Dulu Saya Begitu Memuja dan Mengidolakan Jokowi, Namun Sekarang?

Oleh: - 30 April 2014  |

Instagram

Janji Jokowi
Janji Jokowi

Saya mempunyai rasa kagum yang mendalam pada sosok Joko Widodo sebelum dia mencalonkan diri jadi Calon Presiden. Bahkan dua tahun silam, saat beliau terpilih menjadi Gubernur Jakarta, saya sempat membuat sebuah tulisan berjudul “Jokowi Jadi Gubernur Jakarta, Setangguh Rubah Padang Pasirkah?” Pada tulisan tersebut, saya ungkapkan kekhawatiran saya bila ‘orang baik’ seperti Jokowi akan terlihat buruk ketika berada di lingkungan yang ‘salah’. Di tulisan itu, Jokowi mengingatkan saya pada jenderal perang era NAZI idola saya, Erwin Rommel, sang Rubah Padang Pasir, orang  yang baik di tempat dan waktu yang salah hingga membuatnya seakan terlihat buruk.

Sebagai orang yang pernah tinggal dan bekerja di Solo pada era kepemimpinan Jokowi, saya tak asing dengan sepak terjang Jokowi yang terkenal cekatan, bersih serta  jujur dalam memimpin Solo. Berkaca dari hal tersebut, tak heran bila intuisi (bisikan/kata hati) saya kepada beliau selalu baik, bahwa pria kelahiran 21 Juni 1961 ini adalah sosok manusia yang cerdas, lelaki yang bijaksana, dan pemimpin yang jujur. ‘Orang baik’, kesan itu yang tak dapat saya tolak ketika melihat sosok Joko Widodo waktu itu. Mungkin saja sekitar tahun 2020-an beliau akan menjadi pemimpin yang baik untuk Negeri ini, pikir saya saat itu.

Namun sekarang apa yang saya lihat dari jokowi menjadi berbeda, tepatnya sejak beliau mencalonkan diri jadi capres di pilpres 2014 nanti. Dengan mencalonkan diri menjadi Presiden pada pilpres tahun ini, saya melihat Jokowi telah berbohong, melanggar janji dan menghianati amanah yang diberikan pada dia saat terpilih menjadi Gubernur DKI jakarta. Ada yang bilang bahwa nyapresnya Jokowi adalah keinginan rakyat, saya tak menyangkalnya, ada sebagian masyarakat yang terpesona dan kagum dengan gaya kepemimpinan Jokowi saat menjadi walikota Solo. Sayapun termasuk  orang yang kagum dan berharap style kepemimpinan Jokowi waktu menjadi walikota Solo akan berguna ketika menjadi Presiden Indonesia pada gilirannya nanti, ketika beliau sudah siap dan PRnya di Jakarta sudah dituntaskannya.

Baca juga:

 

Janji, iya Janji!!! itulah yang membuat saya kecewa, andai saja dulu beliau tidak berjanji.  Kita tentu tahu bagaimana beliau dulu berjanji untuk mempimpin Jakarta selama 5 tahun penuh. Kita pastinya juga tak lupa, ketika Jokowi ditanya awak media soal survei yang menempatkan dirinya di urutan teratas daftar capres, dia selalu menanggapinya dengan dingin dan berkata, “ngga mikir survei capres mau konsentrasi mengurus masalah rusun, monorel, MRT dan banjir jakarta,” Kalimat Jokowi barusan runtuh pada Jumat, 14 Maret 2014 silam, ketika Megawati Soekarnoputri membacakan pemberian mandat pencapresan Joko Widodo.

