aliran agama yang dia anggap menyimpang. Ini sama saja dengan melakukan pemurnian agama, agama versinya dia. Ahmadiyah sesat, ditumpas, Syiah sesat, ditumpas juga, besok-besok penganut mahzab maliki yang ditumpas. Ideologi fasis itu sangat berbahaya, akibatnya bisa sama seperti genosida yang dilakukan oleh Hitler.

        Selain itu saat ini suara Prabowo itu kecil, dia sangat butuh koalisi agar bisa maju, yang model begini jelas akan memunculkan banyak kontrak kontrak politik, dan yang namanya kontrak politik umumnya tidak ideal dan mencederai demokrasi. Lihat bagaimana Prabowo dan Megawati menentukan jumlah menteri dalam perjanjian batu tulis. Betapa menjijikkannya kedua tokoh ini ketika mereka dipercaya masyarakat namun yang dilakukan tidak lebih dari jual beli kursi. Akan sangat berbahaya jika orang model begini sampai terpilih.
        ___________

        Benar bahwa tiap orang punya nilai toleransi yang berbeda terhadap kebohongan. Tapi sekali lagi anda terlalu utopis. Ini politik, dan politik itu kotor? Memangnya apa yang anda bayangkan? Berharap menemukan manusia suci dalam dunia politik itu sama seperti berharap menemukan berlian di pasir pantai.

        SBY berjanji partainya tidak korupsi, eh kadernya sekarang di KPK.
        PKS dulu berjanji kadernya akan mengutamaka akhlak, eh malah ada yang nonton bokep di Senayan.

        Saya masih bersyukur jika seorang tokoh hanya sekadar berbohong atas janji kampanyenya, bukan melanggar sumpah jabatannya, bukan pula melakukan kejahatan menurut hukum, sedang dalam sejarahnya politik itu sangat kejam. Keluarga Ummayah mengarak kepala Husain, Abbasiyah membunuh 90 keluarga Ummayah saat jamuan makan, Majaphit menipu Bali dan Padjajaran saat penaklukan, Ken Arok saling bunuh membunuh 7 turunan, Raden Patah sampai berani menyerah kerajaan Ayahnya sendiri, dll..

        Kita masih berproses, moralitas itu dibangun secara perlahan, ga bisa langsung loncat. Bahkan di negara yang pemimpinnya terkeal jujur seperti Jepang dan negara Skandiavia pun masih ada yang berbohong.
        _____________

        Benar saya melakukan generalisasi, tapi apakah kesimpulan saya prematur?

        Anda mengabaikan fakta bahwa:
        Suara PDIP di Jakarta pada pemilu sebelumnya, baik di 2004 dan 2009 kecil, kalah dari PKS, kalah dari Demokrat, bahkan kalah dari Golkar. Lha kok sekarang bisa nambah 300% emangnya di tahun 2009 itu kader PDIP gak kerja? Emangnya di tahun 2009 Puan Mahari sedang cuti hamil?

        Justru saya melihat sebaliknya, PDIP bukan partai yang begitu disukai, saya tidak suka PDIP, saya tidak suka Megawati, tapi demi Jokowi saya memilih PDIP, bisa jadi orang yang suka Jokowi tidak memilih PDIP karena begitu anti pada partainya sehingga bisa asumsinya orang yang setuju pada Jokowi jumlahnya lebih banyak dari suara PDIP itu sendiri.

        Oke lah, kita jangan menghayal. Kalau mau data survei, ini ada.
        Menurut survei IPI 69% penduduk Jakarta itu setuju Jokowi nyapres, tuh lebih banyak kan..

        Sebelumnya saya bilang bahwa jika rakyat Jakarta ngotot, itu artinya rakyat Jakarta egois, tidak mementingkan aspirasi rakyat di luar Jakarta, dan menurut survei lagi, bahwa 76% rakyat di luar Jakarta setuju Jokowi nyapres.

        http://dekandidat.com/2014/03/18/76-persen-rakyat-indonesia-setuju-jokowi-menjadi-capres/

        Bagi saya ini hanya soal prioritas dan soal pemenuhan aspirasi untuk bisa memaklumi tindakan Jokowi yang mengingkari janji.
        ____________

        Btw anda balas komen saya tapi sama sekali tidak ada notifnya.
        Saran saya, anda bisa menggunakan plugin Jetpack, jadi nanti akan ada pilihan untuk memberikan notif email jika seandainya komentar yang diposting itu dibalas.

        Reply

        • Yos Beda
          May 12, 2014 @ 12:19:30

          Terimakasih mas Candra atas tanggapannya, berikut jawaban saya atas tanggapan dari mas Candra sebelumnya, semoga menjadi diskusi yang bermanfaat :)


          Mas Candra berkata:

          “Iya, saya mengerti kok, dari awal saya mengatakan bahwa memang Jokowi ingkar janji karena makna sesunggunya dari kalimat itu memang berjanji menjabat selama 5 tahun. Tapi yang saya maksudkan tadi adalah soal logika semantik, memaknai kalimat secara rinci kata per kata. Coba cari tahu dulu apa itu logika semantik, biar ga salah paham.

