Dulu Saya Begitu Memuja dan Mengidolakan Jokowi, Namun Sekarang?

Oleh: - 30 April 2014  |

Instagram

Janji Jokowi
Janji Jokowi

Saya mempunyai rasa kagum yang mendalam pada sosok Joko Widodo sebelum dia mencalonkan diri jadi Calon Presiden. Bahkan dua tahun silam, saat beliau terpilih menjadi Gubernur Jakarta, saya sempat membuat sebuah tulisan berjudul “Jokowi Jadi Gubernur Jakarta, Setangguh Rubah Padang Pasirkah?” Pada tulisan tersebut, saya ungkapkan kekhawatiran saya bila ‘orang baik’ seperti Jokowi akan terlihat buruk ketika berada di lingkungan yang ‘salah’. Di tulisan itu, Jokowi mengingatkan saya pada jenderal perang era NAZI idola saya, Erwin Rommel, sang Rubah Padang Pasir, orang  yang baik di tempat dan waktu yang salah hingga membuatnya seakan terlihat buruk.

Sebagai orang yang pernah tinggal dan bekerja di Solo pada era kepemimpinan Jokowi, saya tak asing dengan sepak terjang Jokowi yang terkenal cekatan, bersih serta  jujur dalam memimpin Solo. Berkaca dari hal tersebut, tak heran bila intuisi (bisikan/kata hati) saya kepada beliau selalu baik, bahwa pria kelahiran 21 Juni 1961 ini adalah sosok manusia yang cerdas, lelaki yang bijaksana, dan pemimpin yang jujur. ‘Orang baik’, kesan itu yang tak dapat saya tolak ketika melihat sosok Joko Widodo waktu itu. Mungkin saja sekitar tahun 2020-an beliau akan menjadi pemimpin yang baik untuk Negeri ini, pikir saya saat itu.

Namun sekarang apa yang saya lihat dari jokowi menjadi berbeda, tepatnya sejak beliau mencalonkan diri jadi capres di pilpres 2014 nanti. Dengan mencalonkan diri menjadi Presiden pada pilpres tahun ini, saya melihat Jokowi telah berbohong, melanggar janji dan menghianati amanah yang diberikan pada dia saat terpilih menjadi Gubernur DKI jakarta. Ada yang bilang bahwa nyapresnya Jokowi adalah keinginan rakyat, saya tak menyangkalnya, ada sebagian masyarakat yang terpesona dan kagum dengan gaya kepemimpinan Jokowi saat menjadi walikota Solo. Sayapun termasuk  orang yang kagum dan berharap style kepemimpinan Jokowi waktu menjadi walikota Solo akan berguna ketika menjadi Presiden Indonesia pada gilirannya nanti, ketika beliau sudah siap dan PRnya di Jakarta sudah dituntaskannya.

Baca juga:

 

Janji, iya Janji!!! itulah yang membuat saya kecewa, andai saja dulu beliau tidak berjanji.  Kita tentu tahu bagaimana beliau dulu berjanji untuk mempimpin Jakarta selama 5 tahun penuh. Kita pastinya juga tak lupa, ketika Jokowi ditanya awak media soal survei yang menempatkan dirinya di urutan teratas daftar capres, dia selalu menanggapinya dengan dingin dan berkata, “ngga mikir survei capres mau konsentrasi mengurus masalah rusun, monorel, MRT dan banjir jakarta,” Kalimat Jokowi barusan runtuh pada Jumat, 14 Maret 2014 silam, ketika Megawati Soekarnoputri membacakan pemberian mandat pencapresan Joko Widodo.

Saya yang bukan warga Jakarta sedikit banyak bisa merasakan kekecewaan warga Jakarta yang dulu memilihnya menjadi Gubernur, saat mereka memilih pria lugu dari kota Solo untuk memimpin Jakarta dengan harapan yang besar. Jika diibaratkan, warga jakarta yang dulu memilihnya adalah seorang wanita lajang yang sedang mengadakan sayembara mencari suami, kemudian Jokowi ikut sayembara tersebut dan memenangkan hati sang wanita dengan janji setianya. Jokowi akhirnya menikahi wanita itu, pria yang di mata wanita itu adalah seorang yang lugu dan baik hati. Dia berjanji akan menjadi imamnya dan tidak berpindah ke lain hati.

Baru seumur jagung kemesraan sang wanita (warga jakarta) dengan sang pria lugu (Jokowi), tiba-tiba sang pria sudah bersiap-siap untuk meninggalkan si wanita, mengingkari janji setia yang pernah diucapkannya. Hati wanita mana yang tak terluka, pria lugu yang sangat diharapkan menjadi imam keluarga malah akan pergi begitu saja, meninggalkan permasalahan keluarga yang belum terselesaikan. Andai saja dulu sang wanita tahu bahwa pria lugu ini akan mengingkari janji setianya, masihkan si wanita memilihnya menjadi imam/pemimpin keluarganya?

Dalam pendangan saya yang awam ini, syarat menjadi pemimpin yang baik itu sederhana, yaitu jujur, menepati janji dan memegang amanah (kepercayaan). Ketiga aspek tersebut sudah tidak saya temukan lagi ada pada sosok beliau, Ir. H. Joko Widodo, setidaknya sampai tulisan ini saya tulis seperti itu yang saya dapati. Berbeda sekali dengan Jokowi 3-4 tahun lalu, Sepanjang yang saya ingat, waktu menjabat sebagai walikota Solo, Jokowi sangat dicintai warganya dan menjadi kebanggaan buat mereka mempunyai pemimpin yang bersih, tegas, dan jujur seperti beliau dulu.

Benar, setiap orang akan berubah, ada yang baik jadi buruk, ada yang buruk jadi baik, ada yang baik jadi makin baik, ada yang buruk jadi makin buruk. Saya jadi bertanya-tanya, apakah benar Jokowi telah berubah? apakah malah sebenarnya beliau tidak berubah dari dulu? artinya memang Jokowi kadang sedikit nakal dalam hal kejujuran sejak dari dulu, sejak di Solo? Hati orang siapa yang tahu. Satu hal yang pasti, saya lihat dari Jokowi saat masih di Solo adalah bahwa rakyat Solo begitu mencintai dan bangga terhadap dirinya. Saya pun saat itu sebagai warga pendatang di solo ikut bangga.

Kejujuran, terlepas dari pahala dan dosa atau surga dan neraka adalah sebuah keindahah, keindahan tersebut telah dinafikan Jokowi. ‘Mau tak mau’ saya sebagai pemuja keindahan yang bernama kejujuran harus menghilangkan beliau, Jokowi, dari daftar idola dan panutan saya. Apakah artinya saat ini saya jadi benci terhadap Joko Widodo? jujur sejujur-jurnya ngga ada secuilpun rasa benci pada beliau. Tak cinta bukan berarti benci, juga sebaliknya, tak benci bukan berarti cinta, ada tempat nyaman di antara kedua rasa benci dan cinta.

Terus apa tujuan saya menulis ini? apakah ingin menjatuhkan Jokowi? ngga lah! Saya hanya ingin mengeluarkan uneg-uneg saya saja. Hal yang biasa ketika saya mengidolakan atau menaruh respek pada seseorang lalu pada kemudian hari saya tak mengidolakan orang tersebut lagi. Hari ini 30 April 2014, saya masih meyakini bahwa Jokowi belum pantas untuk menjadi Presiden. Apakah keyakinan saya ini final, tentu saja tidak, di paragraf atas saya sudah tekankan setiap orang bisa berubah. Apa yang saya yakini benar sekarang bisa menjadi salah pada kemudian hari. Yang pasti, bila “Coblosas Presiden” berlangsung hari ini, saya pastikan tak akan mencoblos Om Joko :).