Saya yang bukan warga Jakarta sedikit banyak bisa merasakan kekecewaan warga Jakarta yang dulu memilihnya menjadi Gubernur, saat mereka memilih pria lugu dari kota Solo untuk memimpin Jakarta dengan harapan yang besar. Jika diibaratkan, warga jakarta yang dulu memilihnya adalah seorang wanita lajang yang sedang mengadakan sayembara mencari suami, kemudian Jokowi ikut sayembara tersebut dan memenangkan hati sang wanita dengan janji setianya. Jokowi akhirnya menikahi wanita itu, pria yang di mata wanita itu adalah seorang yang lugu dan baik hati. Dia berjanji akan menjadi imamnya dan tidak berpindah ke lain hati.

Baru seumur jagung kemesraan sang wanita (warga jakarta) dengan sang pria lugu (Jokowi), tiba-tiba sang pria sudah bersiap-siap untuk meninggalkan si wanita, mengingkari janji setia yang pernah diucapkannya. Hati wanita mana yang tak terluka, pria lugu yang sangat diharapkan menjadi imam keluarga malah akan pergi begitu saja, meninggalkan permasalahan keluarga yang belum terselesaikan. Andai saja dulu sang wanita tahu bahwa pria lugu ini akan mengingkari janji setianya, masihkan si wanita memilihnya menjadi imam/pemimpin keluarganya?

Dalam pendangan saya yang awam ini, syarat menjadi pemimpin yang baik itu sederhana, yaitu jujur, menepati janji dan memegang amanah (kepercayaan). Ketiga aspek tersebut sudah tidak saya temukan lagi ada pada sosok beliau, Ir. H. Joko Widodo, setidaknya sampai tulisan ini saya tulis seperti itu yang saya dapati. Berbeda sekali dengan Jokowi 3-4 tahun lalu, Sepanjang yang saya ingat, waktu menjabat sebagai walikota Solo, Jokowi sangat dicintai warganya dan menjadi kebanggaan buat mereka mempunyai pemimpin yang bersih, tegas, dan jujur seperti beliau dulu.

Benar, setiap orang akan berubah, ada yang baik jadi buruk, ada yang buruk jadi baik, ada yang baik jadi makin baik, ada yang buruk jadi makin buruk. Saya jadi bertanya-tanya, apakah benar Jokowi telah berubah? apakah malah sebenarnya beliau tidak berubah dari dulu? artinya memang Jokowi kadang sedikit nakal dalam hal kejujuran sejak dari dulu, sejak di Solo? Hati orang siapa yang tahu. Satu hal yang pasti, saya lihat dari Jokowi saat masih di Solo adalah bahwa rakyat Solo begitu mencintai dan bangga terhadap dirinya. Saya pun saat itu sebagai warga pendatang di solo ikut bangga.

Kejujuran, terlepas dari pahala dan dosa atau surga dan neraka adalah sebuah keindahah, keindahan tersebut telah dinafikan Jokowi. ‘Mau tak mau’ saya sebagai pemuja keindahan yang bernama kejujuran harus menghilangkan beliau, Jokowi, dari daftar idola dan panutan saya. Apakah artinya saat ini saya jadi benci terhadap Joko Widodo? jujur sejujur-jurnya ngga ada secuilpun rasa benci pada beliau. Tak cinta bukan berarti benci, juga sebaliknya, tak benci bukan berarti cinta, ada tempat nyaman di antara kedua rasa benci dan cinta.

Terus apa tujuan saya menulis ini? apakah ingin menjatuhkan Jokowi? ngga lah! Saya hanya ingin mengeluarkan uneg-uneg saya saja. Hal yang biasa ketika saya mengidolakan atau menaruh respek pada seseorang lalu pada kemudian hari saya tak mengidolakan orang tersebut lagi. Hari ini 30 April 2014, saya masih meyakini bahwa Jokowi belum pantas untuk menjadi Presiden. Apakah keyakinan saya ini final, tentu saja tidak, di paragraf atas saya sudah tekankan setiap orang bisa berubah. Apa yang saya yakini benar sekarang bisa menjadi salah pada kemudian hari. Yang pasti, bila “Coblosas Presiden” berlangsung hari ini, saya pastikan tak akan mencoblos Om Joko :).