          Tanggapan saya:

          Tadi malam, sebelum saya menjawab komentar mas Candra yang pertama, saya sudah memastikan dulu kok tentang semantik. Sependek pengetahuan saya, Logika Semantik itu tidak ada, adanya Semantik Logika bersama dengan Semantik Behavioris, Semantik Deskriptif, Semantik Generatif, Semantik Gramatikal, Semantik Leksikal, Semantik Historis, Semantik Struktural dan terakhir yang saya pakai/anut di komentar sebelumnya yaitu Semantik kombinatarial (Struktural+Leksikal), bagaimanapun setiap bahasa adalah sebuah sistem, hubungan struktur yang unik antara fonem, morfem, kata, frase, klausa, kalimat.

          Kalau saya tidak salah, yang mas Candra sering ulang-ulang perihal semantik yang pendekatannya “memaknai kalimat secara rinci kata per kata” adalah termasuk dalam Semantik Leksikal, sementara saya menggunakan pendekatan semantik kombinatarial, Sebuah makna ditentukan bukan hanya oleh makna unsur-unsur pembentuknya (leksikal) melainkan juga ditentukan oleh runtutan unsur-unsur pembentuknya (struktural/gramatikal), Oleh karena itu makna sebuah kalimat berupa kombinasi antara makna leksikal unsur pembentuk kalimat dan makna struktural (gramatikal) – Parera, J.D. 2004. Teori Semantik (Edisi Kedua)

          CMIIW ya mas :) , saya bukan ahli bahasa hanya belajar bahasa dari internet, tak menutup kemungkinan yang saya pahami soal Semantik kurang tepat, hehehe

           

          Mas Candra berkata:

          Soal perjanjian bersyarat, lagi-lagi soal semantik. Jokowi tidak mengajukan syarat, bahkan tidak menggunakan kata JIKA. Serius, semantik itu penting agar tidak terjadi kesalahpahaman, pun jika dibawa ke pengadilan, yang dilihat pasti kata per kata, karena yang namanya “maksud” dan “niat” tidak bisa dinilai.

          Tanggapan saya:

          Ini soal mas Candra menanggapi silogisme saya yang ke berapa ya, ke 1, ke 2 atau ke 3 di komentar sebelumnya, saya anggap yang ke 1 ya yang ini:

          Silogisme 1
          Jika Jokowi terpilih jadi gubernur menyelesaikan 5 tahun (mayor)
          Jokowi terpilih jadi gubernur (minor)
          Jokowi menyelesaikan 5 tahun (konklusi)

          Penarikan kesimpulan secara deduktif yang saya berikan di atas harus dilihat garis waktu kapan silogisme tersebut terjadi, biar makna kontekstualnya gamblang, Prof. Sarwiji Suwandi (UNS), dalam salah satu bukunya “Semantik Pengantar Kajian Makna” (2008/Yogyakarta: Media Perkasa) memaparkan bahwa makna kontekstual (contextual meaning; situational meaning) muncul sebagai akibat hubungan antara ujaran dan situasi pada waktu ujaran dipakai.

          Kata “Jika” di atas bisa jadi memang tidak diucapkan secara langsung oleh Jokowi, tapi bagaimana bila simpulan di atas diambil dari sebuah wawancara? bukankah “bagaimana bila, bagaimana jika” adalah sebuah pertanyaan lazim yang digunakan para wartawan dalam mewawancarai narasumbernya?

          Apakah karya jurnalisme mas  Angkasa Yudhistira dari media Okezone, pada Senin, 03 September 2012 ini salah? karena dia menggunakan judul berita dengan kata “jika” sementara di kutipan wawancara isi beritanya Jokowi tidak mengatakan “jika?” Apakah simpulan judul pada berita tersebut menyalahi kaidah-kaidah jurnalisme ~> http://jakarta.okezone.com/read/2012/09/03/505/684079/jika-terpilih-jokowi-janji-tuntaskan-masa-jabatan/large

          CMIIW lagi ya mas, silahkan dikoreksi kalau tanggapan saya di atas ada yang salah, hehehe…

           

          Mas Candra berkata:

          “Ya, interpretasi anda terlalu jauh dan di luar konteks kalimat yang diucapkan Jokowi. Saya maklum karena saat itu anda sedang ngefans dengan Jokowi. Tapi lagi, ini adalah pembelajaran bagi kita, mari berbahasa Indonesia yang baik dan benar, kalau ketemu kalimat ngawur seperti yang disampaikan Jokowi segara minta klarifikasi.”

          Tanggapan saya:

          Maaf mau memastikan dulu, Mas candra tahukan ucapan saya dikomentar sebelumnya;

          Saya berkata: “bagi beberapa pemilihnya di jakarta akan muncul silogisme (3) seperti ini (walau tidak semuanya lho ya, saya tidak mau menggeneralisasi :), ini hanya apa yang ada di kepala saya bila saat itu saya ikutan pemilihan gubernur Jakarta )

          Kalimat di atas adalah sebagai pembuka untuk silogisme ke-3 saya di komentar sebelumnya.

          Silogisme 3
          Jika Jokowi berjanji menyelesaikan 5 tahun jabatan saya mencoblos Jokowi(mayor)
          Jokowi berjanji menyelesaikan 5 tahun jabatan (minor)
          Saya mencoblos jokowi (konklusi)

          Saya memastikan ini biar runtut aja, karena kok saya malah jadi bingung ketika “silogisme ke-3 saya di atas dan paragraf pembukanya dibilang mas Candra terlalu jauh interpretasinya dan keluar dari konteks” saya kok jadi bingung ya.. LOL, interpretasi yang mana? konteks yang mana? maaf mas :D

           

          Mas Candra berkata:

          Oke lah, anggap perjanjian itu memang bersyarat dan kita gunakan silogisme anda.