Yos Beda – 30/4/2014

Referensi :

  1. http://megapolitan.kompas.com/read/2012/09/20/13522152/Jokowi.Janji.Pimpin.Jakarta.Sampai.Tuntas
  2. http://news.detik.com/read/2012/09/20/130640/2027550/10/jokowi-tegaskan-komitmen-5-tahun-pimpin-jakarta
  3. http://www.merdeka.com/peristiwa/jokowi-komitmen-jadi-gubernur-dki-5-tahun.html
  4. http://jakarta.okezone.com/read/2012/09/03/505/684079/jika-terpilih-jokowi-janji-tuntaskan-masa-jabatan/large
  5. http://www.antaranews.com/berita/330724/jokowi-tak-berminat-ikut-pilpres-2014
  6. http://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/12/01/06/lxd9to-jokowi-saya-tidak-pantas-jadi-capres-ketua-rt-saja
  7. http://jabodetabek.tvonenews.tv/berita/view/54880/2012/04/01/jokowi_janji_beri_fasilitas_pkl_di_dki.tvOne
  8. http://www.antaranews.com/berita/333089/jokowi-janji-konsentrasi-benahi-pasar
  9. http://www.tempo.co/read/news/2012/09/23/099431370/Jokowi-Janji-Bangun-Stadion-untuk-Persija
  10. http://www.tempo.co/read/news/2012/06/24/229412598/1000-Busway-Janji-Jokowi
  11. http://poskotanews.com/2012/09/22/jokowi-janji-bangun-rusun-di-atas-pasar/
  12. http://poskotanews.com/2012/06/29/jokowi-janji-sejahterakan-pengurus-rtrw/
  13. http://www.solopos.com/2012/09/24/taufik-kiemas-jokowi-jangan-umbar-janji-332073
  14. http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/12/09/22/maqtqn-jokowiahok-janji-datangkan-1000-unit-busway-dalam-setahun
  15. http://poskotanews.com/2012/09/30/jokowi-jangan-lagi-berhenti-di-tengah-jalan/
  16. http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2012/09/120924_jokowisolo.shtml

Berita Terkait.

120 Komentar

  1. sakti
    11 Mei 2014 @ 06:11:09

    mantap om, dimana-mana semua uneg-uneg itu pasti subjektif, tapi om yos sudah membungkusnya menjadi objektif dengan mencantumkan sumber referensi berupa halaman berita dan video. semoga rakyat indonesia semakin cerdas mencermati mana capres yang layak memimpin indonesia ke depan, bukan tenggelam harapan palsu dari capres pinokio pembohong ini.

    Reply

    • Yos Beda
      11 Mei 2014 @ 22:59:05

      Iya mas Sakti, makasih atas apresiasinya, saya berharap semoga tidak ada yang sengaja atau tidak sengaja tersakiti atas curhatan saya di atas, siapa tahu saya ada salah-salah kata, walau sekedar curhat saya berusaha untuk seobyektif mungkin kok, dengan tidak memenuhi tulisan saya dengan asumsi-asumsi kosong belaka yang jatuhnya jadi fitnah:)

      Reply

  2. indra agus
    11 Mei 2014 @ 18:17:31

    Hahahahhaha…. Mas Yos udah nulis dengan gaya bahasa “Solo Style” yang kemayu dan santun aja, tetap dapat feedback yang negative 😀
    Gak kebayang kalau Mas Yos nulis dengan “Medan Style”.. 😀 😀

    Terima kasih buat tulisan yang sangat menarik ini Mas… 🙂

    Reply

    • Yos Beda
      11 Mei 2014 @ 23:12:20

      Hahahaha,, mas Indra bisa aja, iya mas, tulisan-tulisan di blog saya emang khas Solo/Surakarta, alus dan lemah gemulai banget kalau orang bilang, hahahahaha
      Wong dulu saya juga sempat dikomplain teman, gara-gara pernah nulis soal penyiraman air oleh salah satu anggota ormas yang agak keras ( https://www.yosbeda.com/tentang-penyiraman-air-jubir-fpi-munarman-ke-thamrin-tomagola) namun saya tetap aja menulisnya dengan gaya tulisan “Soloensis”, hehehehe, saya jujur ngga ingin menyakiti siapa-siapa lewat tulisan-tulisan saya mas 🙂

      Reply

  3. Candra Wiguna
    11 Mei 2014 @ 19:02:34

    Saya tahu Jokowi melanggar janjinya, walaupun secara semantik dia tidak salah, karena dia hanya berjanji akan membangun Jakarta selama 5 tahun, bukan berjanji akan menjadi gubernur Jakarta selama 5 tahun, sedang yang namanya membangun Jakarta tidak mesti menjadi gubernur, menjadi warga biasa pun tetap bisa, apalagi menjadi presiden.

    Tapi, tidak semua pelanggaran janji itu dianggap salah. Saya punya kakak kelas seorang dokter, punya anak dan dia pernah berjanji akan mengajak anaknya jalan-jalan saat hari libur, tapi ketika ada pasien yang mendadak butuh bantuan apakah salah sang dokter itu melanggar janjinya pada anak?

    Kita punya skala prioritas, Indonesia sedang butuh pemimpin, sedang Prabowo adalah sosok yang berbahaya dan hanya Jokowi yang bisa menjegalnya. Kita tidak seharusnya melewatkan momentum yang bersejarah ini, mengabaikannya hanya karena alasan yang sepele dan muluk-muluk seperti soal janji.

    Siapa sih yang tidak pernah melanggar janji, bahkan Prabowo pernah melanggar sumpah jabatan yang dilakukan di bawah Al Quran, silahkan cari tahu tentang sumpah ABRI dan bandingkan dengan penculikan yang telah dia lakukan. Yang penting adalah apakah pelanggaran janji itu wajar atau tidak, ada manfaatnya atau tidak.

    Anda mengatakan rakyat Jakarta kecewa? Anda salah, rakyat Jakarta tidak kecewa, justru mereka akan kecewa jika Jokowi tidak mencalonkan diri sebagai presiden. Silahkan lihat bagaimana tanggapan warga Jakarta dalam diskusi-diskusi yang dilakukan di media lokal, hampir semua mendukung Jokowi dan bahkan mencela Ridwan Saidi, tokoh betawi hanya karena Babe Ridwan menolak pencapresan Jokowi. Lihat juga bagaimana tanggapan anak-anak hingga para orangtua: http://www.youtube.com/watch?v=O0DaX5-U9MM

    Faktanya dalam pemilu legistalif untuk pemilihan DPR, PDIP menang, suaranya tertinggi bahkan 2 kali lipat suara Gerindra yang ada di posisi kedua, ini artinya bahwa mayoritas rakyat Jakarta ingin Jokowi menjadi presiden, jadi apa yang dilakukan Jokowi hanya menuruti aspirasi dari masyarakat, dan itulah yang terpenting saat ini.

    Reply

    • Yos Beda
      11 Mei 2014 @ 22:19:45

      Makasih mas Candra Wiguna telah mampir di tulisan sederhana saya ini dan mau bertukar pikiran lewat kolom komentar, berikut tanggapan saya 🙂

      Mas Candra Wiguna Berkata:
      “Saya tahu Jokowi melanggar janjinya, walaupun secara semantik dia tidak salah, karena dia hanya berjanji akan membangun Jakarta selama 5 tahun, bukan berjanji akan menjadi gubernur Jakarta selama 5 tahun, sedang yang namanya membangun Jakarta tidak mesti menjadi gubernur, menjadi warga biasa pun tetap bisa, apalagi menjadi presiden.”

      Tanggapan Saya:
      Apakah benar seperti yang mas Candra Wiguna ungkapkan? Mari kita bedah janji Jokowi yang terdokumentasi dalam video yang saya sertakan dalam postingan saya di atas:

      Kata Jokowi: “Katanya saya tidak ingin menyelesaikan 5 tahun, diisukan itu! untuk apa? untuk agar masyarakat ragu, Oleh sebab itu.. pada kesempatan yang baik ini saya sampaikan, bahwa Jokowi dan Basuki komit untuk memperbaiki DKI Jakarta dalam 5 tahun

      Ketika kita hanya melakukan “Quote mining” pada kalimat terakhir ( bahwa Jokowi dan Basuki komit untuk memperbaiki DKI Jakarta dalam 5 tahun) benar, makna kalimat itu jadi berbeda karena hilang konteks. bagaimana bila kalimat itu konteksnya utuh tidak dipotong namun dibaca semuanya? apa arti kata (menyelesaikan 5 tahun) di kalimat pertama tersebut? Menurut hemat saya, kalimat tersebut artinya menyelesaikan jabatan gubernur selama 5 tahun. jadi kesimpulannya… tak perlu saya jelaskan lagi ya, hehehe…

      Mas Candra Wiguna Berkata:
      “Tapi, tidak semua pelanggaran janji itu dianggap salah. Saya punya kakak kelas seorang dokter, punya anak dan dia pernah berjanji akan mengajak anaknya jalan-jalan saat hari libur, tapi ketika ada pasien yang mendadak butuh bantuan apakah salah sang dokter itu melanggar janjinya pada anak?”