Yos Beda – 30/4/2014

Referensi :

  1. http://megapolitan.kompas.com/read/2012/09/20/13522152/Jokowi.Janji.Pimpin.Jakarta.Sampai.Tuntas
  2. http://news.detik.com/read/2012/09/20/130640/2027550/10/jokowi-tegaskan-komitmen-5-tahun-pimpin-jakarta
  3. http://www.merdeka.com/peristiwa/jokowi-komitmen-jadi-gubernur-dki-5-tahun.html
  4. http://jakarta.okezone.com/read/2012/09/03/505/684079/jika-terpilih-jokowi-janji-tuntaskan-masa-jabatan/large
  5. http://www.antaranews.com/berita/330724/jokowi-tak-berminat-ikut-pilpres-2014
  6. http://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/12/01/06/lxd9to-jokowi-saya-tidak-pantas-jadi-capres-ketua-rt-saja
  7. http://jabodetabek.tvonenews.tv/berita/view/54880/2012/04/01/jokowi_janji_beri_fasilitas_pkl_di_dki.tvOne
  8. http://www.antaranews.com/berita/333089/jokowi-janji-konsentrasi-benahi-pasar
  9. http://www.tempo.co/read/news/2012/09/23/099431370/Jokowi-Janji-Bangun-Stadion-untuk-Persija
  10. http://www.tempo.co/read/news/2012/06/24/229412598/1000-Busway-Janji-Jokowi
  11. http://poskotanews.com/2012/09/22/jokowi-janji-bangun-rusun-di-atas-pasar/
  12. http://poskotanews.com/2012/06/29/jokowi-janji-sejahterakan-pengurus-rtrw/
  13. http://www.solopos.com/2012/09/24/taufik-kiemas-jokowi-jangan-umbar-janji-332073
  14. http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/12/09/22/maqtqn-jokowiahok-janji-datangkan-1000-unit-busway-dalam-setahun
  15. http://poskotanews.com/2012/09/30/jokowi-jangan-lagi-berhenti-di-tengah-jalan/
  16. http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2012/09/120924_jokowisolo.shtml

Berita Terkait.

120 Komentar

  1. Virmansyah
    30 April 2014 @ 20:00:09

    Kalau menurut sudut pandang saya pribadi nih Mas Yos, Pak Jokowi itu semacam ada balas budi terhadap “motor” yang telah memboncengkannya.
    Namun dilain sisi, Pak Jokowi juga berpikir benar juga kalau saya jadi presiden nanti justru akan lebih mudah mengatur semuanya apalagi Jakarta.
    Meskipun beliau juga merasa ada “janji” dengan daerah yang dipimpinnya saat ini.
    Kesimpulannya adalah saya juga tidak terlalu fanatik dengan Pak Jokowi maupun yang lainnya. Saya hanya masyarakat biasanya yang hanya bisa mendukung dari bawah dan berdoa siapapun yang nanti memimpin negeri ini, benar-benar orang yang mengerti. Mengerti mana yang benar dan mana yang salah, mana yang harus dilanjutkan mana yang harus diganti.
    Kita tak bisa mencari memimpin yang sempurna. Pemimpin yang sempurna itu HOAX menurut saya. Oleh karena itu dibutuhkannya Menteri-Menteri dan elemen lain untuk mengisi kekurangan itu.
    Kita tunggu saja siapa besok yang akan memimpin negeri ini.

    Reply

    • Yos Beda
      30 April 2014 @ 20:12:12

      Menarik mas Virman, kalau esensi janjinya adalah membenahi jakarta tentu bukan pilihan yang 100% salah ketika Jokowi jadi nyapress, karena ktika jadi capress kelak boleh jadi membenahi jakarta untuk lebih baik jadi lebih mudah dengan posisi om Joko jadi presiden, namun bila janji yang diucapkan adalah untuk “tidak meninggalkan jabatan/atau berhenti ditengah jalan dari posisi gubernur” langkah nyapresnya dari sudut pandang saya salah, terlepas setelah om joko jadi presiden jakarta jadi lebih baik, janji yang diingkari tidak dapat terlupakan.