          Pertanyaannya:

          Apakah fair jika Si Anak yang sudah mengerjakan PR namun janjinya dilanggar oleh Sang Ayah? Saya jawab: tentu tidak fair

          Tapi jika pertanyaannya:

          Apakah fair bagi Si Pasien nyawanya diabaikan hanya demi memenuhi janji jalan-jalan pada Sang Anak? Saya jawab: TIDAK

          Tanggapan saya:

          Saya melihat “dokter menangani pasien” yang mas Candra utarakan itu kok bermakna ganda (amphyboly) ya, bila kita bedah dengan pengkondisian, bisa saja dokter menangani pasien tak lebih dar 3 jam, atau bahkan hanya satu jam, jadi waktu untuk anak-anaknya yang dijanjikan jalan-jalan sebelumnya masih tetap “eksis” :D, tapi bila pasien membutuhkan sang dokter sehari penuh saya sepakat dengan mas Candra :) *salaman*

           

          Mas Candra berkata:

          “Ketika kita bicara soal presiden, kita bukan bicara masalah rakyat Jakarta saja, tapi juga tentang nasib seluruh masyarakat Indonesia. Orang-orang di daerah itu mendambakan Jokowi. Mereka ingin pemimpin yang sederhana, merakyat, mau turun ke daerah, tidak punya sejarah buruk terhadap mereka. Apakah fair bagai mereka jika kebutuhan akan pemimpin idaman mereka diabaikan hanya karena memenuhi masyarakat Jakarta yang luas wilayahnya hanya secuil itu? Egois namanya jika orang di Jakarta hanya memikirkan nasib mereka.”

          Tanggapan saya:

          Sayapun jadi tergelitik untuk mengomentari “pemimpin idaman mereka” yang mas Candra sampaikan.

          - Benarkah orang-orang di daerah mendambakan Jokowi? ~> bisa iya bisa juga tidak :)

          - Benarkah Jokowi pemimpin idaman mereka? ~> bisa iya bisa juga tidak :)

          - Apakah Masyarakat hanya mengenal Jokowi dari pemberitaan-pemberitaan tentang beliau di media yang kuenceng abis pada 2-3 tahun belakangan ini saja? sehingga masyarakat sebetulnya tidak mengenal siapa itu Jokowi, program apa yang diusung dll.

          - Apakah faktor “news values” yang melekat pada diri Jokowi bisa saja membuat masyarakat menyukainya hanya karena populer saja karena porsi pemberitaan yang tak berimbang dibanding tokoh lain.. seperti Bapak dan Ibu saya yang pada pemilu nanti akan memilih Om Joko karena populer, hehehe..

           

          Mas Candra berkata:

          “Pemikiran anda terlalu utopis, anda bicara seakan dunia ini sempurna dan teratur. Politikus memenuhi janji, semua penjahat ditangkap polisi, pengemis diberi makan, orang pintar pasti sukses, nabung uang di bank pasti aman, dsb..”

          “Bangun! Ini bukan saatnya bermimpi, sadarilah bahwa kenyataan itu tidak seindah bayangan anda. Di dunia ini ada banyak penjahat yang menjadi pemimpin dunia, ada Hitler, Stalin, Polpot, Soeharto, jika orang jahat bisa dijegal maka orang-orang itu tidak akan sempat melakukan pembunuhan sebelum bisa memerintahkan sesuatu. Keluarga Ratu Atut, Aceng Fikri, di PDIP anak anak pengemplang BLBI, ada Aulia Pohan yang pernah terlibat korupsi, mereka kini bebas dan sedang bersiap menuju ke Senayan.”

          “Sistem kita sedang kacau, dan tidak cukup baik untuk mencegah penjahat masuk ke pemerintah, jadi lucu jika anda berharap bahwa Prabowo akan bisa dicegah cukup dengan membawanya ke Mahmakah Militer atau Komnas HAM.”

          Tanggapan saya:

          Ngga apa-apa deh saya dibilang utopis :), tapi sejarah selama ini telah berbicara memang benar ada para penjahat perang (HAM) atau tirani yang bisa digulingkan atau dieksekusi  lewat kekuatan rakyat, kekuatan media, kekuatan sosial media dll.

          1. Tirani Raja Louis XVI dan istrinya Marie Antoinette dari Perancis dieksekusi 21 Januari 1793

          2. Hosni Mubarak digulingkan ketika revolusi Mesir 2011

          3. Ben Ali, perdana menteri (PM) Tunisia, digulingkan 14 Januari 2011

          4. Saddam Hussein sang diktator Iraq, dieksekusi 30 Desember 2006.

          5. Nicolae Ceausescu, digulingkan dari posisi pemimpin Rumania pada saat revolusi rakyat, Desember 1989.

          6. Ferdinand Emmanuel Edralin Marcos dari Filipina digulingkan pada Revolusi Kekuatan Rakyat pada Februari 1986

          7. Mbah “Piye kabare? Penak Jamanku to!” :p,  sang bapak pembangunan kita digulingkan pada 1998 silam.

          Apakah sudah semua penjahat (HAM) dieksekusi? saya tak membantah bahwa banyak penjahat yang lolos dari hukuman, malah ada dari pihak yang menurut buku sejarah “baik”, ketika mas Candra menyinggung nama dari pihak poros seperti Hitler atau ideologi fasis yang dipopulerkan oleh Musolini, apakah mas Candra tahu betapa berdarah dinginnya Jendral sekutu (AS) Curtis Emerson LeMay, sang mastermind dari taktik low altitude bombing pada kota-kota di Jepang yg mengakibatkan banyak sekali jatuhny korban sipil dan kerusakan yg luar biasa, bahkan kalau saya ngga salah baca, LeMay tidak pernah menyesali apa yg telah dilakukannya terhadap rakyat Jepang dan tidak pernah meminta maaf :'(