      Tanggapan saya:
      Dokter tidak melanggar janjinya ituh mah, sore harinya kan sang dokter jadi jalan-jalan ma anaknya, hehehe.. #justkid

      Menurut hemat saya, pengalaman kakak kelas mas yang secara tidak langsung menjadi analogi tentang janji Jokowi kurang tepat, dari komentar yang saya jawab sebelumnya bisa ditarik silogisme seperti ini:

      Silogisme 1
      Jika Jokowi terpilih jadi gubernur menyelesaikan 5 tahun (mayor)
      Jokowi terpilih jadi gubernur (minor)
      Jokowi menyelesaikan 5 tahun (konklusi)

      Harusnya analogi yang serupa:

      Silogisme 2
      Jika anaknya mengerjakan PR Dokter mengajak Anaknya jalan-jalan (mayor)
      Anaknya mengerjakan PR (minor)
      Dokter mengajak anaknya jalan-jalan (konklusi)

      Lho yos kamu kok sampai silogisme segala, hahaha.., begini mas Chandra, yang mau saya tekankan bahwa janji jokowi itu bersyarat bagi beberapa pemilihnya di jakarta.

      Nah bagi beberapa pemilihnya di jakarta akan muncul silogisme (3) seperti ini (walau tidak semuanya lho ya, saya tidak mau menggeneralisasi :), ini hanya apa yang ada di kepala saya bila saat itu saya ikutan pemilihan gubernur Jakarta )

      Silogisme 3
      Jika Jokowi berjanji menyelesaikan 5 tahun jabatan saya mencoblos Jokowi (mayor)
      Jokowi berjanji menyelesaikan 5 tahun jabatan (minor)
      Saya mencoblos jokowi (konklusi)

      Apakah fair bagi sebagian pemilihnya ketika mendapati om Joko saat ini malah nyapres?

      Mas Candra Wiguna Berkata:
      “Kita punya skala prioritas, Indonesia sedang butuh pemimpin, sedang Prabowo adalah sosok yang berbahaya dan hanya Jokowi yang bisa menjegalnya. Kita tidak seharusnya melewatkan momentum yang bersejarah ini, mengabaikannya hanya karena alasan yang sepele dan muluk-muluk seperti soal janji.”

      Tanggapan saya:
      Benar Prabowo adalah sosok yang berbahaya BILA kasus penculikan yang dituduhkan kepadanya itu benar adanya dan harus mendapatkan hukuman yang setimpal!!!. Benarkah “hanya Jokowi yang bisa menjegalnya!”  lagi lagi menurut hemat saya, itu kurang tepat, masih ada jalan lain, bila memang Prabowo penjahat kemanusiaan kita bisa mengusahakan untuk mengkritisi pencapresan Prabowo hingga pencapresannya gagal, kenapa seorang yang “melekat” predikat penjahat HAM bisa maju menjadi calon Presiden? Apakah dia benar-benar Penjahat HAM? atau hanya orang yang dituduh sebagai Penjahat HAM? Allahu A’lam.

      Saya jujur merasa sedikit sedih ketika mas Candra di atas menyebut janji adalah sebuah hal yang sepele :(, padahal dalam pendangan saya, syarat menjadi pemimpin yang baik itu sederhana, yaitu jujur, menepati janji dan memegang amanah (kepercayaan), ketiga aspek tersebut sudah tidak saya temukan lagi ada pada sosok beliau, Ir. H. Joko Widodo, setidaknya sampai tulisan di atas saya tulis seperti itu yang saya dapati, tapi ngga apa-apa, semua orang punya perspektif sendiri soal kriteria pemimpin.

      Mas Candra Wiguna Berkata:
      “Siapa sih yang tidak pernah melanggar janji, bahkan Prabowo pernah melanggar sumpah jabatan yang dilakukan di bawah Al Quran, silahkan cari tahu tentang sumpah ABRI dan bandingkan dengan penculikan yang telah dia lakukan. Yang penting adalah apakah pelanggaran janji itu wajar atau tidak, ada manfaatnya atau tidak.

      Tanggapan saya:
      Ingkar janji itu wajar atau tidak sangat-sangat relatif bagi setiap orang mas, seperti orang ada yang berkata bahwa mencuri itu bisa saja berbeda penafsiranya hanya karena besarnya barang yang dicuri, dari perspektif saya mencuri itu baik besar atau kecil namanya tetap mencuri, begitu juga berdusta, baik sebuah dusta yang kecil maupun besar namanya tetap dusta dan merupakan perbuatan tercela, tapi ada juga yang berkata berbohong dikit bolehlah demi kebaikan.

      Ada sebagaian orang yang begitu memberi toleransi super luas pada kebohongan, tapi ada juga yang tidak, saya sendiri ketika disuruh memberikan berapa parah tingkat keburukan jokowi dengan ingkar janjinya soal masa jabatan? saya akan memberikan nilai tinggi (10 misal) namun saya yakini ada juga yang memberikan nilai rendah (5 misal) untuk keburukan jokowi karena ingkar janjinya soal masa jabatan? ngga masalah bagi saya 🙂

      Mas Candra Wiguna Berkata:
      “Anda mengatakan rakyat Jakarta kecewa? Anda salah, rakyat Jakarta tidak kecewa, justru mereka akan kecewa jika Jokowi tidak mencalonkan diri sebagai presiden. Silahkan lihat bagaimana tanggapan warga Jakarta dalam diskusi-diskusi yang dilakukan di media lokal, hampir semua mendukung Jokowi dan bahkan mencela Ridwan Saidi, tokoh betawi hanya karena Babe Ridwan menolak pencapresan Jokowi. Lihat juga bagaimana tanggapan anak-anak hingga para orangtua:http://www.youtube.com/watch?v=O0DaX5-U9MM”

      Tanggapan saya:
      Saya salah ya mas :), ah masa sih mas, mas sepertinya melakukan generalisasi deh, ngga semua warga jakarta menginginkan Jokowi nyapres lho, coba deh lihat salah satu komentar dari pemilih Jokowi dulu yang kebetulan mampir juga di blog ini dan berkomentar, namanya mas hendrik (bila mas mau memverifikasi kevalidan orangnya bisa saya kirimkan emailnya, namun saya bakal minta ijin dulu nanti ma mas hendrik)

      Dalam komentarnya mas Hendrik di postingan ini yang tertanggal komentarnya pada MAY 02, 2014 @ 05:33:06, ada sepenggal kalimatnya seperti ini “Nyesel rasanya dulu memilih beliau kalau tahu kenyataannya seperti ini. “ jadi apakah benar kesimpulanyang mas Candra ambil “Anda salah, rakyat Jakarta tidak kecewa, justru mereka akan kecewa jika Jokowi tidak mencalonkan diri sebagai presiden” ?

      Di atas ada juga kawan blogger saya warga Jakarta, mbak Zizy Damanik namanya, bisa dilihat juga komentarnya seperti apa tentang nyapresnya Jokowi? saya ngga bisa memastikan dulu mbak Zizy termasuk yang memilih Jokowi saat pilgub ngga 🙂

      Sebenarnya yang menarik adalah pertanyaan berapa pemilih Jokowi dulu yang mengalami kekecewaan seperti yang dialami mas hendrik di atas? sedikit? atau banyak? Allahu A’lam, saya ngga mau berasumsi ah, hehehe

      Mas Candra Wiguna Berkata:
      “Faktanya dalam pemilu legistalif untuk pemilihan DPR, PDIP menang, suaranya tertinggi bahkan 2 kali lipat suara Gerindra yang ada di posisi kedua, ini artinya bahwa mayoritas rakyat Jakarta ingin Jokowi menjadi presiden, jadi apa yang dilakukan Jokowi hanya menuruti aspirasi dari masyarakat, dan itulah yang terpenting saat ini.”

      Tanggapan saya:
      Menurut hemat saya, lagi-lagi mas Chandra terlalu prematur dalam mengambil kesimpulan 🙂

      1. Mas Candra mengabaikan peran atau andil dari caleg-caleg PDIP yang telah berjuang mencari pemilihnya dengan menggeneralisasi pemilih PDIP di pemilu 2014 adalah “pemilih Jokowi”.
      2. Mas Candra mengabaikan pemilih loyal PDIP dari para Soekarnoeis dan Marhaenis yang jumlahnya tak sedikit (ada yang bilang 14-17% dari total pemilih RI, saya ngga yakin angkanya sih 😀 ), siapa saja mereka, biasanya para pemilih tua walau ada juga ya muda, seperti nenek saya di rumah, kalau ada pemilu yang dicoblos ya banteng dengan mbak meganya, kata nenek 🙂
      3. Mas Candra mengabaikan peran dari Bapilu PDIP di pemilu 2014 yaitu mbak Puan Maharani, apakah kinerja mbak Puan dalam usahanya menaikan elektabilitas partai PDIP ngga mas perhitungkan? apakah suara PDIP yang 19an persen itu semua adalah “pemilih Jokowi”?