      Iya bener Hoax 100% bila ada manusia sempurna, saya sendiri sebagai muslim hanya mengakui sang Nabi adalah manusia paling sempurna. Doa kita untuk Ibu Pertiwi nanti adalah semoga segera diberikan pemimpin yang cerdas, jujur dan Amanah. Aamiin ya.. 🙂

      Reply

    • mocking_bord
      18 Maret 2017 @ 14:16:55

      Makanya jangan terlalu memuji dan jangan terlalu memuji manusia. Bersikap wajar aja, kalo melakukan hal baik dipuji dan bila salah dikritik. Jangan suudzon dan menganalisa berdasarkan katanya. Salam ? periode.

      Reply

  2. Fajar Maulana
    30 April 2014 @ 20:08:15

    jokowi sudah gila kekuasaan,, apa pun dilakukan nya setelah menjadi gubernur DKI dengan pencitraan nya,, semua karena ada yang ngatur jadi jokowi tinggal “iya-in” aja.. surakarta gak selesai masa jabatan nya sekarang Jakarta juga mau gak mau selesai juga? meninggalkan jakarta dengan permasalahan yg ada,, “JANJI MU MANA JOKOWI”

    Reply

    • Yos Beda
      30 April 2014 @ 20:23:05

      Saya sendiri belum berani mengamini adanya orang-orang yang mengatur di belakang jokowi mas Fajar, tapi kalau dilihat secara menyeluruh dari proses beliau waktu jadi walikota, terus mobil ESEMKA, kemuduian nyagub lalu nyapres, memang seperti ada tim sutradaranya, hehehehe, yang pasti sudah terbukti adalah janji jokowi yang tidak dia tepati, dan semua janji-janji itu terekam/terdokumentasi dengan jelas di era digital seperti sekarang ini.

      Reply

  3. budiono
    30 April 2014 @ 20:53:23

    kabarnya sekarang para blogger lagi marak dapat job review negatif soal jokowi, dari lawan politiknya sih tentunya. buat saya jokowi dijelek-jelekin dengan sejuta fitnah seperti sekarangpun tidak akan menyurutkan minat orang buat memilih dia.

    katakanlah jokowi jelek 100%, tapi lawannya jelek 200%, maka kejelekan jokowi masih lebih sedikit dibanding yang lain

    Reply

    • Yos Beda
      30 April 2014 @ 21:35:48

      Mas budiono berkata:
      “buat saya jokowi dijelek-jelekin dengan sejuta fitnah seperti sekarangpun tidak akan menyurutkan minat orang buat memilih dia.”

      Tanggapan saya:
      ada dua macam kok mas,
      1. Yang jelek-jelekin beneran, dalam arti mencari-cari kesalahan kalaupun tak menemukanya kadang sampai merekayasa kesalahan. yang seperti ini biasanya hanya bermain di ranah asumsi-asumsi dengan sedikit bukti atau bahkan tanpa bukti

      2. Ada juga yang tidak menjelek-jelekan hanya mengungkap fakta yang ada, saya sendiri niat menulis ini untuk mengungkap fakta soal “janji jokowi” saja, yang terdokumentasi rapi di dunia maya baik berupa video atau artikel. jadi ketika ditanya jokowi bohong mana buktinya? itu ada tinggal di buka link-linknya, begitu hehehehe…

      Mas budiono berkata:
      “katakanlah jokowi jelek 100%, tapi lawannya jelek 200%, maka kejelekan jokowi masih lebih sedikit dibanding yang lain”