          Jadi saya sebenarnya sedikit tersenyum ketika mas bilang saya terlalu Utopis pandangannya, sementara saya sendiri selama ini merasa selalu berdiri pada kaki skeptisisme, sebisa mungkin saya selalu memberi ruang Ketidak pastian (meragukan, mencurigakan) dalam setiap informasi yang saya baca atau dapatkan, termasuk berita soal Jokowi maupun Prabowo, sehingga saya selalu berusaha terus..terus… dan terus mencari literatur atau arsip-arsip pembanding pada berita-berita soal Jokowi dan Prabowo.

           

          Mas Candra berkata:

          “Benar bahwa tiap orang punya nilai toleransi yang berbeda terhadap kebohongan. Tapi sekali lagi anda terlalu utopis. Ini politik, dan politik itu kotor? Memangnya apa yang anda bayangkan? Berharap menemukan manusia suci dalam dunia politik itu sama seperti berharap menemukan berlian di pasir pantai.”

          Tanggapan saya:

          Saya yang mengaku selalu berdiri pada kaki skeptisisme saja kaget lho baca pernyataan mas Candra di atas :), apakah mas Candra termasuk orang yang punya pandangan bahwa semua orang yang ada di gedung DPR tak ada yang baik/jujur? apakah mas Candra berpandangan bahwa semua orang yang duduk di jajaran menteri pemerintahan nanti tak ada yang baik/jujur?

          Saya selalu percaya pada sekumpulan orang-orang yang “kurang baik” ada satu atau dua orang baiknya, seperti keyakinan saya pada Sosok Jokowi dua tahun silam yang saya tuangkan dalam tulisan ini ~> http://www.yosbeda.com/jokowi-jadi-gubernur-jakarta-setangguh-rubah-padang-pasir-kah , terlepas pandangan saya terhadap Jokowi hari ini yang berubah ya, hehehe..

           

          Mas Candra berkata:

          Anda mengabaikan fakta bahwa:

          Suara PDIP di Jakarta pada pemilu sebelumnya, baik di 2004 dan 2009 kecil, kalah dari PKS, kalah dari Demokrat, bahkan kalah dari Golkar. Lha kok sekarang bisa nambah 300% emangnya di tahun 2009 itu kader PDIP gak kerja?Emangnya di tahun 2009 Puan Mahari sedang cuti hamil?

          Tanggapan saya:

          Yang soal hasil pemilu 2004 di DKI jakarta  akan lebih fair bila mas Candra juga memasukan variabel “Kedigdayaan PKS” kala itu di jakarta baik dari Citra, kaderisasi maupun mesin partainya di jakarta, kemudian yang pemilu 2009 di DKI jakarta juga akan lebih adil bila mas Candra memasukan faktor “kehebatan demokrat” kala itu, jadi bukan karena mesin partai PDIP ngga jalan saat itu, namun lebih kepada mesin partai dan citra partai lawannya Demokrat dan PKS yang saat itu lebih unggul, makanya PDIP bisa kalah.

          Bila PDIP sekarang kita saksikan menang besar di jakarta, menurut hemat saya, tak mutlak karena Jokowi Efek saja, melainkan limpahan suara para pemenang terdahulu (PKS dan PD) yang suaranya “nggembos” pada pemilu 2014 ini, ditambah 3 faktor yang saya sebutkan di komentar saya sebelumnya.

          1. Andil dari caleg-caleg PDIP yang tentu punya basis pemilih yang telah “dibina” :D #IYKWIM

          2. Pemilih loyal PDIP dari para Soekarnoeis dan Marhaenis, saya ngga tahu persis jumlahnya di jakarta berapa banyak, namun saya asumsikan tak sedikit.

          3. Peran dari Bapilu PDIP di pemilu 2014 yaitu mbak Puan Maharani, yang pintar melihat peluang, dengan membuat kampanye kreatif dan menarik para pemilih muda, yang sebelumnya pemilih muda adalah khas dari pemilihi PKS atau PD, yang kita ketahui adalah pemenang pemilu di DKI terdahulu.

          Sekedar menambahkan, saya tidak menafikan “Efek Jokowi” pada pemilu ini, khususnya di DKI Jakarta, Saya juga tak menyangkal ada warga jakarta yang menginginkan Jokowi nyapres

          Bahkan di paragraf ke-3 artikel asli saya di atas saya menulis: “Ada yang bilang bahwa nyapresnya Jokowi adalah keinginan rakyat, saya tak menyangkalnya, ada sebagian masyarakat yang terpesona dan kagum dengan gaya kepemimpinan Jokowi saat menjadi walikota Solo.”

           

          Mas Candra berkata:

          Justru saya melihat sebaliknya, PDIP bukan partai yang begitu disukai, saya tidak suka PDIP, saya tidak suka Megawati, tapi demi Jokowi saya memilih PDIP, bisa jadi orang yang suka Jokowi tidak memilih PDIP karena begitu anti pada partainya sehingga bisa asumsinya orang yang setuju pada Jokowi jumlahnya lebih banyak dari suara PDIP itu sendiri.

