Menulis Lagu ‘Kehidupan Kedua’, Berkisah Tentang Cinta Beda Agama

Oleh: - 20 Februari 2015  |

Instagram

Kehidupan Kedua
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua, itulah judul lagu yang saya tulis sekira setahun lalu, Februari 2014. Lagu Kehidupan Kedua berkisah tentang kisah asmara antara dua anak manusia dengan kepercayaan (agama) berbeda. Adalah Zein, tokoh utama dalam lagu Kehidupan Kedua, Zein merupakan seorang pria muslim 25 tahun. Sejak tahun 2010 silam, Zein menjalin hubungan asmara dengan Lea, seorang wanita Kristen berusia 24 tahun. Empat tahun bersama, Zein dan Lea mulai menyadari bahwa semakin lama mereka akan bersama, maka jurang terjal yang memisahkan mereka semakin terlihat nyata.

Sejak hari pertama mereka menjalin hubungan asmara, mereka sebenarnya sudah menyadari bahwa ada pagar penghalang besar di antara mereka, yakni perbedaan agama. Namun empat tahun silam, ketika usia mereka masih terbilang muda, mereka selalu berpikir bahwa semua persoalan bisa dibuat mudah, sehingga tanpa ragu mereka berdua tetap memutuskan untuk menjalin cinta. Pada awalnya, hubungan mereka mengalir saja, bahkan Zein dan Lea tidak menyangka bahwa hubungannya bisa berjalan hingga 4 tahun.

Baca juga:

Memasuki tahun 2014, atau saat mereka berdua sudah dalam usia matang untuk melangkah lebih jauh ke hubungan serius, kebuntuan mulai menghinggapi Zein dan Lea. “Bahasa Cinta” yang dulu mereka yakini bisa menyelesaikan segala masalah, pada praktiknya tidak bisa menemukan jalan keluar dari jurang perbedaan yang memisahkan mereka berdua. Bukankah mereka bisa pindah agama dan mengikuti kepercayaan pasangannya? Iya, opsi itu memang ada, namun mereka masukkan itu dalam urutan terakhir daftar solusi mereka.

Ya sudah putus saja! Tidak semudah itu tentunya, mencintai satu orang yang sama dalam empat tahun terakhir tentu tidak akan mudah melupakannya.Pada akhirnya, Zein memilih untuk mengkahiri hubungannya dengan Lea. Zein mengambil keputusan itu dengan pertimbangan yang sangat matang. Sebenarnya bisa saja Zein mengajak Lea untuk mengikuti kepercayaannya, pun juga sebaliknya. Mereka berdua sempat berpikir rela menjadi manusia berlumur dosa demi tetap bisa bersama.

Di balik keputusan Zein mengakhiri hubungan itu, ada hal yang mungkin lebih besar dari pahala-dosa atau-surga neraka. Di mata Zein, cinta itu tidak seharusnya menyakiti orang-orang sekitarnya, terlebih orangtua mereka. Orangtua mana yang rela melihat anak-anaknya meninggalkan kepercayaan yang telah mereka ajarkan sejak anak-anaknya tersebut masih kecil. Orangtua, dalam keyakinan Zein, selalu punya mimpi melihat anaknya sukses dan bahagia, dimana salah satunya adalah saat melihat anak bisa berjalan seiringan di jalan yang sama dengan orangtua.

Zein sebenarnya tetap meyakini bahwa bila dia bisa mengajak Lea mengikuti kepercayaanya, itu adalah sebuah kebenaran dari kacamata keyakinan (agamanya). Namun, dengan bahasa ‘rasa’, Zein coba memposisikan dirinya bila berada di posisi orangtua Lea. Zein juga mencoba untuk memposisikan dirinya jadi orangtuanya sendiri, bagaimana rasanya ketika melihat putranya pindah keyakinan. Hal-hal seperti itu menjadi pertimbangan utama Zein dalam mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan.

Zein pun akhirnya hanya bisa meyakini atau setidaknya menghibur diri sendiri dengan berharap bahwa Tuhan akan meciptakan kehidupan kedua buat dirinya dan Lea, kehidupan dimana dirinya dan Lea tidak terpisahkan jurang berbedaan keyakinan. Mungkin memang bukan di ruang dan waktu (dimensi) ini mereka bisa bersama dalam hangatnya rumah cinta, namun nanti, di kehidupan kedua, bila memang ada. Bila surga dan neraka serta jagat raya saja bisa Tuhan ciptakan, bukanlah perkara yang sulit bagi Tuhan untuk menciptakan satu dunia untuk dua makhluk ciptaannya saja.

Zein tidak pernah menyesali takdir yang dituliskan Tuhan kepada dirinya, takdir yang mengharuskan dia bertemu dengan Lea, takdir yang membuat waktu empat tahunya seakan terbuang sia-sia, takdir yang membuatnya harus menyakiti satu orang wanita demi tidak tersakitinya orang-orang di sekitar mereka. Satu harapan dan keyakinan Zein terhadap Lea, Lea pasti akan sadar bahwa dirinya di dunia ini tidak sendiri, sehingga setiap keputusan-keputusan yang akan dia ambil sebisa mungkin tidak akan menyakiti orang-orang terdekatnya, terutama ayah dan ibunya.

** Perspektif yang dipakai Zein, tokoh utama di lagu di atas tidak mewakili sepenuhnya pandangan saya sebagai pencipta lagunya ya. Soal Zein yang meyakini adanya cyclic life biarlah jadi pertanggungjawaban dia sebagai manusia dengan Sang Pencipta. 🙂

Berita Terkait.

40 Komentar

  1. resep masakan indonesia
    30 September 2015 @ 17:49:31

    apa bisa beda agama menjadi 1 cinta

    Reply

  2. resep kuliner
    6 Oktober 2015 @ 18:29:57

    hemm temen ku beda agama tapi dya menikah ., apa itu boleh ya

    Reply

  3. resep masakan
    7 Oktober 2015 @ 18:00:13

    hemm pengalaman

    Reply

  4. adit
    20 Mei 2017 @ 15:38:34

    Istriku Dulu muslim skrg jadi org nasrani
    dia bilang
    Aq g peduli apapun yg terjadi biar orang banyak membenciku aq tetap kan memilihmu menjadi suamiku dan aq bahagia dengan mu
    aq lebih milih cinta kamu dengan segenap hatiku dr pada milih agamaku .
    aq yakin hanya denganmu aq bahagia
    kini kami pny anak 1 dan istriku rajin banget ikut kegiatan digereja yg dmn ia tidak pernah dapatkan sebelumnya

    Reply

Tinggalkan Balasan