      Tanggapan saya:
      Kalau yang ini sangat-sangat relatif di mata saya mas, seperti orang ada yang berkata bahwa mencuri itu bisa saja berbeda penafsiranya hanya karena besarnya barang yang dicuri, kalau saya sih mencuri itu baik besar atau kecil namanya tetap mencuri, begitu juga berdusta, baik sebuah dusta yang kecil maupun besar namanya tetap dusta dan merupakan perbuatan tercela, tapi ada juga yang berkata berbohong dikit bolehlah demi kebaikan,

      Dari sinilah ketika saya maksudkan terlalu relatif ketika kita coba menghitung kejelekan si A atau si B dengan prosentase tertentu, hasilnya akan berbeda pada setiap orang, ada sebagaian orang yang begitu memberi toleransi super luas pada para pembohong ada juga yang tidak, saya snediri ketika disuruh memberikan berapa parah tingkat keburukan jokowi dengan dustannya ini? saya akan memberikan nilai tinggi (10 misal) namun saya yakini adak ada juga yang memberikan nilai rendah (5 misal) untuk keburukan jokowi karena berbohong ini.

      Reply

  4. ainiras
    30 April 2014 @ 21:19:07

    yang paling saya sayangkan menurut pribadi saya adalah ketika jokowi membawa esemka ke jakarta dan dengan lantang beliau ingin menaikan potensi buatan dalam negeri bidang apapun..jujur saya salut dan ikut mendukung beliau, namun sayang saat ia terpilih menjadi gubernur dki1 ia memilih jenis transportasi busway buatan cina, bahkan rencana monorail pun didatangkan dari negeri tiongkok itu..lalu apakah semuanya hanya pencitraan saja? kalopun indonesia tidak bisa bikin bus sendiri..mengapa tidak bekerjasama dengan hyno,mercedes dll yang ada di indonesia..walaupun perusahaan itu milik asing, namun perakitan nya adalah tenaga kerja kita sendiri..ini sedikit pendapa dari saya

    Reply

    • Yos Beda
      1 Mei 2014 @ 06:02:58

      Sebuah komentar yang menarik kak Aniras, saya malah ngga begitu mempermasalahkan soal mobil ESEMKA yang sudah saya ketahui dari dulu bahwa itu adalah mobil rakitan yan dibeli dari Tiongkok, dan saya tak kecewa berat dengan Jokowi juga akan hal itu, pikir saya saat itu, yah mungkin anak-anak SMK harus melalui proses itu dulu, maksudnya hanya sekedar merakit hingga pada waktunya nanti tak hanya meraktinya saja tapi membuat beberapa komponen-komponennya..

      Reply

    • jan
      3 Mei 2014 @ 11:51:33

      ikutan nimbrung. 🙂
      soal mobil esemka, saya pun merasa itu adalah pencitraan jokowi. sampai-sampai membuat saya yakin, pencitraan sby yang luar biasa besar, masih kalah dibandingkan pencitraan jokowi.

      Reply

  5. ihsan
    1 Mei 2014 @ 00:07:23

    Janji sama ambisi mana yang lebih utama dilaksanakan? Jawaban saya adalah janji karena ambisi menyangkut ego dan janji jika disamakan dengan hutang maka harus dipenuhi. Dari sini kekecewaan timbul karena janji sudah diingkari maka jaminan untuk amanah nanti ketika menjabat sebagai presiden probabilitasnya berkurang. Namun demikian jika Jokowi terpilih atau siapapun nantinya, saya kira kita doakan saja semoga amanah. Saya pribadi tidak akan memilih Jokowi

    Reply

    • Yos Beda
      1 Mei 2014 @ 06:08:44

      Waah komentar mas Ihsan ini sama dengan yang saya ingin sampaikan di tulisan ini, saya hanya menyoroti soal janji saja kok karena di dalam “janji yang tidak diingkari” tersimpen aspek-aspek pemimpin yang baik seperti kejujuran dan amanah (memegang amanah). Bila Om Joko akhirnya terpilih memang yang bisa kita lakukan adalah berdoa, agar beliau jadi pemimpin yang amanah! 🙂