          Oke lah, kita jangan menghayal. Kalau mau data survei, ini ada.

          Menurut survei IPI 69% penduduk Jakarta itu setuju Jokowi nyapres, tuh lebih banyak kan..

          Sebelumnya saya bilang bahwa jika rakyat Jakarta ngotot, itu artinya rakyat Jakarta egois, tidak mementingkan aspirasi rakyat di luar Jakarta, dan menurut survei lagi, bahwa 76% rakyat di luar Jakarta setuju Jokowi nyapres.

          http://dekandidat.com/2014/03/18/76-persen-rakyat-indonesia-setuju-jokowi-menjadi-capres/

          Bagi saya ini hanya soal prioritas dan soal pemenuhan aspirasi untuk bisa memaklumi tindakan Jokowi yang mengingkari janji.

          Tanggapan saya:

          Yang soal survei, kalau dari berita ini ( http://pemilu.tempo.co/read/news/2014/03/19/269563498/69-Persen-Warga-DKI-Setuju-Jokowi-Capres ) survei itu dirilis 18 maret 2014, kurang lebih dua bulan lalu ya, sependek yang saya ketahui sebuah survei hasilnya fluktuatif, apakah data tersebut masih relevan  kita gunakan sebagai materi pada diskusi kita hari ini, 12 mei 2014. masih relevan ngga sih? lho kok jadi malah nanya yos.. LOL

          Sekalian saya mau bertanya, bukan menyanggah hasil survei para pakar survei yang expert itu lho ya ini, hanya mau bertanya saja, saya awam soal survei mas Candra.

          1. Cara pengambilan sampel dalam survei tersebut seperti apa sih?

          A. random kah, apakah acak 10 juta warga jakarta dipilih 400 orang?
          B. Berdasar Proporsi, 400 sampel mewakili kecamatan, misal setiap kecamatan dipilih sekian orang, secara acak.
          C. Berdasar klaster, berdasarkan tingkat pendidikan,atau yang lain?

          2. Tarohlah pengambilan sampelnya benar, apakah jumlah 400 sampel yang disebutkan tersebut benar-benar pantas mewakili penduduk Jakarta yang jumlahnya sekitar 10 juta-an orang?

          Lagi lagi menurut hemat saya yang miskin ilmu statistika ini, hehehe… potensi terjadinya bias data kok relatif tidak kecil ya, 400 sampel dari 10 juta orang :D

          Mohon pencerahannya mas Candra, kali aja saya dapat pengetahuan baru setelah mas Candra jelaskan..

          Diskusi yang baik adalah diskusi yang banyak manfaatnya daripada mudaratnya, betulkan mas, hehehe..

          Salam

          Rated E Blogger

          Reply

  44. wwjd
    May 12, 2014 @ 00:34:37

    Jgn mdh terbawa arus kata2 negative org yg tdk mampu mjd pemimpin, sehingga bisa nya hanya menjelek2kan org lain dan menganggap diri ttap mulia dan berhati baik dgn alasan uneg2. Kasian sih Sama org sprti ini. Diri sndri aja blm tentu benar.. Jgn sk judge org lain.

    Reply

    • Yos Beda
      May 12, 2014 @ 12:48:43

      Sebelumnya maaf mas/mbak ,bila ada salah-salah kata, atau yang tidak berkenan dari tulisan saya di atas, bila tulisan saya tersebut mas/mbak interpretasikan sebagai penghinaan terhadap orang lain, saya tak ada maksud untuk itu, alangkah bijaknya bila mas/mbak membaca kembali tulisan saya tersebut pelan-pelan, adakah hinaan yang saya lontarkan atau anggapan bahwa saya sebagai penulis adalah orang yang mulia? :)

      Reply

  45. fauzi
    May 12, 2014 @ 00:49:05

    Mencermati tulisan ini beserta komen2 nya sangat menarik..yg saya salut mas yos menanggapi semua komen yg masuk dan merepon komen yg menjatuhkan dg bahasa yg santun dan data yg valid shg membuat “lawan” nya mjd tak berkutik dan tdk melanjutkan manuver mrk..tetap berkarya mas dg intelegensi anda..

    Reply

    • Yos Beda
      May 12, 2014 @ 16:03:15

      Makasih mas Fauzi atas apresiainya, saya berusaha berhati-hati dalam menulis maupun menjawab setiap komentar, biar ngga ada yang tersakiti, tau sendiri kan kekuatan sebuah kata atau kalimat kadang bisa setajam pisau, hehehe… Dalam tulisan saya di atas saya berusaha agar tidak melebar topiknya, yaitu hanya kekecewaan saya pada mantan idola saya dalam soal “kejujuran-nya” saja.. Jadi hal yang biasa kok, ketika data yang saya punyai cukup kuat dan akurat, di era digital seperti sekarang ini setiap ucapan tindakan atau perbuatan bisa terdokumentasi dengan jelas dan tersimpan rapi di dunia maya selama file tersebut tidak dihapus :), dah kek buku catatan malaikat.. hehehe.. terimakasih sekali lagi ya mas Fauzi, telah mampir dan sudi meninggalkan komentar yang positif :)

