Lari 10K Mulai Dirutinkan, Agar Si Diabetes Tak Jadi Teman

Oleh: - 12 Maret 2020  |

Instagram

Tes Gula Darah
Tes Gula Darah (Canva)

Para pembaca dan kawan-kawan blogger yang rajin berkunjung ke blog saya mungkin sadar bahwa beberapa tahun ini saya kerap menulis postingan tentang penyakit atau hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan. Itu bukan kebetulan sih, saya kini memang melihat kesehatan sebagai hal paling penting dalam hidup. Tak heran bila ditanya, “apa resolusimu?” pada setiap awal tahun, saya bakal selalu menjawab “senantiasa diberikan kesehatan” atau kalau orang Jawa bilang, “tansah pinaringan kesarasan.” Jawaban seperti itu yang bakal saya lontarkan setiap kali ditanya “apa resolusimu?” di bulan Januari setiap tahunnya.

Keinginan untuk senantiasa diberkahi nikmat sehat tentu harus diiringi dengan ikhtiar, tak hanya diam diri begitu saja lalu tiba-tiba selalu sehat. Jangan sampai obsesi untuk selalu sehat malah dibarengi dengan pola hidup yang tidak sehat atau merusak diri. Alhamdulillah, seiring dengan pandangan saya pada kesehatan yang kini jadi prioritas utama, saya pun beberapa tahun belakangan mulai menjalani hidup sehat. Apakah susah menjalani hidup sehat? hmm.. sepertinya jawabannya relatif. Saya dulu memulai hidup sehat dimulai dari menghindari aktivitas-aktivitas yang merugikan kesehatan, salah satu contohnya merokok.

Saya sudah berhenti merokok sejak 2013 silam, tak terasa sudah tujuh tahun berlalu dan saya berhasil melaluinya. Langkah berikutnya yang saya tunaikan adalah mengatur pola makan. Saya sendiri bukan ahli gizi dan nutrisi, tapi setidaknya tahulah makanan dan minuman apa saja yang baik dikonsumsi dan mana yang tidak. Beberapa makanan yang saya kurangi seperti “lemak-lemakan” serta minuman yang terlalu banyak gula. Jujur saja kalau sampai stop makan lemak-lemakan atau minum gula saya sih tidak bisa ya, hanya mengurangi saja dan saya yakini itu sudah lebih baik. Kan yang penting bisa mengontrolnya, tidak berlebihan dalam mengonsumsi.

Baca juga:

Urusan perut beres, beralih ke soal kebugaran, yakni olahraga yang cukup. Sejak tahun 2017 saya mulai aktif berlari lagi setelah rehat lebih tiga tahunan. Iya, saya sebenarnya sudah lari-lari pendek 3-4K medio 2012-2014, tepatnya waktu masih bekerja di Solo. Sayang aktivitas lari itu mandek ketika saya resign dan menjalani aktivitas sebagai full-time blogger. Sejak bekerja dari rumah, saya terlalu nyaman jadi “anak rebahan” hingga tak sempat untuk berolahraga lagi sama seperti 2-3 tahun sebelumnya. Syukurlah pada tahun 2017 seperti mendapat hidayah untuk kembali berlari lagi, salah satu olahraga paling simpel dan tidak ribet untuk dijalani.

Per tahun 2020 ini saya mulai membiasakan untuk berlari 10K setiap 2-3 hari sekali. Sebelumnya, dari tahun 2017 hingga akhir 2019, saya berlari 5K saja setiap hari. Kalau dihitung-hitung jarak tempuh per minggunya sih mirip mirip-mirip saja, 30-35K, hehe. Meski baru beberapa minggu lari 10K setiap 2-3 hari sekali, saya merasa aktivitas tersebut tidak memberatkan. Mungkin tidak terasa berat lantaran sudah terbiasa lari 5K setiap hari. Berangkat dari hal tersebut, saya mengamini ungkapan populer “bisa karena terbiasa”. Kebiasaan lari 5K setiap hari selama 2-3 tahun belakangan bisa memuluskan proses “hijrah” saya dari lari 5K ke 10K.

Saya Lari 10K
Saya Lari 10K (dok. pribadi)

Sejak rutin lari 10K, motivasi saya untuk terus berlari makin tinggi. Sebelumnya, waktu lari 5K saya tak pernah bawa perangkat GPS untuk tracking, melainkan hanya pakai stopwatch di ponsel yang saya tinggal di rumah. Kini setelah mulai 10K, saya bawa sport watch untuk mengukur catatan waktu, pace, heart rate, cadence dll. Dengan adanya data-data tersebut, saya bisa tahu apa saja yang kiranya perlu diperbaiki dalam aktivitas lari saya. Pasalnya, sampai detik ini saya sendiri tidak yakin dengan cara berlari saya sudah benar atau belum. Malu juga kalau misal ikut event lari, eh cuma asal lari cepat doang tanpa memperhatikan kaidah-kaidah berlari.