      Reply

  6. abednego
    1 Mei 2014 @ 00:55:29

    Sekadar catatan saja : Menilai tokoh, siapapun itu memang harus proporsional. Kritik itu penting untuk penyadaran masyarakat sehingga tak hanyut dalam arus uforia. Soal kepopuleran Jokowi, kita tak perlu menyalahkan media. News value Jokowi dimulai karena dia merelokasi PKL tanpa bentrok lantaran Solo itu ‘sumbu pendek’. Sebenarnya banyak pemimpin daerah lain yang lebih dari Jokowi. Namun, mereka memimpin di kota/kabupaten yang tak serawan Solo.

    Reply

    • Yos Beda
      1 Mei 2014 @ 06:11:57

      Nah makasih mas Abed sudah mampir, saya sepakat banget dengan pernyataan mas Abed ini:

      “News value Jokowi dimulai karena dia merelokasi PKL tanpa bentrok lantaran Solo itu ‘sumbu pendek’”

      Saya pun termasuk yang kagum pada beliau pada prestasinya soal relokasi PKL itu, terlepas di kemudian hari saya jadi biasa saja melihat Jokowi karena telah ingkar janji… hehehe

      Reply

      • sams
        12 Mei 2014 @ 10:39:38

        kalau memang di solo berhasil kok saya tidak dengan ada pernghargaan nasional atau internasional ? bandingkan dengan risma atau heryawan yang gubernur jabar… seabgrek penghargaan nasional dan internasional… tapi tak seheboh jokowi..
        saya maerasa media masa tidak adil saja… coba lihat ketika kemarin jakarta banjir,, adalah TV koran yang memberitakan Jokowi ? bisa dicek dia rsip berita semua koran dan tv mana ada berita tentang jokowi yang baerkaitan dengan banjir jakarta?? kemana jokowi waktu banjir ? disemubunyikan oleh media….. supa tidak kecipratan banjir dan citranya moncer terusss…

        Reply

  7. giewahyudi
    1 Mei 2014 @ 04:04:50

    Mas Yos yang baik, jangan mau diperalat untuk black/negative campaign seperti ini. Ini akan menjadi portofolio sampeyan lho. Terima kasih.

    Reply

    • Yos Beda
      1 Mei 2014 @ 06:19:34

      Wah, kok mas Gie ber-suudzon kepada saya ya, padahal artikel ini murni uneg-uneg lho.. bahkan sayapun bangga dengan tulisan ini, Ibu saya mungkin juga bangga dengan protofolio tulisan anak laki-lakinya ini, kenapa bangga? karena tidak ada secuilpun kebencian dari tulisan saya di atas bila mas gie mau mencermati.

      Bila mas Gie baca tulisan-tulisan saya sebelum-sebelumnya, saya hampir selalu menggunakan kata ganti “beliau” untuk mengungkapkan rasa hormat kepada orang yang saya hormati, pada panutan, mantan panutan, idola atau mantan idola, bagaimanapun juga mereka ada yang pernah atau masih saya idolakan.

      Seperti yang saya tulis di paragraf terakhir, hal yang biasa ketika saya mengidolakan atau menaruh respek pada seseorang lalu pada kemudian hari saya tak mengidolakan orang tersebut lagi. Apakah saat ini saya benci terhadap Joko Widodo, jujur sejujur-jurnya ngga ada secuilpun rasa benci pada beliau, tak cinta bukan berarti benci dan juga sebaliknya tak benci bukan berarti cinta, ada tempat nyaman di antara kedua rasa benci dan cinta.

      Reply

      • Feri Yunus Madao
        1 Mei 2014 @ 19:39:38

        Biar nggak dituduh macam2… kalau bisa mas Yos juga bikin postingan uneg-uneg CAPRES lainnya. Maklum lah mas… tahun ini khan tahun politik, jadi segala uneg2 yang menyangkut salah satu capres atau tokoh politik tertentu, akan selalu dihubung2kan dgn black campaign.