      Reply

  46. atmo
    May 12, 2014 @ 11:58:02

    Entah dibayar atau tidak dibayar, tulisan macam ini memancing orang berpendapat karena opini yang dilontarkan sangat tulus. Dan yang penting, seluruh komen dibaca dan ditanggapi dengan serius oleh penulis (salute!!)
    Aku seneng dengan perbedaan pendapat macam ini, membuat orang jadi mulai berpikir sendiri. BIla akhirnya memilih salah satu calon, nantinya bukan karena ikut-ikutan namun karena punya alasan dan prinsip sendiri.
    Salam kawan
    ATMO

    Reply

    • Yos Beda
      May 12, 2014 @ 16:09:22

      Makasih mas Atmo, kawanku dari komunitas blogger bengawan (Solo)
      Terimakaih mas, telah meninggalkan komentar yang positif dan membangun, semonga pembaca-pembaca lain tulisan saya ini juga terispirasi bahwa sebuah perbedaan pendapat itu hal yang positif, Tak perlu marah-marah bila berbeda karena akan lebih indah bila kita selalu bisa mengedepankan dialektika di antara kita yang berbeda pemikiran atau pandangan, hehehe..

      Reply

  47. kerja online
    May 14, 2014 @ 13:26:41

    bener banget mas yos padahal saya sangat ,mengagumi dan mendukung jokowi….tapi semoga nantinya negara ini jadi negara maju…siapapun pemimpinnya

    Reply

    • Yos Beda
      May 14, 2014 @ 15:18:13

      Iya mas, semoga siapapun presidennya Indonesia bisa menjadi lebih baik dan lebih hebat dari sekarang :)

      Reply

  48. Caldenni
    May 14, 2014 @ 15:00:42

    Kalau kita lihat realita nya, kayaknya sudah hampir pasti Jokowi menang nih. Apalagi pak Prabowo pasangannya Hatta Rajasa yang notabene elektabilitasnya ga sebagus lawan. Awalnya saya mau milih dia, tapi kok lihat cawapres nya jadi nda pede….

    Ane sendiri ada di pihak orang-orang yang mendukung Jokowi 4 Gubernur… Ane ngerasa pencapresan Jokowi bener2 dipaksakan PDIP (sudah bosan jadi oposisi, mungkin?). Beliau masih harus di ‘matang’ kan dalam pertarungan di Jakarta sebelum total ngurus Indonesia.

    Kecewa? Iya. Sejujurnya ane berharap si Jokowi diusung partai selain PDIP… Akhirnya saya pilih siapa? Tergantung pergerakan Demokrat. Moga2 mereka mau ngeluarin Dahlan Iskan digabung sama Mahfud MD. Harapan yang mustahil? Bisa ya, bisa tidak.

    Reply

    • Yos Beda
      May 14, 2014 @ 15:36:49

      Iya mas Denni, memang elektabilitas pak Hatta relatif rendah, namun saya pikir itu juga pilihan yang tidak terlalu buruk, pilihan Gerindra sangat terbatas, dengan suara yang hanya 12% Gerindra ngga bisa milih suka-suka hati kaya PDIP yang dari awal sudah ditutup lubangnya sama Nasdem, sementara gerindra? kita tentu masih ingat buat narik PPP masuk ke koalisi saja harus lewat prahara ketum dan sekjennya PPP :D

      Dengan waktu yang semakin mepet ditambah tidak ada titik temu dengan Golkar bersama Icalnya, ya wis milih Hatta saja.. pak Hatta bisa jadi diterima di mata partai koalisi kawan gerindra lain, PPP dan PKS, kalau gerindra itu orang mungkin dalam hati bilang “ambil ini aja daah, daripada ngga maju sama sekali…!” hehehehe :D

      Saya ngelihat Prabowo bisa saja menang pemilu presiden bila hari-hari ini sampai hari pencoblosan nanti bisa dimanfaatkan untuk mengklarifikasi atau memainkan opini tentang “cacat bawaan” yang dibawanya sejak dulu yaitu soal penculikan itu (terlepas prabowo salah atau tidak ya), kalau ngga ya bisa kalah telak nanti Prabowo, apalagi kalau “cacat bawaaan” ini dimainkan oleh pihak lawan.. selesai deh.. “Prabowo Berjasa” :) IMHO

      Reply

  49. nadia
    May 21, 2014 @ 08:18:35

    bener mas saya dulu, jagoin Jokowi waktu lawan si “Kumis” enggak peduli dia dikatain gila kekuasaan “Solo aja belum beres” tapi sekarang saya ogah, jadi ingat waktu Jokowi ditanya apakah akan nyapres ? “ini aja belum beres” Ahok pun ditanya ” Jokowi lebih baik nyapres apa jadi Gubernur Jakarta dulu”, Ia pun menjawab “jadi gubernur dulu” (saat diTrans TV).
    Tapi sekarang ? kok nyapres, alasannya kalo Jokowi jadi presiden akan lebih mudah mengatasi Jakarta, khususnya banjir jadi enggak apa-apa meninggalkan janji terdahulu. sekarang coba berpikir saat ia maju sebagai Gubernur Jakarta, apakah lebih bisa mengatur Solo ?
    Jokowi memang enggak tegas untung ada Ahok yang super, soal nepatin janjinya ?
    kalo mau benahi Jakarta, berani tolak dong “Gue pasti pilih anda, pemilu mendatang”

    Reply

    • Yos Beda
      May 21, 2014 @ 14:50:57

      Makasih mbak nadia sudah berbagi pengalaman dan keluh kesahnya, hehehe, Saya jadi tertarik pandangan mbak nadia soal Ahok, yang saya tangkap mbak Nadia masih menaruh harapan besar pada sosok Ahok ya, sama seperti saya, sekitar beberapa waktu lalu, ketika melihat Ahok kinerja serta aksinya yang “sat-set..bat-bet..” (bahasa jawa: cekatan) menurut pandangan saya keren, saya sempet sebel sama Ahok, kenapa? karena Ahok kok lebih bagus dari Jokowi ya, sebagai penggemar Jokowi saat itu seakan ngga rela, hehehehe..