      Update!!: Ada testimoni terbaru dari kawan facebook saya (secara pribadi saya ngga kenal sih, malah saya dipanggil “om” lagi 😀 ), namanya mas Al Jufri, beliau warga jakarta, kebetulan juga beliau memilih Jokowi waktu pilgub Jakarta 2012 silam, ini untuk melengkapi pernyataan saya bahwa generalisasi mas Candra soal “rakyat Jakarta tidak kecewa, justru mereka akan kecewa jika Jokowi tidak mencalonkan diri sebagai presiden” itu kurang tepat 🙂
      null
      TKPnya di sini mas Candra biar makin valid 😀 : https://www.facebook.com/yosbeda/posts/4184015054600

      Reply

      • Candra Wiguna
        12 Mei 2014 @ 01:17:47

        Iya, saya mengerti kok, dari awal saya mengatakan bahwa memang Jokowi ingkar janji karena makna sesunggunya dari kalimat itu memang berjanji menjabat selama 5 tahun. Tapi yang saya maksudkan tadi adalah soal logika semantik, memaknai kalimat secara rinci kata per kata. Coba cari tahu dulu apa itu logika semantik, biar ga salah paham..

        Secara semantik, janji Jokowi itu ya hanya sebatas membangun Jakarta selama 5 tahun, ga lebih. Bagian awal kalimat itu bisa kita katakan sebagai bagian yang ga nyambung, alasan tidka nyambung bisa karena Jokowi tidak pandai menyusun kalimat, bisa jadi karena dari awal dia memang berniat menipu publik.

        Kalimat itu sama seperti:
        “Orang bilang saya itu jelek, orang bilang saya kampungan, mereka mengatakan itu agar para wanita takut mendekati saya, karenanya pada kesempatan kali ini saya ingin mengatakan bahwa hidung saya tidak pesek, kulit saya tidak hitam, gigi saya putih dan rambut saya mengkilap”

        Nah, itu kalimat yang gak nyambung, gak konsisten, belum tentu jelek itu pesek, belum tentu kampungan itu giginya kuning, dsb. Begitu juga dengan kalimat yang diungkapkan Jokowi.

        Ini hanya selingan, pelajaran bagi kita untuk lebih berhati-hati menyusun kalimat, 12 tahun lho belajar Bahasa Indonesia tapi banyak yang masih membuat kalimat dengan model rancu begitu, sama seperti poin 7 pada perjanjian batu tulis yang ada di artikel saya.

        Tapi abaikan, ini bukan poin permasalahan, intinya saya setuju bahwa Jokowi ingkar janji.
        ___________

        Soal perjanjian bersyarat, lagi-lagi soal semantik. Jokowi tidak mengajukan syarat, bahkan tidak menggunakan kata JIKA. Serius, semantik itu penting agar tidak terjadi kesalahpahaman, pun jika dibawa ke pengadilan, yang dilihat pasti kata per kata, karena yang namanya “maksud” dan “niat” tidak bisa dinilai.

        “Ini hanya apa yang ada di kepala saya bila saat itu saya ikutan pemilihan gubernur Jakarta”

        Ya, interpretasi anda terlalu jauh dan di luar konteks kalimat yang diucapkan Jokowi. Saya maklum karena saat itu anda sedang ngefans dengan Jokowi. Tapi lagi, ini adalah pembelajaran bagi kita, mari berbahasa Indonesia yang baik dan benar, kalau ketemu kalimat ngawur seperti yang disampaikan Jokowi segara minta klarifikasi.

        Oke lah, anggap perjanjian itu memang bersyarat dan kita gunakan silogisme anda.

        Pertanyaannya:
        Apakah fair jika Si Anak yang sudah mengerjakan PR namun janjinya dilanggar oleh Sang Ayah? Saya jawab: tentu tidak fair

        Tapi jika pertanyaannya:
        Apakah fair bagi Si Pasien nyawanya diabaikan hanya demi memenuhi janji jalan-jalan pada Sang Anak? Saya jawab: TIDAK

        Ketika kita bicara soal presiden, kita bukan bicara masalah rakyat Jakarta saja, tapi juga tentang nasib seluruh masyarakat Indonesia. Orang-orang di daerah itu mendambakan Jokowi. Mereka ingin pemimpin yang sederhana, merakyat, mau turun ke daerah, tidak punya sejarah buruk terhadap mereka. Apakah fair bagai mereka jika kebutuhan akan pemimpin idaman mereka diabaikan hanya karena memenuhi masyarakat Jakarta yang luas wilayahnya hanya secuil itu? Egois namanya jika orang di Jakarta hanya memikirkan nasib mereka.

        Soal Prabowo, ini sebenarnya ingin saya tulis di artikel saya selanjutnya setelah mendapat lebih banyak bahan, beberapa ingin saya koreksi di tulisan saya sebelumnya, tapi untuk diskusi ini beberapa saya bocorkan saja.

        Quote:
        “Benar Prabowo adalah sosok yang berbahaya BILA kasus penculikan yang dituduhkan kepadanya itu benar adanya

        Memang benar kok, Prabowo mengakuinya, Fadli Zon mengakuinya, Prabowo memang melakukan penculikan pada aktivis.

        Quote:
        “… penculikan yang dituduhkan kepadanya itu benar adanya dan harus mendapatkan hukuman yang setimpal!!!.”
        “bila memang Prabowo penjahat kemanusiaan kita bisa mengusahakan untuk mengkritisi pencapresan Prabowo hingga pencapresannya gagal, …”

        Pemikiran anda terlalu utopis, anda bicara seakan dunia ini sempurna dan teratur. Politikus memenuhi janji, semua penjahat ditangkap polisi, pengemis diberi makan, orang pintar pasti sukses, nabung uang di bank pasti aman, dsb..

        Bangun! Ini bukan saatnya bermimpi, sadarilah bahwa kenyataan itu tidak seindah bayangan anda. Di dunia ini ada banyak penjahat yang menjadi pemimpin dunia, ada Hitler, Stalin, Polpot, Soeharto, jika orang jahat bisa dijegal maka orang-orang itu tidak akan sempat melakukan pembunuhan sebelum bisa memerintahkan sesuatu. Keluarga Ratu Atut, Aceng Fikri, di PDIP anak anak pengemplang BLBI, ada Aulia Pohan yang pernah terlibat korupsi, mereka kini bebas dan sedang bersiap menuju ke Senayan.

        Sistem kita sedang kacau, dan tidak cukup baik untuk mencegah penjahat masuk ke pemerintah, jadi lucu jika anda berharap bahwa Prabowo akan bisa dicegah cukup dengan membawanya ke Mahmakah Militer atau Komnas HAM.

        Lebih dari itu, saya mengatakan Prabowo berbahaya bukan karena masa lalunya, tapi karena ideologi fasis yang dia bawa, Gerindra mengatakan bahwa dia akan membuat jera para penganut aliran agama yang dia anggap menyimpang. Ini sama saja dengan melakukan pemurnian agama, agama versinya dia. Ahmadiyah sesat, ditumpas, Syiah sesat, ditumpas juga, besok-besok penganut mahzab maliki yang ditumpas. Ideologi fasis itu sangat berbahaya, akibatnya bisa sama seperti genosida yang dilakukan oleh Hitler.

        Selain itu saat ini suara Prabowo itu kecil, dia sangat butuh koalisi agar bisa maju, yang model begini jelas akan memunculkan banyak kontrak kontrak politik, dan yang namanya kontrak politik umumnya tidak ideal dan mencederai demokrasi. Lihat bagaimana Prabowo dan Megawati menentukan jumlah menteri dalam perjanjian batu tulis. Betapa menjijikkannya kedua tokoh ini ketika mereka dipercaya masyarakat namun yang dilakukan tidak lebih dari jual beli kursi. Akan sangat berbahaya jika orang model begini sampai terpilih.
        ___________

        Benar bahwa tiap orang punya nilai toleransi yang berbeda terhadap kebohongan. Tapi sekali lagi anda terlalu utopis. Ini politik, dan politik itu kotor? Memangnya apa yang anda bayangkan? Berharap menemukan manusia suci dalam dunia politik itu sama seperti berharap menemukan berlian di pasir pantai.

        SBY berjanji partainya tidak korupsi, eh kadernya sekarang di KPK.
        PKS dulu berjanji kadernya akan mengutamaka akhlak, eh malah ada yang nonton bokep di Senayan.