        Reply

        • Yos Beda
          1 Mei 2014 @ 20:12:52

          Saya sendiri bingung mas kalau suruh nulis uneg-uneg capres lain juga, secara saya ngga ada ikatan emosional ke yang lain, ngefans aja kagak, beda ma Jokowi yang dulu saya gandrungi.. ntar nulis soal capres lain jadi terkesan tendensius takutnya.. lihat deh ntar..

          Sebagai pembanding saya ada link artikel berjudul “Alasan Mengapa Saya Tidak Memilih Prabowo” yang ditulis oleh blogger bernama Candra Wiguna dari Bali kalau ngga salah, saya ngga kenal sih, hehehe… ini URL linknya ~> http://candrawiguna.com/alasan-mengapa-saya-tidak-memilih-prabowo/

          Untuk yang tulisan tentang capres Aburizal Bakrie saya belum ada referensi mas Feri, tapi ngga perlu referensi tentu kita masih ingat soal boneka yang heboh beberapa waktu lalu 😀

          Reply

    • Candra Wiguna
      11 Mei 2014 @ 19:12:07

      Jangan takut membahas politik, membahas politik itu perlu, dan jangan takut salah. Selama ini kita gagal memilih pemimpin karena masyarakatnya buta politik, apatis alias masa bodo, takut bicara, takut mengungkapkan pendapat.

      Saya pernah ke Jawa Barat, masyarakat disana gak ngerti politik, tidak tahu bedanya eksekutif dan legislatif, lebih parah, ketika mereka sudah sadar tidak tahu tentang politik, mereka bukannya mencari tahu tapi malah lebih memilih apatis. Akibatnya apa? Ketika ada pemilu (termasuk pemilu tahun ini) yang terpilih bukan kalangan akademisi atau birokrat, tapi artis yang tidak mengerti tentang kepemimpinan, atau lebih parahnya keluarga Ratu Atut yang sudah jelas2 korup, dan Aceng Fikri yang selama ini dianggap tidak bermoral.

      Kita seharusnya senang ketika ada yang menulis seperti ini, sangat saya apresiasi sekalipun berbeda pendapat, ini artinya ada yang peduli pada politik bangsa ini, ada yang ingin agar orang lain juga bisa memilih pemimpin terbaiknya.

      Reply

  8. Basri Abdullah
    1 Mei 2014 @ 04:21:23

    Politik memang seperti itu mas, harus tunduk dengan yang membesarkannya, meskipun itu tidak sesuai dengan asanya.

    Reply

    • Yos Beda
      1 Mei 2014 @ 06:26:04

      Iya mas, tak saya sangkal memang politik (tokoh politik) kadang harus tunduk pada yang membesarkanya seperti partainya, namun tetap ada kok politikus yang idealis bahkan tak jarang berani melawan perintah atau kebijakan partainya walau jabatan atau kedudukanya adalah taruhannya.

      Reply

  9. arip
    1 Mei 2014 @ 11:27:28

    Orang baik yg berada di lokasi dan waktu yg salah. Juga ‘kendaraan’ yg salah.

    Reply

    • Yos Beda
      1 Mei 2014 @ 11:36:18

      Hingga membuatnya tak hanya terlihat salah, tapi juga terbiasa berbuat salah..
      semacam “orang akan bisa karena terbiasa”, hehehe

      Reply

  10. endar
    1 Mei 2014 @ 11:47:26

    dalam berpolitik mungkin hal seperti itu sudah biasa, jangan kaget mas. politik itu memang kejam..

    Reply

    • Yos Beda
      1 Mei 2014 @ 11:49:20

      Mungkin politik itu adalah kakak iparnya ibu tiri ya mas ya, makanya kejam banget, hehehehe

      Reply

Tinggalkan Balasan ke teguhkiyatno Batal