      Tapi sekarang saya senang melihat Ahok, meskipun kemungkinan besar bakal ditinggalkan Jokowi, Jakarta saya pikir akan bisa jadi lebih baik di tangan pak Ahok, tak perlu juga berharap muluk-muluk apa nanti peran Jokowi ketika jadi RI 1 buat DKI Jakarta, selama Ahok tetap “trengginas” seperti sekarang ini pastilah dia akan jadi Gubernur yang 100 kali lebih baik dari Jokowi, semoga pak Ahok tak mengumbar janji A,B,C,D ya, ntar malah ribet kalau ngga bisa menepati.. hehehe

      Reply

  50. rakyat biasa
    May 21, 2014 @ 12:40:21

    Saya hanya rakyat biasa yg ingin indonesia jadi lebih baik. Ijinkan saya ikut menyampaikan pandangan saya ya mas.
    Saya yakin sekali dalam hati pak jokowi ingin menuntaskan tugas jabatannya sbg gubernur dki selama 5 tahun. Tapi dalam hati kecil dan pikiran kecil pak jokowi saya yakin dia terusik dgn pilihan yg ada. Saya rasa dia memiliki tanggung jawab moral yg besar thdp bangsa ini. Mungkin beliau melihat sosok prabowo yg belum kapabel utk memimpin bangsa sebesar indonesia ini. Pengalaman pak prabowo belum ada sama sekali di pemerintahan. Bahkan di militer jg tidak selesai karena kasus HAMnya. Ini mungkin yg menurut saya mendorong pak jokowi utk maju demi membangun indonesia utk kepentingan yg lebih banyak tanpa mengorbankan kepentingan yg lebih kecil yaitu warga jakarta. Kerangka kerja pemda dki utk 5 tahun ke depan sudah direncanakan dan dirumuskan bersama2 dgn wakilnya yaitu pak ahok dan ada sebagian proyek yg sudah berjalan dan bahkan sudah selesai. Dan saya melihat di sini kapasitas ahok utk meneruskan tugas jokowi juga sama baiknya dgn jokowi sendiri. Bahkan kalau boleh saya berikan penilaian pribadi, pemikiran2 ahok kadang lebih cemerlang dari jokowi. Jadi utk apa warga merasa takut kalau jokowi jadi presiden? Saya pikir alasan2 itu murni hanya dimunculkan sebagai black campaign. Demikian kurang lebih pandangan dari saya. Trimakasih.

    Reply

    • Yos Beda
      May 21, 2014 @ 14:53:23

      Terima kasih mas rakyat biasa telah berkunjung ke blog saya dan sudi meningglkan sudut pandangnya soal Pak Jokowi :)
      Lagi-kagi saya tertarik dengan pernyataan mas tentang Ahok ya, seperti di komentar sebelum mas, yaitu mbak Nadia juga sangat berharap pada Ahok..
      Ketika anda bilang “saya melihat di sini kapasitas ahok utk meneruskan tugas jokowi juga sama baiknya dgn jokowi sendiri” saya malah melihatnya Ahok bisa lebih dari Jokowi, kita lihat saja kedepannnya seperti apa ya, semoga lebih baik :)

      Reply

  51. suara hati
    May 21, 2014 @ 19:27:08

    Mungkin kalo Pak Jokowi tidak berjanji :

    “8. Akan memimpin Jakarta selama lima tahun. Tidak menjadi kutu loncat dengan mengikuti Pemilu 2014. (Jumpa pers di rumah Megawati Soekarnoputri, 20 September 2012)”
    dari kutipan : http://www.republika.co.id/berita/pemilu/berita-pemilu/14/03/15/n2h8sz-ingat-inilah-19-janji-jokowi-saat-pilgub-dki-2012

    saya masih respect ke beliau. Tapi mau bagaimana lagi, beliau sudah maju menjadi capres. Jika ada orang yang sudah berjanji kemudian tidak menepati janji tersebut, pasti mas yos tau rasanya…
    Mudah-mudahan negara Indonesia bisa lebih baik…
    Amin…

    Reply

    • Yos Beda
      May 22, 2014 @ 10:16:31

      Terima kasih mas telah meninggalkan komentar di tulisan saya, iya mas benar.. soal kejujuran adalah hal yang saya soroti dalam tulisan saya, tak melebar kemana-mana, hehe… kan semua hal baik dimulai dari yang kecil, kalau hal kecil sudah tidak jujur apa jadinya ketika mengurusi hal yang lebih besar.. :)
      Mudah-mudahan negara Indonesia bisa lebih baik, Aamiin :)

      Reply

  52. teguhkiyatno
    Jun 01, 2014 @ 21:45:43

    Asyik bener diskusinya, mas. Kapan-kapan boleh nimbrung, ya ?