        Saya masih bersyukur jika seorang tokoh hanya sekadar berbohong atas janji kampanyenya, bukan melanggar sumpah jabatannya, bukan pula melakukan kejahatan menurut hukum, sedang dalam sejarahnya politik itu sangat kejam. Keluarga Ummayah mengarak kepala Husain, Abbasiyah membunuh 90 keluarga Ummayah saat jamuan makan, Majaphit menipu Bali dan Padjajaran saat penaklukan, Ken Arok saling bunuh membunuh 7 turunan, Raden Patah sampai berani menyerah kerajaan Ayahnya sendiri, dll..

        Kita masih berproses, moralitas itu dibangun secara perlahan, ga bisa langsung loncat. Bahkan di negara yang pemimpinnya terkeal jujur seperti Jepang dan negara Skandiavia pun masih ada yang berbohong.
        _____________

        Benar saya melakukan generalisasi, tapi apakah kesimpulan saya prematur?

        Anda mengabaikan fakta bahwa:
        Suara PDIP di Jakarta pada pemilu sebelumnya, baik di 2004 dan 2009 kecil, kalah dari PKS, kalah dari Demokrat, bahkan kalah dari Golkar. Lha kok sekarang bisa nambah 300% emangnya di tahun 2009 itu kader PDIP gak kerja? Emangnya di tahun 2009 Puan Mahari sedang cuti hamil?

        Justru saya melihat sebaliknya, PDIP bukan partai yang begitu disukai, saya tidak suka PDIP, saya tidak suka Megawati, tapi demi Jokowi saya memilih PDIP, bisa jadi orang yang suka Jokowi tidak memilih PDIP karena begitu anti pada partainya sehingga bisa asumsinya orang yang setuju pada Jokowi jumlahnya lebih banyak dari suara PDIP itu sendiri.

        Oke lah, kita jangan menghayal. Kalau mau data survei, ini ada.
        Menurut survei IPI 69% penduduk Jakarta itu setuju Jokowi nyapres, tuh lebih banyak kan..

        Sebelumnya saya bilang bahwa jika rakyat Jakarta ngotot, itu artinya rakyat Jakarta egois, tidak mementingkan aspirasi rakyat di luar Jakarta, dan menurut survei lagi, bahwa 76% rakyat di luar Jakarta setuju Jokowi nyapres.

        http://dekandidat.com/2014/03/18/76-persen-rakyat-indonesia-setuju-jokowi-menjadi-capres/

        Bagi saya ini hanya soal prioritas dan soal pemenuhan aspirasi untuk bisa memaklumi tindakan Jokowi yang mengingkari janji.
        ____________

        Btw anda balas komen saya tapi sama sekali tidak ada notifnya.
        Saran saya, anda bisa menggunakan plugin Jetpack, jadi nanti akan ada pilihan untuk memberikan notif email jika seandainya komentar yang diposting itu dibalas.

        Reply

        • Yos Beda
          12 Mei 2014 @ 12:19:30

          Terimakasih mas Candra atas tanggapannya, berikut jawaban saya atas tanggapan dari mas Candra sebelumnya, semoga menjadi diskusi yang bermanfaat 🙂


          Mas Candra berkata:

          “Iya, saya mengerti kok, dari awal saya mengatakan bahwa memang Jokowi ingkar janji karena makna sesunggunya dari kalimat itu memang berjanji menjabat selama 5 tahun. Tapi yang saya maksudkan tadi adalah soal logika semantik, memaknai kalimat secara rinci kata per kata. Coba cari tahu dulu apa itu logika semantik, biar ga salah paham.

          Tanggapan saya:

          Tadi malam, sebelum saya menjawab komentar mas Candra yang pertama, saya sudah memastikan dulu kok tentang semantik. Sependek pengetahuan saya, Logika Semantik itu tidak ada, adanya Semantik Logika bersama dengan Semantik Behavioris, Semantik Deskriptif, Semantik Generatif, Semantik Gramatikal, Semantik Leksikal, Semantik Historis, Semantik Struktural dan terakhir yang saya pakai/anut di komentar sebelumnya yaitu Semantik kombinatarial (Struktural+Leksikal), bagaimanapun setiap bahasa adalah sebuah sistem, hubungan struktur yang unik antara fonem, morfem, kata, frase, klausa, kalimat.

          Kalau saya tidak salah, yang mas Candra sering ulang-ulang perihal semantik yang pendekatannya “memaknai kalimat secara rinci kata per kata” adalah termasuk dalam Semantik Leksikal, sementara saya menggunakan pendekatan semantik kombinatarial, Sebuah makna ditentukan bukan hanya oleh makna unsur-unsur pembentuknya (leksikal) melainkan juga ditentukan oleh runtutan unsur-unsur pembentuknya (struktural/gramatikal), Oleh karena itu makna sebuah kalimat berupa kombinasi antara makna leksikal unsur pembentuk kalimat dan makna struktural (gramatikal) – Parera, J.D. 2004. Teori Semantik (Edisi Kedua)

          CMIIW ya mas 🙂 , saya bukan ahli bahasa hanya belajar bahasa dari internet, tak menutup kemungkinan yang saya pahami soal Semantik kurang tepat, hehehe

           

          Mas Candra berkata:

          Soal perjanjian bersyarat, lagi-lagi soal semantik. Jokowi tidak mengajukan syarat, bahkan tidak menggunakan kata JIKA. Serius, semantik itu penting agar tidak terjadi kesalahpahaman, pun jika dibawa ke pengadilan, yang dilihat pasti kata per kata, karena yang namanya “maksud” dan “niat” tidak bisa dinilai.

          Tanggapan saya:

          Ini soal mas Candra menanggapi silogisme saya yang ke berapa ya, ke 1, ke 2 atau ke 3 di komentar sebelumnya, saya anggap yang ke 1 ya yang ini:

          Silogisme 1
          Jika Jokowi terpilih jadi gubernur menyelesaikan 5 tahun (mayor)
          Jokowi terpilih jadi gubernur (minor)
          Jokowi menyelesaikan 5 tahun (konklusi)

          Penarikan kesimpulan secara deduktif yang saya berikan di atas harus dilihat garis waktu kapan silogisme tersebut terjadi, biar makna kontekstualnya gamblang, Prof. Sarwiji Suwandi (UNS), dalam salah satu bukunya “Semantik Pengantar Kajian Makna” (2008/Yogyakarta: Media Perkasa) memaparkan bahwa makna kontekstual (contextual meaning; situational meaning) muncul sebagai akibat hubungan antara ujaran dan situasi pada waktu ujaran dipakai.

          Kata “Jika” di atas bisa jadi memang tidak diucapkan secara langsung oleh Jokowi, tapi bagaimana bila simpulan di atas diambil dari sebuah wawancara? bukankah “bagaimana bila, bagaimana jika” adalah sebuah pertanyaan lazim yang digunakan para wartawan dalam mewawancarai narasumbernya?

          Apakah karya jurnalisme mas  Angkasa Yudhistira dari media Okezone, pada Senin, 03 September 2012 ini salah? karena dia menggunakan judul berita dengan kata “jika” sementara di kutipan wawancara isi beritanya Jokowi tidak mengatakan “jika?” Apakah simpulan judul pada berita tersebut menyalahi kaidah-kaidah jurnalisme ~> http://jakarta.okezone.com/read/2012/09/03/505/684079/jika-terpilih-jokowi-janji-tuntaskan-masa-jabatan/large

          CMIIW lagi ya mas, silahkan dikoreksi kalau tanggapan saya di atas ada yang salah, hehehe…

           

          Mas Candra berkata:

          “Ya, interpretasi anda terlalu jauh dan di luar konteks kalimat yang diucapkan Jokowi. Saya maklum karena saat itu anda sedang ngefans dengan Jokowi. Tapi lagi, ini adalah pembelajaran bagi kita, mari berbahasa Indonesia yang baik dan benar, kalau ketemu kalimat ngawur seperti yang disampaikan Jokowi segara minta klarifikasi.”

          Tanggapan saya:

          Maaf mau memastikan dulu, Mas candra tahukan ucapan saya dikomentar sebelumnya;

          Saya berkata: “bagi beberapa pemilihnya di jakarta akan muncul silogisme (3) seperti ini (walau tidak semuanya lho ya, saya tidak mau menggeneralisasi :), ini hanya apa yang ada di kepala saya bila saat itu saya ikutan pemilihan gubernur Jakarta )

          Kalimat di atas adalah sebagai pembuka untuk silogisme ke-3 saya di komentar sebelumnya.

