Bicara Ngalor-ngidul Soal Kebhinnekaan, Kemerdekaan dan Papua

Oleh: - 16 Agustus 2013  |

Instagram

Bali - Indonesia
Bali – Indonesia (Shutterstock.com)

Bhinneka Tunggal Ika, terabadikan dengan gagah kalimat sakti ini dicengkraman cakar Sang Garuda, cukup lama saya mendengar kalimat ini, mungkin sejak saya belum bisa membaca dan menulis, telah lama kata ini mengisi perbendahraan kata di otak saya, saya pun kemudian bertanya, sudahkah saya memaknai “Bhinneka Tunggal Ika” ini sebagaiman mestinya, sebagaimana apa yang diinginkan oleh para bapak pendiri bangsa ketika menjadikan Bhinneka Tunggal Ika  sebagai motto negara kita tercinta, Indonesia.

Besok, bangsa kita merayakan Hari kelahiranya, 17 Agustus 68 tahun lalu Soekarno dan Hatta membacakan naskah proklamasi kemerdekaan bangsa ini, setelah cukup lama bangsa kita menjadi bangsa yang terjajah. Indonesia adalah sebuah bangsa besar yang tercipta dari keberagaman suku, bahasa, agama, ideologi dan budaya. Sebuah hal yang luar biasa ketika para pendahulu kita bisa menyatukan Nusantara yang berbeda-beda ini, 68 tahun telah berlalu dan bangsa kita masih kokoh bersatu, sungguh saya bangga menjadi bagian dari bangsa ini.

Berbicara mengenai kebanggaan menjadi warga sebuah negara, tak bisa lepas dari pertanyaan Bangsa ini milik siapa? bangsa ini adalah milik kita bersama, kita terlahir bersama, tumbuh bersama dan insyaAllah akan menjadi bangsa yang besar bersama-sama. Saudaraku sebangsa dari sabang sampai maluku, ingatkah saat kakek-kakek kita bersama-sama menghadapi agressor yang beringas, mulai dari si kulit putih yang pelit dan si kulit kuning yang kejam. mereka para pejuang bangsa mengesampingkan warna kulit, bahasa, agama, ideologi, budaya untuk berjuang bersama hingga akhirnya kita bisa merdeka.

Baca juga:

Mungkin ada yang bertanya, di paragraf atas kenapa saya tulis “Saudaraku sebangsa dari sabang sampai maluku” kenapa ngga sampai Merauke, Papua?, tanpa mengurangi rasa respek saya pada para pejuang Trikora, sesungguhnya setelah merdeka dan terlepas dari penjajah, kita malah seperti menjajah saudara sesama manusia di Papua, padahal yang saya tahu salah satu ciri bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa memanusiakan manusia.  Bukan berarti saya tidak nasionalis ketika berbicara seperti ini, bahkan karena sayangnya saya dengan bangsa ini saya punya pandangan seperti ini.

Sependek yang saya tahu ketika proklamasi dikumandangkan 68 tahun lalu kita bersaudara dari sabang sampai maluku, tak ada Papua di situ. Memang sidang ke-2 BPUPKI 10 Juli 1945 menyatakan bahwa Papua masuk dalam rencana wilayah Indonesia, setelah terjadi perdebatan yang cukup sengit antara Hatta dengan Mohammad Yamin dan Soekarno. Saya sendiri mempunyai pandangan yang sama dengan bung Hatta, bahwa papua bukanlan bagian dari Nusantara, dan benar saja ketika ikrar kelahiran bangsa ini 17 Agustus 1945 Papua memang tidak termasuk dalam wilayah NKRI.

Papuan tribe in traditional clothes
Papuan tribe in traditional clothes (Byelikova Oksana / Shutterstock.com)

Bila 20-30 tahun lagi mereka bangsa papua benar-benar bisa merdeka dari Indonesia bukanlah hal yang mengejutkan buat saya, dan kita juga seyogianya tak perlu bersedih, kehilangan sesuatu yang sebelumnya memang bukan milik kita itu suatu hal yang bisa, berbeda cerita bila kita dan mereka memang dilahirkan bersama menjadi sebuah bangsa. Ibarat sebuah manusia, Indonesia seperti merampas yang bukan haknya, hal itu membuat saya kadang sedikit berfikir bahwa bangsa kita kenapa tak kunjung menjadi bangsa yang besar karena masih menahan yang bukan haknya ini.