    Reply

    • Yos Beda
      Jun 10, 2014 @ 13:04:48

      Hehehehe… iya mas.. silahkan menimbrung :D

      Reply

  53. syaiful
    Jun 03, 2014 @ 08:30:11

    menurut saya hati wanita itu memang sakit hati, tapi dia harus move on. Karena Jokowi tidak benar2 meninggalkannya. Bisa dibilang mereka sekarang lagi menjalani Long Distance Relationship. Btw, kalau pilihannya Jokowi dan Prabowo, wanita pasti memilih Prabowo karena PRabowo lebih ganteng. hehehe

    Reply

    • Yos Beda
      Jun 10, 2014 @ 13:05:27

      Doh, malah tekan LDR, hahahahaha

      Reply

  54. 3iw
    Jun 04, 2014 @ 23:20:44

    saya bukan orang jakarta sih mas, saya orang jawa barat. tapi saya juga kecewa dengan jokowi. saya sih gak benci sama jokowinya tapi lebih gak suka sama orang partainya yang maksa-maksain jokowi jadi presiden. jadi jokowi jadi kayak dipermainkan, menolak perintah partai takut salah, menerima perintah partai dibilang tidak amanah seperti sekarang :P.

    cuma saya gak yakin juga kalau jokowi jadi presiden dia akan terus menepati janjinya mengurus jakarta. karena pas jadi presiden pasti dia akan langsung menerima 1001 tuntutan masalah negera ini, dan itu bukan hanya jakarta. ngurus jakarta sih pasti sempet tapi gak 100% optimal tidak seperti kalau dia jadi gubernur. pasti nanti dia juga harus blusukan kemana-mana selain jakarta juga kan? :V

    yakin sempet mengurus jakarta? kalau dia melempar tanggung jawab atau bahasa lembutnya menitip tanggung jawabnya ke ahok bagaimana? apa itu bisa dibilang jokowi memenuhi janji? wawlahu a’lam

    Reply

  55. Toto
    Jun 05, 2014 @ 09:45:51

    kalo aku masih berat ke pakdhe jokowi mas
    beda gapapa ya,, yg penting rukun :)

    Reply

  56. Cherumu.com
    Jun 06, 2014 @ 13:57:53

    walaupun berbeda kita tetap satu

    Reply

  57. Agen Obat 69
    Jun 15, 2014 @ 01:00:52

    Semoga pemilu 2014 berjalan dengan aman dan damai aja.
    Dan semoga mendapatkan pemimpin yang terbaik.

    Reply

  58. zaid arker
    Jun 19, 2014 @ 23:30:44

    Artikel yg bagus mas, izin share ya :D

    Reply

  59. Samsung Galaxy
    Jun 27, 2014 @ 11:10:11

    ya memang sih kalo pak jokowi udah ada janji kayak gitu, cuman kan bukannya lebih penting lagi memimpin Indonesia yang lebih besar daripada jakarta. berarti itu menunjukan bahwa pak jokowi sudah membuktikan kemampuannya dalam memimpin.
    ya anggap aja comen’ku angin lewat dah. pokoknya postingannya bagus gan. lanjutkan .hhe

    Reply

  60. Giri
    Jul 03, 2014 @ 01:15:12

    Jakarta masih dikatakan jauh dari kata ” sehat ” belum lagi di tambah masalahnya di masa depan .

    Mungkin akan sangat kacau sekali negeri ini kalo dipimpin oleh seorang yg gemar meloncat ke kasta yg lebih tinggi, apalagi secara umum kinerja beliau juga belum terbilang cukup bagus meskipun di dongkrak dengan blusukan atau kartu jakarta sehat dan semacamnya . Ibarat IQ aja 105 malah minta masuk kelas akselerasi .

    Appreciated bung yos!

    Sangat disayangkan juga masih banyak para pembaca ” fanatikers ” yg absolutely blunder dalam membaca artikel ini .

    Reply

  61. Melilea
    Jul 17, 2014 @ 04:31:37

    jokowi masih oke lah..cuma yang saya tidak suka adalah ketuanya!!!!ujung-ujung nya jadi males juga pilih jokowi..

    Reply

  62. arra
    Jul 26, 2014 @ 10:53:56

    Kata orang, melanggar “Janji demi Kebaikan” itu boleh jeh, oke saya balikan kata katanya, bila suami/istri minta cerai lantaran cuma karena pengen yg lebih cantik/ganteng, piye prasaanmu jal.

    tapi semuanya udah terlambat…

    Reply

  63. feizuldaanis
    Aug 10, 2014 @ 20:12:41

    ia,, rencana kan bisa saja berubah ,, dulu dia mau pimpin ampe tunta,, skarang pikirannya berubah apa yang salah,, indonesia gak dirugikan kokkk,,!

    Reply

  64. Tim
    Aug 15, 2014 @ 16:01:03

    Semoga Indonesia dan rakyatnya tetap damailah, siapapun pemimpinnya. Dan semoga kita diberikan pemimpin yang paling baik.

    Reply

  65. Bicara Ngalor-ngidul Soal Presiden Jokowi, Rasa Cinta, dan Rasa Benci
    Oct 19, 2014 @ 15:05:07

    […] Saya sendiri bukanlah pemilih Joko Widodo pada pilpres April lalu, saya tidak memilih Jokowi saat itu karena punya alasan pribadi yang berasal pada kesalahan saya sendiri yang begitu mengagumi secara berlebihan Jokowi dan menggap beliau adalah makhluk sempurna yang tak pernah berbuat dosa, maka ketika Jokowi berbuat tercela sedikit saja saya langsung teguncyaaaang, hehehe.. cerita selengkapnya bisa dibaca di tulisan saya sebelummnya di sini. […]

    Reply

Leave a Reply

*

Back to Top