          Silogisme 3
          Jika Jokowi berjanji menyelesaikan 5 tahun jabatan saya mencoblos Jokowi(mayor)
          Jokowi berjanji menyelesaikan 5 tahun jabatan (minor)
          Saya mencoblos jokowi (konklusi)

          Saya memastikan ini biar runtut aja, karena kok saya malah jadi bingung ketika “silogisme ke-3 saya di atas dan paragraf pembukanya dibilang mas Candra terlalu jauh interpretasinya dan keluar dari konteks” saya kok jadi bingung ya.. LOL, interpretasi yang mana? konteks yang mana? maaf mas 😀

           

          Mas Candra berkata:

          Oke lah, anggap perjanjian itu memang bersyarat dan kita gunakan silogisme anda.

          Pertanyaannya:

          Apakah fair jika Si Anak yang sudah mengerjakan PR namun janjinya dilanggar oleh Sang Ayah? Saya jawab: tentu tidak fair

          Tapi jika pertanyaannya:

          Apakah fair bagi Si Pasien nyawanya diabaikan hanya demi memenuhi janji jalan-jalan pada Sang Anak? Saya jawab: TIDAK

          Tanggapan saya:

          Saya melihat “dokter menangani pasien” yang mas Candra utarakan itu kok bermakna ganda (amphyboly) ya, bila kita bedah dengan pengkondisian, bisa saja dokter menangani pasien tak lebih dar 3 jam, atau bahkan hanya satu jam, jadi waktu untuk anak-anaknya yang dijanjikan jalan-jalan sebelumnya masih tetap “eksis” :D, tapi bila pasien membutuhkan sang dokter sehari penuh saya sepakat dengan mas Candra 🙂 *salaman*

           

          Mas Candra berkata:

          “Ketika kita bicara soal presiden, kita bukan bicara masalah rakyat Jakarta saja, tapi juga tentang nasib seluruh masyarakat Indonesia. Orang-orang di daerah itu mendambakan Jokowi. Mereka ingin pemimpin yang sederhana, merakyat, mau turun ke daerah, tidak punya sejarah buruk terhadap mereka. Apakah fair bagai mereka jika kebutuhan akan pemimpin idaman mereka diabaikan hanya karena memenuhi masyarakat Jakarta yang luas wilayahnya hanya secuil itu? Egois namanya jika orang di Jakarta hanya memikirkan nasib mereka.”

          Tanggapan saya:

          Sayapun jadi tergelitik untuk mengomentari “pemimpin idaman mereka” yang mas Candra sampaikan.

          – Benarkah orang-orang di daerah mendambakan Jokowi? ~> bisa iya bisa juga tidak 🙂

          – Benarkah Jokowi pemimpin idaman mereka? ~> bisa iya bisa juga tidak 🙂

          – Apakah Masyarakat hanya mengenal Jokowi dari pemberitaan-pemberitaan tentang beliau di media yang kuenceng abis pada 2-3 tahun belakangan ini saja? sehingga masyarakat sebetulnya tidak mengenal siapa itu Jokowi, program apa yang diusung dll.

          – Apakah faktor “news values” yang melekat pada diri Jokowi bisa saja membuat masyarakat menyukainya hanya karena populer saja karena porsi pemberitaan yang tak berimbang dibanding tokoh lain.. seperti Bapak dan Ibu saya yang pada pemilu nanti akan memilih Om Joko karena populer, hehehe..

           

          Mas Candra berkata:

          “Pemikiran anda terlalu utopis, anda bicara seakan dunia ini sempurna dan teratur. Politikus memenuhi janji, semua penjahat ditangkap polisi, pengemis diberi makan, orang pintar pasti sukses, nabung uang di bank pasti aman, dsb..”

          “Bangun! Ini bukan saatnya bermimpi, sadarilah bahwa kenyataan itu tidak seindah bayangan anda. Di dunia ini ada banyak penjahat yang menjadi pemimpin dunia, ada Hitler, Stalin, Polpot, Soeharto, jika orang jahat bisa dijegal maka orang-orang itu tidak akan sempat melakukan pembunuhan sebelum bisa memerintahkan sesuatu. Keluarga Ratu Atut, Aceng Fikri, di PDIP anak anak pengemplang BLBI, ada Aulia Pohan yang pernah terlibat korupsi, mereka kini bebas dan sedang bersiap menuju ke Senayan.”

          “Sistem kita sedang kacau, dan tidak cukup baik untuk mencegah penjahat masuk ke pemerintah, jadi lucu jika anda berharap bahwa Prabowo akan bisa dicegah cukup dengan membawanya ke Mahmakah Militer atau Komnas HAM.”

          Tanggapan saya:

          Ngga apa-apa deh saya dibilang utopis :), tapi sejarah selama ini telah berbicara memang benar ada para penjahat perang (HAM) atau tirani yang bisa digulingkan atau dieksekusi  lewat kekuatan rakyat, kekuatan media, kekuatan sosial media dll.

          1. Tirani Raja Louis XVI dan istrinya Marie Antoinette dari Perancis dieksekusi 21 Januari 1793

          2. Hosni Mubarak digulingkan ketika revolusi Mesir 2011

          3. Ben Ali, perdana menteri (PM) Tunisia, digulingkan 14 Januari 2011

          4. Saddam Hussein sang diktator Iraq, dieksekusi 30 Desember 2006.

          5. Nicolae Ceausescu, digulingkan dari posisi pemimpin Rumania pada saat revolusi rakyat, Desember 1989.

          6. Ferdinand Emmanuel Edralin Marcos dari Filipina digulingkan pada Revolusi Kekuatan Rakyat pada Februari 1986

          7. Mbah “Piye kabare? Penak Jamanku to!” :p,  sang bapak pembangunan kita digulingkan pada 1998 silam.

          Apakah sudah semua penjahat (HAM) dieksekusi? saya tak membantah bahwa banyak penjahat yang lolos dari hukuman, malah ada dari pihak yang menurut buku sejarah “baik”, ketika mas Candra menyinggung nama dari pihak poros seperti Hitler atau ideologi fasis yang dipopulerkan oleh Musolini, apakah mas Candra tahu betapa berdarah dinginnya Jendral sekutu (AS) Curtis Emerson LeMay, sang mastermind dari taktik low altitude bombing pada kota-kota di Jepang yg mengakibatkan banyak sekali jatuhny korban sipil dan kerusakan yg luar biasa, bahkan kalau saya ngga salah baca, LeMay tidak pernah menyesali apa yg telah dilakukannya terhadap rakyat Jepang dan tidak pernah meminta maaf :'(

          Jadi saya sebenarnya sedikit tersenyum ketika mas bilang saya terlalu Utopis pandangannya, sementara saya sendiri selama ini merasa selalu berdiri pada kaki skeptisisme, sebisa mungkin saya selalu memberi ruang Ketidak pastian (meragukan, mencurigakan) dalam setiap informasi yang saya baca atau dapatkan, termasuk berita soal Jokowi maupun Prabowo, sehingga saya selalu berusaha terus..terus… dan terus mencari literatur atau arsip-arsip pembanding pada berita-berita soal Jokowi dan Prabowo.

           

          Mas Candra berkata:

          “Benar bahwa tiap orang punya nilai toleransi yang berbeda terhadap kebohongan. Tapi sekali lagi anda terlalu utopis. Ini politik, dan politik itu kotor? Memangnya apa yang anda bayangkan? Berharap menemukan manusia suci dalam dunia politik itu sama seperti berharap menemukan berlian di pasir pantai.”

          Tanggapan saya:

          Saya yang mengaku selalu berdiri pada kaki skeptisisme saja kaget lho baca pernyataan mas Candra di atas :), apakah mas Candra termasuk orang yang punya pandangan bahwa semua orang yang ada di gedung DPR tak ada yang baik/jujur? apakah mas Candra berpandangan bahwa semua orang yang duduk di jajaran menteri pemerintahan nanti tak ada yang baik/jujur?

          Saya selalu percaya pada sekumpulan orang-orang yang “kurang baik” ada satu atau dua orang baiknya, seperti keyakinan saya pada Sosok Jokowi dua tahun silam yang saya tuangkan dalam tulisan ini ~> https://www.yosbeda.com/jokowi-jadi-gubernur-jakarta-setangguh-rubah-padang-pasir-kah , terlepas pandangan saya terhadap Jokowi hari ini yang berubah ya, hehehe..

           

          Mas Candra berkata:

          Anda mengabaikan fakta bahwa:

          Suara PDIP di Jakarta pada pemilu sebelumnya, baik di 2004 dan 2009 kecil, kalah dari PKS, kalah dari Demokrat, bahkan kalah dari Golkar. Lha kok sekarang bisa nambah 300% emangnya di tahun 2009 itu kader PDIP gak kerja?Emangnya di tahun 2009 Puan Mahari sedang cuti hamil?