Saya meyakini tanpa Papua pun Indonesia tetaplah bangsa yang besar, bangsa yang kaya, bangsa yang disegani. Tentu akan sangat bahagia bila kelak kita bisa menyaksikan anak cucu kita bisa tumbuh bersama menjadi pemuda-pemudi kebanggaan bangsa yang cinta kasih, tak suka menindas dan jauh dari sifat merusak. 68 tahun berlalu kita bersama bisa menjaga kebhinnekaan ini, mari kita teruskan perjuangan ini, dan buat bangga para pendahulu kita pendiri bangsa Indonesia.

Referensi:

http://jurnalrepublik.blogspot.com/2007/07/stem-ala-bpupki.html

http://cerminpapua.com/index.php?option=com_content&view=article&id=226:papua-menggugat-aneksasi&catid=13:kaum-tak-bersuara&Itemid=30

Berita Terkait.

20 Komentar

  1. Info Kesehatan
    1 September 2013 @ 08:58:16

    Papua menurut kami bukan sekedar soal ikhlas atau tidak ikhlas merangkul atau melepaskan, namun lebih merupakan perjalanan politik bernegara. Rumit karena terlalu banyak kepentingan didalamnya …
    Yang penting bangun dan majukan masyarakat Papua … jangan cuma mau sumber daya alamnya saja.

    Reply

  2. Doni
    3 September 2013 @ 14:36:01

    biarkan saja lah papua merdeka, Opini dan Faktaku

    Reply

  3. lukman hakim
    7 September 2013 @ 11:04:11

    semangat kebangsaan saat ini memang sudah sangat mengkhawatirkan. setiap orang cenderung lebih mementingkan diri dan koleganya.

    Pendidikan kewarganegaraan dan kebangsaan harus menjadi perhatian kita kembali. Ekspos pendidikan yang satu ini memang dirasa sangat kurang, kalau tidak bisa disebut tidak ada sama sekali.

    Reply

  4. Lizar Arvian
    2 Januari 2014 @ 15:13:36

    bagus mas tulisannya 🙂
    IMHO, kalau papua lepas dari Indonesia seharusnya Indonesia tidak usah mempersalahkan. kenapa? coba kita lihat saja kondisi papua sekarang. kekayaan alamnya yang luar biasa melimpah tidak benar-benar bisa dinikmati oleh masyarakat papua itu sendiri. kenapa? bobroknya birokrasi Indonesia berimbas juga ke papua, banyak juga orang2 papua “gendut” yang duduk di bangku pemerintahan. kekayaan alam papua saja seharusnya sudah bisa bikin Indonesia lebih kaya dari amerika. tapi dalam kenyataannya kita cuma kebagian cipratannya aja, dagingnya dinikmati orang asing dan kalangan elit pejabat yang punya kepentingan2 pribadi. kasihan rakyat2 kecilnya yang hidup jauh dari kata wajar. padahal mereka berhak atas kekayaan alam yang luarbiasa melimpah itu.

    walaupun di satu sisi memang benar papua tanpa Indonesia mungkin belum siap untuk berdiri sendiri. toh mereka yang hidup satu pulau saja masih sering perang suku dan budaya korupsi di kalangan elit, budaya mabok2an di kalangan bawah, papua juga mengalami yang namanya krisis moral. bagaimana mau membangun papua menjadi sebuah negara yang maju?

    menurut saya satu2nya solusi adalah sosok pemimpin yang seperti “Ratu Adil”. Pemimpin yang hanya mau mengabdi pada Tuhan sehingga mau mensejahterakan rakyatnya, bukan malah menindas. kalau sudah ada pemimpin seperti itu, bukan hanya papua, Asia bahkan dunia pun bisa kita satukan. pertanyaannya adalah kapankah sang Satria Piningit itu datang? kita tunggu sja, namun saya 1000% yakin bahwa Tuhan akan mengirim “Utusan-Nya” itu. Salam.

    Reply

  5. satriyoku
    22 Maret 2015 @ 17:54:30

    kalau bisa mending papua tetap bersatu dengan indonesia..biar keragaman sukunya tetap satu

    Reply

Tinggalkan Balasan