Kini tinggal memetik hasilnya! ungkapan itu yang kini selalu bisa membuat diri saya puas dan tak henti-hentinya termotivasi. Kebiasaan menjalani pola hidup sehat serta rajin berolahraga membuat saya merasa makin sehat, baik itu sehat fisik maupun sehat mental. Sebagai seorang full-time blogger, dua pilar kesehatan yang saya sebutkan di muka sangat-sangat penting. Bila fisik dan mental saya tidak sehat, tentu kreativitas saya dalam menulis akan tumpul, produktivitas pun mandek. Sehat finansial yang selama ini terjaga lewat produktivitas konten pun akan goyah, bahkan berpotensi collapse.

Tak puas dengan manfaat yang telah dirasakan sendiri, kadang ada beberapa efek positif lari yang tanpa disadari telah hadir di diri kita. Sering saya iseng-iseng Googling dengan katak kunci semacam, “manfaat lari 5K”, “manfaat lari 10K”, dan semacamnya. Menariknya, saya hampir selalu menemui “mencegah diabetes” adalah salah satu manfaat dari rajin olahraga lari, baik langsung maupun secara tidak langsung. Manfaat secara tidak langsung itu seperti lari yang bisa mencegah obesitas, sementara obesitas kan salah satu penyebab diabetes. Tak mengherankan bila beberapa event lari di tanah air sering mengkampanyekan pencegahan atau melawan diabetes.

Sun Life Resolution Run 2020
Sun Life Resolution Run 2020 (resolutionrunindonesia.com)

Salah satu even lari yang mengkampanyekan pencegahan atau melawan diabetes adalah Sun Life Resolution Run 2020. Event lari yang berlangsung di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang Selatan, pada Minggu, 12 Januari 2020 silam merupakan gelaran kedua sejak tahun 2019. Sun Life Resolution Run 2020 sendiri merupakan puncak dari rangkaian kampanye #LiveHealthierLives PT Sun Life Financial (Sun Life Indonesia). Event tersebut juga selaras dengan pesan yang selalu digaungkan Sun Life Indonesia, yakni #TeamUpAgainstDiabetes dan #ResolutionRunID.

Mencegah dan mengatasi diabetes dengan berlari menurut saya jadi salah satu metode yang baik dan nyaman. Bagaimana tidak, ketika level berlari kita sampai pada tahap menikmati atau melihat lari sebagai aktivitas senang-senang, tentu sangat nyaman menjalaninya. Akan makin sempurna jika pola hidup sehat dengan mengatur pola makan tetap terjaga juga, yakni dengan selalu ingat dan update tentang makanan diabates alias makanan apa saja yang bisa mencegah diabetes serta makanan apa saja yang harus dikonsumsi jika sudah terlanjur kena diabates

Berita Terkait.

10 Komentar

  1. serri
    12 Maret 2020 @ 18:41:09

    q jg bbrp bulan ni nyoba lari kak
    tmn2 bnyak yg lari ikutan

    Reply

    • Yos Beda
      13 Maret 2020 @ 06:43:33

      Selama itu positif, ikut2an tren kenapa tidak, hehehe

      Reply

  2. Dedi
    12 Maret 2020 @ 20:11:24

    Prnah baca jg bang, katany olahraga efektif nyegah diabet

    Reply

    • Yos Beda
      13 Maret 2020 @ 06:43:58

      Seperti saya tulis di atas, saya pun ketika Googling2 ketemunya hal yang sama 🙂

      Reply

  3. Arta
    12 Maret 2020 @ 22:56:48

    Tiap kota skrang itu hampir slalu punya event lari ya mas hahahaha

    Reply

    • Yos Beda
      13 Maret 2020 @ 06:44:34

      Iyak, sejak 2-3 tahun lalu malah setahu saya

      Reply

  4. Hanie Lim
    14 Maret 2020 @ 17:41:41

    lari biar tak capek tu gimana to mas yos. q lari baru ratusan meter uda brenti g kuat hahahahaha

    Reply

    • Yos Beda
      18 Maret 2020 @ 11:30:17

      Jangan ngegas di awal atau kilometer 1-2. Kalau aku sih itu triknya kak 🙂

      Reply

  5. Dirga Putra
    15 Maret 2020 @ 12:46:39

    Kalau aku alhamdulillah sudah dari SMA rajin lari bro

    Reply

Tinggalkan Balasan