          Tanggapan saya:

          Yang soal hasil pemilu 2004 di DKI jakarta  akan lebih fair bila mas Candra juga memasukan variabel “Kedigdayaan PKS” kala itu di jakarta baik dari Citra, kaderisasi maupun mesin partainya di jakarta, kemudian yang pemilu 2009 di DKI jakarta juga akan lebih adil bila mas Candra memasukan faktor “kehebatan demokrat” kala itu, jadi bukan karena mesin partai PDIP ngga jalan saat itu, namun lebih kepada mesin partai dan citra partai lawannya Demokrat dan PKS yang saat itu lebih unggul, makanya PDIP bisa kalah.

          Bila PDIP sekarang kita saksikan menang besar di jakarta, menurut hemat saya, tak mutlak karena Jokowi Efek saja, melainkan limpahan suara para pemenang terdahulu (PKS dan PD) yang suaranya “nggembos” pada pemilu 2014 ini, ditambah 3 faktor yang saya sebutkan di komentar saya sebelumnya.

          1. Andil dari caleg-caleg PDIP yang tentu punya basis pemilih yang telah “dibina” 😀 #IYKWIM

          2. Pemilih loyal PDIP dari para Soekarnoeis dan Marhaenis, saya ngga tahu persis jumlahnya di jakarta berapa banyak, namun saya asumsikan tak sedikit.

          3. Peran dari Bapilu PDIP di pemilu 2014 yaitu mbak Puan Maharani, yang pintar melihat peluang, dengan membuat kampanye kreatif dan menarik para pemilih muda, yang sebelumnya pemilih muda adalah khas dari pemilihi PKS atau PD, yang kita ketahui adalah pemenang pemilu di DKI terdahulu.

          Sekedar menambahkan, saya tidak menafikan “Efek Jokowi” pada pemilu ini, khususnya di DKI Jakarta, Saya juga tak menyangkal ada warga jakarta yang menginginkan Jokowi nyapres

          Bahkan di paragraf ke-3 artikel asli saya di atas saya menulis: “Ada yang bilang bahwa nyapresnya Jokowi adalah keinginan rakyat, saya tak menyangkalnya, ada sebagian masyarakat yang terpesona dan kagum dengan gaya kepemimpinan Jokowi saat menjadi walikota Solo.”

           

          Mas Candra berkata:

          Justru saya melihat sebaliknya, PDIP bukan partai yang begitu disukai, saya tidak suka PDIP, saya tidak suka Megawati, tapi demi Jokowi saya memilih PDIP, bisa jadi orang yang suka Jokowi tidak memilih PDIP karena begitu anti pada partainya sehingga bisa asumsinya orang yang setuju pada Jokowi jumlahnya lebih banyak dari suara PDIP itu sendiri.

          Oke lah, kita jangan menghayal. Kalau mau data survei, ini ada.

          Menurut survei IPI 69% penduduk Jakarta itu setuju Jokowi nyapres, tuh lebih banyak kan..

          Sebelumnya saya bilang bahwa jika rakyat Jakarta ngotot, itu artinya rakyat Jakarta egois, tidak mementingkan aspirasi rakyat di luar Jakarta, dan menurut survei lagi, bahwa 76% rakyat di luar Jakarta setuju Jokowi nyapres.

          http://dekandidat.com/2014/03/18/76-persen-rakyat-indonesia-setuju-jokowi-menjadi-capres/

          Bagi saya ini hanya soal prioritas dan soal pemenuhan aspirasi untuk bisa memaklumi tindakan Jokowi yang mengingkari janji.

          Tanggapan saya:

          Yang soal survei, kalau dari berita ini ( http://pemilu.tempo.co/read/news/2014/03/19/269563498/69-Persen-Warga-DKI-Setuju-Jokowi-Capres ) survei itu dirilis 18 maret 2014, kurang lebih dua bulan lalu ya, sependek yang saya ketahui sebuah survei hasilnya fluktuatif, apakah data tersebut masih relevan  kita gunakan sebagai materi pada diskusi kita hari ini, 12 mei 2014. masih relevan ngga sih? lho kok jadi malah nanya yos.. LOL

          Sekalian saya mau bertanya, bukan menyanggah hasil survei para pakar survei yang expert itu lho ya ini, hanya mau bertanya saja, saya awam soal survei mas Candra.

          1. Cara pengambilan sampel dalam survei tersebut seperti apa sih?

          A. random kah, apakah acak 10 juta warga jakarta dipilih 400 orang?
          B. Berdasar Proporsi, 400 sampel mewakili kecamatan, misal setiap kecamatan dipilih sekian orang, secara acak.
          C. Berdasar klaster, berdasarkan tingkat pendidikan,atau yang lain?

          2. Tarohlah pengambilan sampelnya benar, apakah jumlah 400 sampel yang disebutkan tersebut benar-benar pantas mewakili penduduk Jakarta yang jumlahnya sekitar 10 juta-an orang?

          Lagi lagi menurut hemat saya yang miskin ilmu statistika ini, hehehe… potensi terjadinya bias data kok relatif tidak kecil ya, 400 sampel dari 10 juta orang 😀

          Mohon pencerahannya mas Candra, kali aja saya dapat pengetahuan baru setelah mas Candra jelaskan..

          Diskusi yang baik adalah diskusi yang banyak manfaatnya daripada mudaratnya, betulkan mas, hehehe..

          Salam

          Rated E Blogger

          Reply

  4. wwjd
    12 Mei 2014 @ 00:34:37

    Jgn mdh terbawa arus kata2 negative org yg tdk mampu mjd pemimpin, sehingga bisa nya hanya menjelek2kan org lain dan menganggap diri ttap mulia dan berhati baik dgn alasan uneg2. Kasian sih Sama org sprti ini. Diri sndri aja blm tentu benar.. Jgn sk judge org lain.

    Reply

    • Yos Beda
      12 Mei 2014 @ 12:48:43

      Sebelumnya maaf mas/mbak ,bila ada salah-salah kata, atau yang tidak berkenan dari tulisan saya di atas, bila tulisan saya tersebut mas/mbak interpretasikan sebagai penghinaan terhadap orang lain, saya tak ada maksud untuk itu, alangkah bijaknya bila mas/mbak membaca kembali tulisan saya tersebut pelan-pelan, adakah hinaan yang saya lontarkan atau anggapan bahwa saya sebagai penulis adalah orang yang mulia? 🙂

      Reply

  5. fauzi
    12 Mei 2014 @ 00:49:05

    Mencermati tulisan ini beserta komen2 nya sangat menarik..yg saya salut mas yos menanggapi semua komen yg masuk dan merepon komen yg menjatuhkan dg bahasa yg santun dan data yg valid shg membuat “lawan” nya mjd tak berkutik dan tdk melanjutkan manuver mrk..tetap berkarya mas dg intelegensi anda..

    Reply

    • Yos Beda
      12 Mei 2014 @ 16:03:15

      Makasih mas Fauzi atas apresiainya, saya berusaha berhati-hati dalam menulis maupun menjawab setiap komentar, biar ngga ada yang tersakiti, tau sendiri kan kekuatan sebuah kata atau kalimat kadang bisa setajam pisau, hehehe… Dalam tulisan saya di atas saya berusaha agar tidak melebar topiknya, yaitu hanya kekecewaan saya pada mantan idola saya dalam soal “kejujuran-nya” saja.. Jadi hal yang biasa kok, ketika data yang saya punyai cukup kuat dan akurat, di era digital seperti sekarang ini setiap ucapan tindakan atau perbuatan bisa terdokumentasi dengan jelas dan tersimpan rapi di dunia maya selama file tersebut tidak dihapus :), dah kek buku catatan malaikat.. hehehe.. terimakasih sekali lagi ya mas Fauzi, telah mampir dan sudi meninggalkan komentar yang positif 🙂

      Reply

  6. atmo
    12 Mei 2014 @ 11:58:02

    Entah dibayar atau tidak dibayar, tulisan macam ini memancing orang berpendapat karena opini yang dilontarkan sangat tulus. Dan yang penting, seluruh komen dibaca dan ditanggapi dengan serius oleh penulis (salute!!)
    Aku seneng dengan perbedaan pendapat macam ini, membuat orang jadi mulai berpikir sendiri. BIla akhirnya memilih salah satu calon, nantinya bukan karena ikut-ikutan namun karena punya alasan dan prinsip sendiri.
    Salam kawan
    ATMO

    Reply

    • Yos Beda
      12 Mei 2014 @ 16:09:22

      Makasih mas Atmo, kawanku dari komunitas blogger bengawan (Solo)
      Terimakaih mas, telah meninggalkan komentar yang positif dan membangun, semonga pembaca-pembaca lain tulisan saya ini juga terispirasi bahwa sebuah perbedaan pendapat itu hal yang positif, Tak perlu marah-marah bila berbeda karena akan lebih indah bila kita selalu bisa mengedepankan dialektika di antara kita yang berbeda pemikiran atau pandangan, hehehe..

      Reply

  7. kerja online
    14 Mei 2014 @ 13:26:41

    bener banget mas yos padahal saya sangat ,mengagumi dan mendukung jokowi….tapi semoga nantinya negara ini jadi negara maju…siapapun pemimpinnya

    Reply

    • Yos Beda
      14 Mei 2014 @ 15:18:13

      Iya mas, semoga siapapun presidennya Indonesia bisa menjadi lebih baik dan lebih hebat dari sekarang 🙂

      Reply

  8. Caldenni
    14 Mei 2014 @ 15:00:42

    Kalau kita lihat realita nya, kayaknya sudah hampir pasti Jokowi menang nih. Apalagi pak Prabowo pasangannya Hatta Rajasa yang notabene elektabilitasnya ga sebagus lawan. Awalnya saya mau milih dia, tapi kok lihat cawapres nya jadi nda pede….

    Ane sendiri ada di pihak orang-orang yang mendukung Jokowi 4 Gubernur… Ane ngerasa pencapresan Jokowi bener2 dipaksakan PDIP (sudah bosan jadi oposisi, mungkin?). Beliau masih harus di ‘matang’ kan dalam pertarungan di Jakarta sebelum total ngurus Indonesia.

    Kecewa? Iya. Sejujurnya ane berharap si Jokowi diusung partai selain PDIP… Akhirnya saya pilih siapa? Tergantung pergerakan Demokrat. Moga2 mereka mau ngeluarin Dahlan Iskan digabung sama Mahfud MD. Harapan yang mustahil? Bisa ya, bisa tidak.

    Reply

    • Yos Beda
      14 Mei 2014 @ 15:36:49

      Iya mas Denni, memang elektabilitas pak Hatta relatif rendah, namun saya pikir itu juga pilihan yang tidak terlalu buruk, pilihan Gerindra sangat terbatas, dengan suara yang hanya 12% Gerindra ngga bisa milih suka-suka hati kaya PDIP yang dari awal sudah ditutup lubangnya sama Nasdem, sementara gerindra? kita tentu masih ingat buat narik PPP masuk ke koalisi saja harus lewat prahara ketum dan sekjennya PPP 😀

      Dengan waktu yang semakin mepet ditambah tidak ada titik temu dengan Golkar bersama Icalnya, ya wis milih Hatta saja.. pak Hatta bisa jadi diterima di mata partai koalisi kawan gerindra lain, PPP dan PKS, kalau gerindra itu orang mungkin dalam hati bilang “ambil ini aja daah, daripada ngga maju sama sekali…!” hehehehe 😀

      Saya ngelihat Prabowo bisa saja menang pemilu presiden bila hari-hari ini sampai hari pencoblosan nanti bisa dimanfaatkan untuk mengklarifikasi atau memainkan opini tentang “cacat bawaan” yang dibawanya sejak dulu yaitu soal penculikan itu (terlepas prabowo salah atau tidak ya), kalau ngga ya bisa kalah telak nanti Prabowo, apalagi kalau “cacat bawaaan” ini dimainkan oleh pihak lawan.. selesai deh.. “Prabowo Berjasa” 🙂 IMHO

      Reply

  9. nadia
    21 Mei 2014 @ 08:18:35

    bener mas saya dulu, jagoin Jokowi waktu lawan si “Kumis” enggak peduli dia dikatain gila kekuasaan “Solo aja belum beres” tapi sekarang saya ogah, jadi ingat waktu Jokowi ditanya apakah akan nyapres ? “ini aja belum beres” Ahok pun ditanya ” Jokowi lebih baik nyapres apa jadi Gubernur Jakarta dulu”, Ia pun menjawab “jadi gubernur dulu” (saat diTrans TV).
    Tapi sekarang ? kok nyapres, alasannya kalo Jokowi jadi presiden akan lebih mudah mengatasi Jakarta, khususnya banjir jadi enggak apa-apa meninggalkan janji terdahulu. sekarang coba berpikir saat ia maju sebagai Gubernur Jakarta, apakah lebih bisa mengatur Solo ?
    Jokowi memang enggak tegas untung ada Ahok yang super, soal nepatin janjinya ?
    kalo mau benahi Jakarta, berani tolak dong “Gue pasti pilih anda, pemilu mendatang”

    Reply

    • Yos Beda
      21 Mei 2014 @ 14:50:57

      Makasih mbak nadia sudah berbagi pengalaman dan keluh kesahnya, hehehe, Saya jadi tertarik pandangan mbak nadia soal Ahok, yang saya tangkap mbak Nadia masih menaruh harapan besar pada sosok Ahok ya, sama seperti saya, sekitar beberapa waktu lalu, ketika melihat Ahok kinerja serta aksinya yang “sat-set..bat-bet..” (bahasa jawa: cekatan) menurut pandangan saya keren, saya sempet sebel sama Ahok, kenapa? karena Ahok kok lebih bagus dari Jokowi ya, sebagai penggemar Jokowi saat itu seakan ngga rela, hehehehe..

      Tapi sekarang saya senang melihat Ahok, meskipun kemungkinan besar bakal ditinggalkan Jokowi, Jakarta saya pikir akan bisa jadi lebih baik di tangan pak Ahok, tak perlu juga berharap muluk-muluk apa nanti peran Jokowi ketika jadi RI 1 buat DKI Jakarta, selama Ahok tetap “trengginas” seperti sekarang ini pastilah dia akan jadi Gubernur yang 100 kali lebih baik dari Jokowi, semoga pak Ahok tak mengumbar janji A,B,C,D ya, ntar malah ribet kalau ngga bisa menepati.. hehehe

      Reply

  10. rakyat biasa
    21 Mei 2014 @ 12:40:21

    Saya hanya rakyat biasa yg ingin indonesia jadi lebih baik. Ijinkan saya ikut menyampaikan pandangan saya ya mas.
    Saya yakin sekali dalam hati pak jokowi ingin menuntaskan tugas jabatannya sbg gubernur dki selama 5 tahun. Tapi dalam hati kecil dan pikiran kecil pak jokowi saya yakin dia terusik dgn pilihan yg ada. Saya rasa dia memiliki tanggung jawab moral yg besar thdp bangsa ini. Mungkin beliau melihat sosok prabowo yg belum kapabel utk memimpin bangsa sebesar indonesia ini. Pengalaman pak prabowo belum ada sama sekali di pemerintahan. Bahkan di militer jg tidak selesai karena kasus HAMnya. Ini mungkin yg menurut saya mendorong pak jokowi utk maju demi membangun indonesia utk kepentingan yg lebih banyak tanpa mengorbankan kepentingan yg lebih kecil yaitu warga jakarta. Kerangka kerja pemda dki utk 5 tahun ke depan sudah direncanakan dan dirumuskan bersama2 dgn wakilnya yaitu pak ahok dan ada sebagian proyek yg sudah berjalan dan bahkan sudah selesai. Dan saya melihat di sini kapasitas ahok utk meneruskan tugas jokowi juga sama baiknya dgn jokowi sendiri. Bahkan kalau boleh saya berikan penilaian pribadi, pemikiran2 ahok kadang lebih cemerlang dari jokowi. Jadi utk apa warga merasa takut kalau jokowi jadi presiden? Saya pikir alasan2 itu murni hanya dimunculkan sebagai black campaign. Demikian kurang lebih pandangan dari saya. Trimakasih.

    Reply

    • Yos Beda
      21 Mei 2014 @ 14:53:23

      Terima kasih mas rakyat biasa telah berkunjung ke blog saya dan sudi meningglkan sudut pandangnya soal Pak Jokowi 🙂
      Lagi-kagi saya tertarik dengan pernyataan mas tentang Ahok ya, seperti di komentar sebelum mas, yaitu mbak Nadia juga sangat berharap pada Ahok..
      Ketika anda bilang “saya melihat di sini kapasitas ahok utk meneruskan tugas jokowi juga sama baiknya dgn jokowi sendiri” saya malah melihatnya Ahok bisa lebih dari Jokowi, kita lihat saja kedepannnya seperti apa ya, semoga lebih baik 🙂

      Reply

Tinggalkan Balasan